Jakarta, MINA — Pemerintah menargetkan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah ibadah serta fasilitas pendidikan keagamaan yang terdampak bencana alam di wilayah Sumatra dapat rampung sebelum memasuki bulan Ramadhan. Upaya percepatan ini dilakukan agar masyarakat terdampak dapat kembali beribadah dengan layak dan aktivitas pendidikan keagamaan berjalan normal.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam Sumatra yang digelar di Kementerian Dalam Negeri, Senin (26/1). Rapat dihadiri sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara sebagai bagian dari penguatan sinergi lintas sektor dalam penanganan dampak bencana.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa Kementerian Agama (Kemenag) telah menyalurkan bantuan tanggap darurat sebesar Rp75,82 miliar kepada wilayah terdampak. Bantuan tersebut bersumber dari APBN sebesar Rp66,47 miliar serta dana himpunan Kemenag Peduli sebesar Rp9,35 miliar.
“Dana ini kami fokuskan untuk mendukung pemulihan layanan keagamaan, pendidikan keagamaan, serta kebutuhan sosial dan spiritual masyarakat terdampak bencana,” ujar Menag.
Baca Juga: Anies Baswedan Desak Indonesia Keluar dari BoP Bentukan Trump
Dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi, Kemenag menetapkan sektor pendidikan keagamaan sebagai prioritas utama. Tercatat 562 madrasah, 1.033 pesantren, serta 17 perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) mengalami kerusakan dan masuk dalam program rehabilitasi prioritas.
Menag menjelaskan, pelaksanaan rehabilitasi fisik madrasah dan pesantren dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum, mengingat kewenangan pembangunan fisik berada di kementerian tersebut.
“Dari sisi Kemenag, anggaran dan surat perintah pelaksanaan sudah siap. Saat ini kami menunggu eksekusi teknis di lapangan, terutama terkait akses jalan dan jembatan yang masih rusak,” jelasnya.
Selain sektor pendidikan, Kemenag juga memprioritaskan rekonstruksi 1.593 rumah ibadah lintas agama, termasuk kantor layanan Kementerian Agama di daerah terdampak.
Baca Juga: Harga Jual Emas Hari Ini, Jumat 6 Maret 2026
Menag mengakui bahwa anggaran pembangunan rumah ibadah di Kemenag relatif terbatas. Namun melalui gerakan Kemenag Peduli yang melibatkan BAZNAS, Badan Wakaf Indonesia (BWI), lembaga keuangan syariah, serta jejaring organisasi keagamaan, Kemenag berhasil menghimpun dana tambahan untuk mendukung pembangunan kembali masjid, mushala, gereja, dan rumah ibadah lainnya.
“Dana ini kami arahkan agar rumah ibadah bisa kembali digunakan, terutama menjelang Ramadhan, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang,” kata Menag.
Tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, Kemenag juga menjalankan program pemulihan sosial, mental, dan spiritual bagi masyarakat terdampak. Program tersebut meliputi pendampingan sosial-keagamaan, layanan konseling rohani, pengiriman dai dan tokoh agama lintas iman, serta distribusi puluhan ribu mushaf Al-Quran dan kitab suci agama lain yang rusak akibat bencana.
“Kami menyadari bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun gedung. Masyarakat juga membutuhkan ketenangan batin dan penguatan spiritual,” ungkap Menag. []
Baca Juga: [Bedah Berita MINA] Serangan Gabungan AS–Israel ke Iran, Apa Dampaknya?
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic