Pemuda Lintas Agama Kumpul di Hutan Sentul Bahas Krisis Iklim

Kegiatan perkemahan tokoh pemuda lintas agama bertajuk "Forest and Climate Youth Leadership Camp" ini digelar IRI Indonesia di kawasan hutan wisata Eco Edu Sentul Tourism Forest, Sentul, Bogor, pada Sabtu-Ahad, 1-2 Juni 2024.(Foto: IRI Indonesia)

Sentul, Bogor, MINA – Puluhan pemuda dari berbagai latar belakang agama berkumpul di kawasan hutan wisata Eco Edu Sentul Tourism Forest, Sentul, Bogor, pada akhir pekan untuk membahas krisis iklim global.

Acara bertajuk “Forest and Climate Youth Leadership Camp” yang diselenggarakan Sabtu-Ahad, 1-2 Juni 2024 ini digelar Prakarsa Lintas Agama untuk Pelestarian Hutan (Interfaith Rainforest Initiative/IRI) Indonesia dengan dukungan Climate Realty Indonesia sebagai pendukung kegiatan dalam mengkonsep dan memfasilitasi pelatihan tersebut.

Pertemuan perkemahan tokoh pemuda lintas agama ini tidak hanya menjadi ajang diskusi tetapi juga mengadakan berbagai kegiatan seperti penanaman pohon, workshop tentang energi terbarukan, dan rencana tindak lanjut semua peserta.

Fasilitator Nasional IRI Indonesia Dr. Hayu Prabowo mengatakan kepada MINA, Selasa (4/6), melalui acara ini, pemuda lintas agama berharap dapat menemukan solusi bersama untuk mengatasi krisis iklim yang semakin mengancam kehidupan di bumi.

“Kegiatan ini sebagai salah satu upaya untuk melindungi dan melestarikan hutan tropis yang sampai saat ini tersisa 6 persen di muka bumi. Indonesia sebagai salah satu dari lima negara pemilik 70 persen hutan tropis dunia memiliki kewajiban menjaganya,” kata Hayu.

Baca Juga:  Sejak Perang Gaza, 8.663 Tentara Zionis Masuk ke Departemen Rehabilitasi

Dalam acara tersebut, Hayu memaparkan tiga tujuan utama IRI Indonesia, yakni pertama, meningkatkan kesadaran akan krisis deforestasi hutan tropis dengan membekali para pemuka agama dengan ilmu pengetahuan, informasi, dan alat untuk berfungsi sebagai advokat yang efektif untuk perlindungan hutan hujan tropis.

“Kami telah mengembangkan panduan sumber daya, primer, dan lembar fakta dengan ilmu pengetahuan dan penelitian terbaru tentang hutan, perubahan iklim, dan hak-hak masyarakat adat,” jelasnya.

Kedua, memobilisasi aksi berbasis agama dengan menghubungkan para pemimpin agama dengan sekutu dari semua sektor untuk melipatgandakan dampak kolektif mereka.

Ketiga, mengadvokasi kebijakan yang melindungi hutan dengan mendorong pemerintah dan perusahaan untuk mengadopsi, menghormati, dan memperluas komitmen mereka untuk melindungi hutan tropis dan hak-hak masyarakat adat.

Salah satu peserta, Ibrahim Hamdani, seorang aktivis pemuda remaja masjid dari Jakarta, mengatakan, “Ini adalah waktu yang tepat untuk bersatu, melupakan perbedaan, dan bekerja sama demi masa depan yang lebih baik. Kita harus mengambil langkah konkret untuk mengurangi jejak karbon dan mendorong penggunaan energi terbarukan.”

Baca Juga:  Setelah Pembubaran Dewan Perang, Warga Israel Tuntut Pemilu Baru

Dipenghujung kegiatan, panitia memberikan materi Rencana Tindak Lanjut (RTL) serta beberapa tugas kepada para peserta agar segala imu dan pengalaman dalam kegiatan ini bisa langsung diaplikasikan.

Acara ini ditutup dengan deklarasi bersama yang menyerukan pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Mereka juga mengajak lebih banyak pemuda untuk bergabung dalam gerakan lingkungan dan berkontribusi pada pelestarian alam.

Prakarsa Lintas Agama Untuk Hutan Tropis (IRI Indonesia) merupakan wadah bagi semua pemimpin agama dan komunitas agama untuk bekerja bahu membahu dengan masyarakat adat, pemerintah, masyarakat sipil dan dunia usaha dalam aksi melindungi hutan tropis dan melindungi masyarakat adat sebagai penjaga hutan.

IRI Indonesia bekerja di tingkat lokal, provinsi, dan nasional untuk memobilisasi aksi berbasis agama untuk melindungi hutan.

Baca Juga:  ICAN: Israel Punya 90 Hulu Ledak Nuklir

Krisis lingkungan hidup sebagai dampak dari perubahan iklim tengah menjadi isu global karena menyangkut keberlanjutan manusia di muka bumi. Efek gas rumah kaca, kerusakan ekosistem gambut dan mangrove hingga deforestasi hutan adalah isu yang sedang ramai diperbincangkan oleh khalayak.

Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2023, Indonesia berada di garis depan dalam menghadapi dampak perubahan iklim, dengan kenaikan suhu rata-rata 0,3°C per dekade sejak 1960 dan peningkatan frekuensi bencana alam seperti banjir dan kekeringan.

Krisis ini mempengaruhi berbagai sektor, termasuk pertanian, yang merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia, serta kesehatan masyarakat yang semakin terancam oleh penyakit yang ditularkan melalui air dan vektor.

Hutan adalah satu-satunya mekanisme penangkapan dan penyimpanan karbon yang aman, alami, dan terbukti yang kita miliki dalam skala besar. Peran hutan Indonesia dalam penyerapan dan penyimpanan karbon masing-masing bernilai hingga US$ 97 juta dan US$ 19 miliar per tahun, dan hutan rawa gambut yang kaya akan karbon di Indonesia sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim.[]

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Widi Kusnadi