Pemuda OKI Indonesia Gelar Pertemuan Perdana OIC Young Women Forum

Jakarta, MINA – Pemuda Organisasi Kerjasama Indonesia (OKI) baru-baru ini menggelar Online Webinar “Launching OIC Young Women Forum”.

Acara itu menghadirkan tujuh pembicara di antaranya, Duta Besar Indonesia untuk Polandia Amb. Siti Nugraha Mauludiah, Deputi Direktur Jendral ICYF – ERC Sevinj Iskandarova, PKPIM Malaysia Nur Balqis Faraheen, PB PMII Nafila Safitri, Center of Strategic Studies BAZNAS RI Astika Rahmah Ghanny, President Peace Club Shafaq Sarfaraz, Model OIC Country Coordinator Bangladesh Fahmida Faiza, demikian keterangan tertulis yang diterima MINA pada Rabu (20/1).

Acara itu diselenggarakan dalam kerangka Tim Satgas Strategi Pemuda OKI Indonesia dan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar tentang Strategi Pemuda OKI Indonesia (OIC Youth Indonesia) dan pentingnya pengembangan pemuda khususnya perempuan di dunia muslim.

Selain itu juga bertujuan untuk menghubungkan kembali dan membangun koneksi dengan sesama perempuan guna memberi mereka pengetahuan tentang pemberdayaan perempuan.

PLT Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita dalam sambutannya menekankan tentang pentingnya tindak lanjut dari dokumen Strategi Pemuda OKI (OIC Youth Strategy), khususnya untuk menjadi acuan para stakeholders kepemudaan dalam memberdayakan pemuda termasuk perempuan dalam rangka memajukan dan meningkatkan pembangunan nasional melalui partisipasi pemuda khususnya perempuan.

Selanjutnya, Sevinj Iskandarova selaku Deputi Direktur Jenderal ICYF Eurasian Regional Center menyampaikan pidato sambutan tentang pentingnya perempuan dimasukkan dalam struktur kepemimpinan dan parlemen.

Ia menekankan peran Islamic Cooperation Youth Forumn (ICYF) Goal adalah untuk mendukung peran perempuan seperti kepemimpinan, kewirausahaan, dan lain-lain.

Duta Besar RI untuk Polandia, H.E Amb. Siti Nugraha Mauludiah pada kesempatannya,  menekankan pentingnya perempuan dalam saling membantu untuk pemberdayaan perempuan karena masih ada stigma di masyarakat bahwa laki-laki lebih sukses daripada perempuan.

Menurutnya, untuk memperjuangkan pemberdayaan perempuan perlu bekerjasama dengan laki-laki karena dengan mengakui kesetaraan perempuan menunjukkan kualitas laki-laki.

Ia menggarisbawahi bahwa pemberdayaan perempuan berarti memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan, bukan untuk merendahkan peran laki-laki.

Dalam acara itu, Peserta yang hadir diberikan pemaparan bahwa perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat, isu-isu mengenai keamanan perempuan dan kekerasan dalam rumah tangga, juga mengenai masih adanya narasi gender yang menimbulkan masalah seperti pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga bagaimana pemimpin perempuan bisa bersatu untuk pembangunan bangsa. (T/R7/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)