Pemuda Palestina Bangkit Melawan di Medsos (Oleh: Amjad Ayman Yaghi, Gaza)

Logo Ihbid, gerakan perlawanan aktivis siber pemuda Palestina melawan penyesatan tentang konflik Israel-Palestina di media sosial.

Ketika National Geographic Abu Dhabi pada bulan April mengunggah di akun Facebook dan Twitter-nya gambar seekor kambing gunung di tebing, halaman media sosialnya dengan cepat meledak.

Masalah? Yang menjadi masalah adalah judul yang menyebut lokasi itu sebagai “Gurun Yudea” yang merujuk pada “Gurun Ein Gedi”. Daerah bergunung itu mencakup wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel serta berada di timur Yerusalem dan berdekatan dengan Laut Mati.

Ikhwal itu menarik perhatian para aktivis media sosial Palestina untuk beraksi menuntut dihubungkannya Gurun Ein Gedi dengan teritorial Palestina.

Mereka menyuarakan pendapat di halaman Facebook National Geographic Abu Dhabi.

Komentar dari Hasan Aldawoudi, salah satu pendiri kelompok media sosial Ihbid, menerima reaksi terbanyak.

Aldawoudi mengomentari, gambar itu menunjukan  bahwa administrator halaman Facebook tidak memiliki pengetahuan dasar dan historis tentang Palestina.

Komentar Aldawoudi dapat sambutan luar biasa. Melampaui 30.000 komentar Facebook dan menuntut administrator publikasi Facebook dan Twitter untuk menghapus unggahan tersebut dan menggantinya dengan merujuk “gurun Ein Gedi di Palestina.”

Hebatnya, semua ini terjadi dari satu hari ke hari berikutnya.

Dan itu membantu menyoroti bahwa di saat Uni Emirat Arab tidak mengakui Israel, Pangeran Mohammed bin Zayed tampaknya akan menggerakkan negara ke arah itu ketika mencoba untuk mengarahkan Otoritas Palestina ke dalam rencana perdamaian buatan Pemerintah Presiden AS Donald Trump.

Bila rencana perdamaian yang yang cukup banyak mendapat penentangan itu sampai jadi kenyataan, secara luas diperkirakan akan mencabut hak-hak warga Palestina atas tanahnya sendiri.

Unggahan National Geographic Abu Dhabi pada bulan April 2019 di akun Facebook dan Twitter-nya. (Facebook)

Kampanye yang meluas

Kampanye melawan National Geographic Abu Dhabi yang sukses, mendorong kelompok itu untuk menyanggah unggahan dan tweet menyesatkan lainnya yang mencoba memajukan narasi yang disukai oleh pemerintah Israel.

Aldawoudi, pemuda 24 tahun dari Rafah di Gaza selatan, telah bergabung bersama Ahmed Maher Jouda (26) dari kamp pengungsi Jabaliya di utara Jalur Gaza dan sekelompok temannya. Mereka bermaksud menantang unggahan media sosial anti-Palestina.

Ihbid adalah hasil dari upaya bersama mereka.

Kampanye akar rumput yang dipimpin oleh para pemuda di bawah usia 30 tahun itu sangat sibuk selama eskalasi militer Israel terhadap Gaza pada awal Mei lalu.

Mereka akan makin aktif melawan Israel di medsos. Kini mereka berencana menantang propaganda Israel di masa depan yang mempromosikan serangan militernya di wilayah pesisir yang diblokade itu.

Ketika Israel berusaha untuk melakukan serangan itu, para aktivis Ihbid melawan balik dengan foto-foto yang mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Israel di Gaza dan pos-pos balasan faktual yang mengungkap kekeliruan Israel dan kebohongan-kebohongannya.

Tujuan sangat mendasar kegiatan ini untuk memaparkan dan memperjelas bahwa orang-orang Palestina sebagai penduduk pendudukan adalah mereka yang ditindas dan menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih unggul.

Sebagai contoh, para aktivis media sosial Palestina melawan balik pos Facebook yang dibuat oleh Uni Eropa, yang bersikeras bahwa “tembakan roket dari Gaza ke Israel harus segera dihentikan.” Uni Eropa gagal mengutuk kekerasan Israel terhadap Palestina atau menyatakan tanggung jawab besar Israel atas situasi tersebut.

Aldawoudi mengatakan, nama Ihbid berarti “berbicara omong kosong.” Dia mengatakan, nama organisasi itu menantangnya untuk menghadapi pidato atau unggahan yang menyesatkan terkait dengan perjuangan Palestina, khususnya pendapat yang disuarakan oleh para pemimpin internasional atau media besar.

Di samping itu aktivis media sosial ini juga fokus pada outlet yang tunduk pada sudut pandang militer Israel daripada realitas aktual di lapangan.

Salah satu daerah yang paling meresahkan, kata Aldawoudi, adalah membandingkan bagaimana kekerasan terhadap anak-anak Israel dan Palestina diperlakukan.

Aldawoudi memaparkan, “Tujuan kampanye ini adalah adalah agar dunia menyaksikan realitas konflik Israel-Palestina. Jangan hanya menyaksikan seorang anak Israel menangis, sehingga semua perhatian media diarahkan pada anak itu. Propaganda Israel mempromosikan anak yang menangis itu. ”

Namun, katanya, “Ketika anak-anak Palestina terbunuh, tidak ada yang memperhatikan anak-anak itu. Peran kami adalah menjelaskan perbedaan dalam cakupan komentar yang terhubung dengan foto dan sumber.”

Sebagai penerjemah Bahasa Arab ke Bahasa Inggris dan seorang peneliti dalam diplomasi digital di Gaza, Aldawoudi mengatakan bahwa kelompok ini dapat menggunakan 25 bahasa untuk menyampaikan narasi Palestina membalas unggahan-unggahan pro Israel yang tidak obyektif.

Ihbid melakukan ini dengan bantuan sukarelawan. Mereka membantu menerjemahkan halaman media sosial yang menyampaikan kekeliruan dan pelanggaan hikim yang dilakukan  Israel terhadap Palestina.

Para peserta sering menambahkan # ihbid194 di sebelah komentar Twitter mereka. Angka 194 merujuk pada resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai hak pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah air mereka, dari mana mereka dipaksa untuk pergi oleh milisi Zionis pada tahun 1948. Angka itu juga menandakan Palestina sebagai anggota ke-194 PBB.

Kampanye Ihbid yang menunjukkan perbandingan para pemuda Israel dengan pemuda Palestina di Jalur Gaza. (Twitter)

Mengambil propaganda

Pekerjaan Ihbid pada awal Mei termasuk melancarkan kampanye melawan unggahan Facebook militer Israel. Unggahan itu menunjukkan sekelompok pemain sepak bola muda Israel berbaring di lapangan setelah mendengar suara sirene yang memperingatkan waspadae seolah akan ada serabgan roket yang datang dari Gaza.

Aktivis bersama Ihbid mengunggah foto itu dan meminta warga Palestina untuk berkomentar. Responden menggapi dengan mengunggah foto-foto korban Palestina dari serangan bom Israel baru-baru ini.

Bahkan Presiden AS Donald Trump ditantang atas tweet-nya yang terkait dengan Gaza yang memuji serangan  Israel dan menunjukkan ketidakpeduliannya kepada orang-orang Palestina yang diserang.

“Orang-orang yang membalas komentar kami menggambarkan kami sebagai lebah elektronik. Kami tidak menghina; tujuan kami adalah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” kata Aldawoudi.

“Mereka yang berpikir bahwa Israel demokratis adalah salah. Kami memberikan bukti mengenai Israel karena kerugian yang ditimbulkannya kepada kami. Terkadang, kami mendapat dukungan dan sebagian orang asing bahkan mengirimi kami pesan di akun kami untuk mendapatkan detail dan klarifikasi lebih lanjut tentang apa yang kami unggahkan,” tambahnya.

Kampanye ini tidak didukung oleh faksi politik apa pun. Insinyur dan aktivis sipil Ahmed Maher Jouda mengatakan, itu sepenuhnya didasarkan pada pemuda Palestina dan upaya mereka untuk menghidupkan kembali narasi Palestina.

Aktivis bangga dengan prestasi mereka, dengan ribuan warga Palestina di Gaza, Tepi Barat dan diaspora bergabung dalam kampanye untuk melawan secara online.

 

“Mereka kehilangan kendali atas kami”

Kampanye ini juga membuat resah para pejabat Israel. Menurut Jouda, beberapa unggahan pejabat Yahudi bahkan dihapus karena perlawanan balik para aktivis membuahkan hasil.

“Mereka kehilangan kendali atas kami. Kami menjadi tentara elektronik yang membela Tanah Air kami dengan akun yang jujur. Mereka tidak ingin followers mereka melihat respon Palestina sehingga mereka menghapus seluruh unggahan agar followers mereka tidak akan mempertanyakan konten mereka,” kata Jouda.

Jouda mengatakan, para aktivis pada bulan Mei lalu juga mengarahkan perhatian mereka kepada para pemain yang berpartisipasi dalam kontes musik Eurovision, yang menyoroti pelanggaran berkelanjutan Israel atas hak-hak Palestina. Mereka menemukan ini menjadi cara yang efektif untuk melawan akun Israel yang memuji kompetisi di Tel Aviv.

Kelompok itu melawan balik video yang diunggah oleh Eduardo Bolsonaro, seorang politisi di parlemen Brasil dan seorang putra presiden negara itu. Dalam video itu, ia mengungkapkan keprihatinan tentang tembakan roket dari Gaza dan mengatakan Israel akan mempertahankan diri dan sudah melakukannya.

Serangan-serangan Israel itulah yang ingin ditekankan oleh Ihbid.

Aktivis Amin Abed, yang berusia 30 tahun, merangkum komentar tentang upaya kelompok itu. “Kami mendapat simpati besar dari seluruh dunia. Mereka telah menemukan konten Palestina meyakinkan dan beberapa sudah mulai meneliti alasan di balik konflik Israel-Palestina,” katanya.

Namun, untuk semua solidaritas internasional, Abed mencatat bahwa ia telah memperhatikan bahwa “Banyak orang asing berpikir bahwa Israel selalu ada di sana dan orang-orang Palestina adalah pengganggu yang memerangi Israel.”

Justru kesalahpahaman seperti itu yang memotivasi Ihbid dalam upayanya untuk menantang narasi palsu yang menyebar begitu cepat melalui media sosial. (AT/RI-1/P1)

 

Sumber: The Electronic Intifada

 

Mi’raj News Agency (MINA)