Pemukim Israel Dirikan Menorah di Masjid Desa Nabi Samwil

Pemukim Yahudi membangun menorah besar di atas masjid di Desa Nabi Samwil, antara TEpi Barat dan Yerusalem, Palestina. (WAFA)

Yerusalem, MINA – Pemukim Yahudi Israel mendirikan sebuah menorah besar di atap masjid bersejarah di desa Nabi Samwil, barat laut Yerusalem, Kamis (25/11).

Anas Obeid, seorang penduduk desa, mengatakan kepada WAFA bahwa para pemukim, didampingi oleh staf organisasi permukiman, mendirikan sebuah menorah besar di masjid desa yang konon untuk merayakan hari raya Yahudi Hanukkah.

Wakil Menteri Wakaf dan Urusan Agama Hussam Abu al-Rub mengutuk langkah pemukim itu sebagai “pelanggaran terhadap kesucian” situs tersebut,  ia menekankan penolakannya terhadap campur tangan Israel dalam urusan situs suci Islam di seluruh Palestina.

Dia menjelaskan bahwa otoritas pendudukan bertujuan, melalui langkah-langkah ini, untuk mengambil alih situs tersebut dan melenyapkan fitur-fitur Islamnya.

Nabi Samwel, juga ditulis sebagai al-Nabi Samwil, menghadap ke Yerusalem Timur yang diduduki di satu sisi dan Ramallah di sisi lain. Dengan sekitar 300 orang di tidak lebih dari selusin rumah, desa itu terletak di “zona jahitan” – sebuah area yang dipisahkan dari sisa Tepi Barat yang diduduki oleh tembok apartheid Israel, seperti yang dilaporkan oleh situs berita online Electronic Intifada.

Penduduk Nabi Samwil diapit oleh permukiman kolonial, tembok dan taman Israel yang merambah tanah mereka.

Taman nasional terdiri dari situs arkeologi, yang mencakup makam Nabi Samwil (Samuel), seorang tokoh agama penting bagi orang Kristen, Yahudi dan Muslim. Makam itu dikelilingi oleh sebuah masjid yang hanya dapat diakses oleh warga Palestina pada hari Jumat. Itu dapat ditutup kapan saja untuk membiarkan pemukim Yahudi Israel mengakses makam.

Penduduk dianggap sebagai penduduk Tepi Barat dan meskipun mereka berada di sisi tembok Yerusalem, mereka hanya diperbolehkan pergi ke kota terdekat Tepi Barat, Ramallah, untuk kegiatan yang diperlukan, seperti membeli makanan atau mengakses perawatan medis.

Diharuskan untuk tunduk pada rezim izin yang ketat, segala sesuatu dalam hidup mereka dipantau: dari jumlah bahan makanan yang mereka bawa ke desa hingga orang-orang yang berkunjung. Setiap pergerakan orang atau produk dikendalikan oleh “kantor penghubung” Israel.

Israel menggunakan nama nasionalis Yahudi “Judea dan Samaria” untuk merujuk pada Tepi Barat yang diduduki untuk memperkuat klaim palsunya atas wilayah tersebut dan untuk memberi mereka lapisan legitimasi sejarah dan agama.

Ada lebih dari 700.000 pemukim Israel yang tinggal di permukiman kolonial di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Undang-undang negara-bangsa Israel yang disahkan Juli lalu menyatakan bahwa membangun dan memperkuat permukiman kolonial adalah “kepentingan nasional.” (T/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)