Pengamat: Indonesia Harus Bisa Menjadi Penengah Konflik Negara Teluk

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Abdul Muta’ali.

Bogor, 14 Ramadhan 1438/ 9 Juni 2017 (MINA) – Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Abdul Muta’ali mengatakan, Indonesia harus menjadi penengah dalam kondisi konflik Negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) .

Sebanyak tujuh negara GCC yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Libya, Maladewa, dan Yaman telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada Senin (5/6) dengan menuduh Qatar mendukung terorisme.

“Dalam kondisi ini diperlukan negara ketiga yang bisa menjadi penengah bagi keduanya. Saya kira yang pas menengahi konflik GCC minus Kuwait dan Qatar adalah Indonesia, karena Indonesia tidak bermakmum pada Riyadh atau Teheran. Selain itu, Indonesia cukup piawai menangani konflik-konflik di beberapa negara,” katanya saat dihubungi Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Jumat malam (9/6).

Menurutnya, cukup disayangkan situasi ini terjadi, pada saat Muslim sedunia harusnya menjaga suasan kondusif selama bulan Ramadhan.

“Namun rupanya kita sendiri yang mengkhianati kemuliaan Ramadhan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam mengakhiri konflik Qatar ini, harus sesegera mungkin karena jangan sampai Arab spring membakar seluruh wilayah Timur Tengah termasuk negara-negara teluk.

Menurutnya, posisi Indonesia sangat strategis bukan hanya secara politik yang cukup netral, tapi juga keberadaan Indonesia yang paling sedikit ketergantungannya terhadap kelompok negara kuartet.

“Satu contoh yang real baik Qatar ataupun Arab Saudi, walaupun keduanya dibangun atas kesamaan primordialisme, namun tidak bisa melepaskan dominasi Washington di kawasan tersebut,” tambahnya.

Ia menjelaskan, Indonesia punya keterikatan terhadap Washington tapi tidak sekuat kedua negara tersebut. Indonesia hadir ketika KTT Arab Islam-Amerika yang dihadiri oleh Donald Trump, tapi juga Indonesia hadir pada Belt and road forum di Beijing.

“Artinya Indonesia tidak ikut blok Iran versus Saudi dan juga tidak alergi blok Amerika atau Cina. Posisi politik ini sangat penting untuk menentukan netralitas mediator,” imbuhnya

“Saya kira juga posisi Indonesia lebih strategis dalam posisi ini ketimbang OKI, mengingat dominasi Arab Saudi di dalam tubuh OKI begitu kuat, artinya secara kelembagaan dan organisasi baik OKI ataupun Liga Arab apalagi GCC, tidak cukup punya kartu truf untuk menengahi konflik tersebut,” tambahnya. (L/R10/RS2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)