Jakarta, 29 Dzulhijjah 1436/13 Oktober 2015 (MINA) – Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) Universitas Indonesia (UI), Abdul Muta’ali, mengatakan, meluasnya operasi militer Israel di wilayah Tepi Barat dan Al-Quds membuktikan entitas Zionis itu sudah kehabisan cara menguasai tanah Palestina.
Dia menjelaskan, pengibaran bendera Palestina di Markas Besar PBB di New York saat Sidang Umum PBB ke-70, Rabu (30/9) lalu, menandakan mayoritas dukungan masyarakat dunia untuk kemerdekaan Palestina serta menolak berbagai tindakan kejahatan dan pelanggaran penjajah Israel di wilayah itu.
“Pengibaran bendera Palestina di Markas Besar PBB, bukan hanya simbolis semata namun menuju realisasi kemerdekaan Palestina seutuhnya dengan dukungan masyarakat dunia,” kata Abdul Muta’ali kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (13/10) malam.
Untuk itu, lanjut pengamat Timur Tengah itu, masyarakat dunia harus melakukan langkah nyata mewujudkan kedamaian Timur Tengah melalui kemerdekaan Palestina.
Baca Juga: Satu dari Delapan Tentara Israel di Gaza Alami Gangguan Jiwa
Selain itu, dia juga menjelaskan, kekerasan Israel di luar batas di Tepi Barat Dan Al-Quds juga adanya akumulasi kegagalan konspirasi Timur Tengah jilid pertama dengan munculnya Arab Spring untuk memorakporandakan negara-negara Islam.
Juga tidak berhasilnya konspirasi Timur Tengah jilid kedua dengan lahirnya ISIS yang kemudian berubah menjadi IS. Menurutnya, kospirasi itu dijalankan dan dikendalikan oleh operator yaitu ‘Israel’.
“Sehingga saat ini Israel terang-terangan menjadi pemain dalam konspirasi di kawasan,” ujar Abdul Muta’ali.
Abdul Muta’ali mengatakan, gerakan kebangkitan perlawanan rakyat Palestina Intifadah Ketiga yang disebut “Intifadah Al-Quds” di sebagian besar Wilayah Palestina yang meletus sejak awal Oktober ini akan mengubah konstelasi politik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Tepung dan Bahan Bakar Habis, Semua Toko Roti di Gaza Tutup
Meletusnya Intifadah Ketiga dipicu oleh tindakan pembatasan ketat akses masuk bagi warga Palestina menuju wilayah Palestina yang diduduki, khususnya pembagian Masjid Al-Aqsha di Al-Quds secara waktu dan ibadah.
Setelah beberapa hari bentrokan mematikan di Tepi Barat dan Israel, sejak awal Oktober kekerasan menyebar ke Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Al-Quds.
Menurut Middle East Monitor (MEMO) melaporkan, sejak berita ini ditulis, sedikitnya 270 warga Palestina telah ditangkap oleh Israel di Al-Quds, 45 dari mereka adalah anak di bawah umur. Sementara 29 warga Palestina. Lebih dari 2.700 warga Palestina lainnya telah terluka.
Setelah memploklamirkan diri kemerdekaannya dengan mencaplok wilayah Palestina pada 1948, Israel kemudian menduduki Al-Quds Timur dan Tepi Barat sejak 1967 pada saat Perang Timur Tengah.
Baca Juga: Seorang Nelayan Gaza Syahid oleh Tembakan Israel
Kemudian menganeksasi kota suci pada 1980, mengklaim sepihak sebagai ibukota negara Yahudi merupakan sebuah tindakan yang tidak pernah diakui oleh masyarakat Internasional.
Selama dekade terakhir, Israel telah mencoba untuk mengubah susunan demografi Al-Quds dengan membangun pemukiman ilegal, menghancurkan situs sejarah, dan mengusir penduduk Palestina setempat.(L/R05/P2)
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)