Pengungsi Moria, Yunani Hadapi Musim Dingin Buruk

Seorang migran berdiri di bekas kebakaran kamp pengungsi Moria di Yunani, 9 September 2020. (Foto: Petros Giannakouris—AP)

Athena, MINA – Ribuan migran yang menyelamatkan diri dari kamp pengungsi Moria di Yunani ketika terbakar pada September lalu, sekarang menghadapi musim dingin dalam kondisi yang lebih buruk, lembaga HAM Oxfam dan Dewan Pengungsi Yunani memperingatkan.

Kondisi di Kamp Kara Tepe yang baru, tempat hampir 7.500 dari 13.000 mantan penghuni Moria telah berlindung selama enam pekan terakhir, “sangat buruk”, MEMO melaporkan.

Ribuan pengungsi pindah ke kamp sementara bulan lalu setelah mereka kehilangan tempat tinggal ketika serangkaian kebakaran melanda kamp Moria pada 8 September.

Pekerja sosial mengatakan, Moria yang memiliki kapasitas kurang dari 3.000 orang tetapi menampung sekitar 13.000 orang, adalah “bom waktu yang akhirnya meledak.”

Namun, Oxfam dan Dewan Pengungsi Yunani sekarang mengatakan, Kamp Kara Tepe memiliki “tempat berlindung yang tidak memadai, hampir tidak ada air yang mengalir, layanan perawatan kesehatan terbatas, dan tidak ada akses ke bantuan hukum.”

Pakar migrasi Uni Eropa Oxfam, Raphael Shilhav, mengutuk keputusan pemerintah Yunani untuk membangun kamp sementara di pulau Lesbos. Ia menyebut tanggapan pemerintah terhadap kebakaran Moria “menyedihkan”.

Pihak berwenang, kata Shilhav, telah memilih kamp sebagai penampungan orang-orang yang terancam lingkaran kemelaratan dan kesengsaraan.

“Ketika Moria terbakar habis, kami mendengar pernyataan kuat dari pembuat keputusan Uni Eropa yang mengatakan, ‘No more Morias’. Tapi kamp baru itu dengan tepat dinamai Moria 2.0.”

Kedua organisasi tersebut menyerukan agar penduduk Kamp Kara Tepe, yang dibangun di lokasi bekas lapangan tembak militer pesisir, dipindahkan ke akomodasi yang layak di daratan Yunani dan di negara-negara Uni Eropa lainnya. (T/RI-1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)