Washington, MINA – Lembaga militer AS Pentagon merevisi jumlah anggota militer Amerika Serikat yang tewas dalam perang melawan Iran dari 18 menjadi 14 orang.
Perubahan data tersebut memicu pertanyaan mengenai transparansi pemerintah Amerika Serikat dalam melaporkan korban perang.
Palestine Chronicle pada Sabtu (25/7) menyatakan, situs resmi korban Departemen Pertahanan Amerika Serikat mencatat 18 anggota militer AS tewas selama perang Iran.
Laporan resmi itu terbit di hari Rabu (23/7) namun pada Kamis pagi, jumlah tersebut direvisi menjadi 14 orang.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Dalam revisi itu, jumlah personel yang diklasifikasikan tewas akibat aksi permusuhan juga berubah, dari 11 orang menjadi tujuh orang.
Tiga pejabat militer Amerika Serikat mengatakan kepada The New York Times bahwa perubahan tersebut dilakukan setelah pemerintah menghapus empat anggota militer dari daftar korban perang Iran. Tiga di antaranya tewas di Yordania, sementara satu lainnya meninggal di Irak utara.
Menurut para pejabat tersebut, empat kematian itu tidak lagi dihitung sebagai korban perang Iran karena terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata pada April lalu, meskipun bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran kembali berlanjut setelahnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Pers Pentagon Joel Valdez memberikan penjelasan berbeda. Ia menyatakan perubahan angka korban terjadi akibat “gangguan data sementara” dan “anomali pada situs web” Pentagon.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Valdez menegaskan Departemen Pertahanan sedang memperbaiki masalah tersebut dan tetap berkomitmen menjaga keakuratan pelaporan korban.
Ia juga mengkritik laporan The New York Times, dengan menyatakan bahwa pihak Pentagon telah berupaya menjelaskan kejanggalan data sebelum berita dipublikasikan.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump masih mengutip angka awal, yakni 18 korban tewas, dalam pernyataannya pada Kamis.
Trump membandingkan jumlah korban perang Iran dengan perang-perang Amerika Serikat sebelumnya. Menurutnya, meskipun satu korban jiwa saja sudah terlalu banyak, jumlah korban yang ia sebut tetap sebanyak 18 orang.
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
Perbedaan pernyataan antara Pentagon dan Presiden Trump memunculkan ketidakjelasan mengenai apakah revisi jumlah korban tersebut hanya disebabkan kesalahan teknis atau merupakan perubahan dalam kriteria penghitungan korban perang Iran.
Kontroversi ini muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap keterbukaan Pentagon dalam menyampaikan informasi kepada publik mengenai perkembangan perang yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Usai Penutupan Konsulat di Yerusalem Timur
















Mina Indonesia
Mina Arabic