Perdagangan yang Tak Pernah Merugi (Tadabbur Qs. Fathir: 29)

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

ADAKAH di dunia ini pedagang yang menginginkan kerugian? Jelas tidak satupun pedagang yang ingin rugi. Dalam kehidupan dunia ini, sejatinya setiap insan sedang melaukan sebuah perdagangan kepada Tuhannya. Hanya saja, perdagangan semacam apakah yang akan memberikan keuntungan hakiki? Seorang muslim tentu saja memiliki konsep hidup jauh berbeda dengan orang di luar Islam. Ada konsep perdangan yang sangat menarik dalam Islam yang ditawarkan Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi serta apa yang ada di antara keduanya kepada manusia. Sebuah perdagangan yang tidak akan pernah merugi jika seorang muslim bisa menerima kontrak perdagan itu dengan benar (ilmu).

Allah Ta’ala telah menjabarkan dalam firman-Nya di suat Fathir ayat 29,

إِنَّ لَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَ بَ  للَّهِ وَأَقَامُوا   لصَّلَو ةَ وَأَنفَقُوا  مِمَّا رَزَقْنَ هُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَ رَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Qs. Fathir: 29).

Kata “tijârah” menurut al-Raghib al-Asfahani, berarti mempergunakan modal yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Ibarat tijârah, se-mua (amalan) itu adalah modal yang dikeluarkan. Sedangkan keuntungan yang didapat adalah pahala, surga, dan ridha-Nya.

Dibandingkan dengan amal yang dikerjakan, tentulah keuntungan itu sangat besar. Apa yang melebihi surga dan ridha-Nya? Perniagaan itu pun disebut sebagai “tijaratan lan tabur ” perniagaan yang tidak akan merugikan dan tidak akan musnah.

Sebagaimana dijelaskan al-Jazairi, kata, “Lan tabur” bermakna “Lan tahlik (tidak akan lenyap/rusak). Yaitu semua modal manusia yang berupa iman dan amal shalih tidak akan lenyap dan sia-sia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, liyuwaffiyahum ujurahum (agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka).

Keadaan ini memberikan penegasan bahwa harapan mereka (orang beriman) tidak hampa. Mereka pasti akan mendapatkan apa yang diharapkan itu. Hal itu karena telah menjadi ketetapan dan janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa semua perbuatan manusia akan mendapatkan balasan dari-Nya. Sebagaimana balasan siksa neraka atas perbuatan munkar dan maksiat, perbuatan ma’ruf dan taat pun akan digan-jar dengan pahala.

Ayat di atas juga menjadi rahasia mengapa para salafus shalih selalu bahagia dalam menjalani kehidupan sementara ini. Dalam ayat di atas, ada tiga amal dahsyat yang bisa menjadi perantara seorang muslim untuk selalu beruntung dalam perniagaannya. Pertama, orang yang selalu membaca kitab Allah (al Qur’an). Menurut Ibnu Katsir, ayat ini termasuk ayatul qurro, artinya ayatnya para pecinta al Qur’an. Tentu saja cinta kepada al Qur’an itu bukan hanya dibaca, tapi juga dipelajari (tadabburi), dikaji, dan di amalkan serta diajarkan kepada manusia.

Pertama, senantiasa membaca al Qur’an. Sangat banyak keutamaan orang yang senantiasa membaca al Qur’an seperti disebutkan dalam beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam antara lain sebagai berikut. Pertama, Orang yang lancar membaca al Qur’an akan bersama para malaikat. “Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah meriwayatkan bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang yang lancar membaca al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim).

Tidak ada suatu ibadah apapun yang tidak mendatangkan kebaikan untuk pelakunya. Allah sudah berjanji bahwa setiap kebaikan sebesar biji zarah, akan dibalas. Begitu pun dengan kejahatan sebesar biji zarah akan dibalas juga. Membaca Al Qur’an adalah salah satu bentuk ibadah umat Islam kepada manusia.

Kedua, setiap huruf al Qur’an bernilai satu kebaikan. Seperti yang diriwayatkan Abdullah Ibnu Mas‘ud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (al Qur’an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).

Begitu istimewanya hadits di atas, setiap huruf yang ada di dalam Al Qur’an yang dibaca oleh seseorang, dia sudah pasti akan mendapatkan satu kebaikan. Masih banyak keutamaan lain bagi siapa saja yang membaca al Qur’an.

Kedua, mendirikan shalat. Ada beberapa keutamaan oranag yang mengerjakan shalat. Pertama, shalat adalah sebaik-baik amalan setelah dua kalimat syahadat. Ada hadits muttafaqun ‘alaih sebagai berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ « الصَّلاَةُ لِوَقْتِهَا ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ».

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling afdhol?” Jawab beliau, “Shalat pada waktunya.” Lalu aku bertanya lagi, “Lalu apa?” “Berbakti pada orang tua”, jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.  “Lalu apa lagi,” aku bertanya kembali. “Jihad di jalan Allah,” jawab beliau. (HR. Bukhari no. 7534 dan Muslim no. 85).

Kedua, shalat lima waktu mencuci dosa. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا »

“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667).

Ketiga, shalat lima waktu menghapuskan dosa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233).

Keempat, shalat adalah cahaya di dunia dan akhirat. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Siapa yang menjaga shalat lima waktu, baginya cahaya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti, dan juga tidak mendapat keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan bersama Qorun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.” (HR. Ahmad 2: 169. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Masih banyak keutamaan sholat lima waktu lainnya.

Ketiga, infaq/sedekah di jalan Allah. ” wa anfaqu mimma razaqnahum sirran wa alâniyatan (dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan). Maksudnya , menurut Thabari, mereka menunaikan zakat yang difardhukan. Selain itu, mereka juga mengeluarkan harta mereka untuk shadaqah tathawwu’.

Penyebutan kata sirran wa ‘alâniyatan menjelaskan cara menunaikannya. Bila ditunaikan secara sirran (rahasia), itu lebih baik. Namun jika ditunaikan secara ‘alânitan (terang-terangan), menurut dugaannya tercegah dari sikap riya’.

Bisa juga, yang dimaksud dengan sirran (rahasia) adalah shadaqah, sementara ‘alaniyatan (terang – terangan) adalah zakat. Sebab, menunaikan zakat secara terang- terangan sama halnya dengan mengumumkan kewa-jiban. Dan itu sesuatu yang mustahab/ disunahkan .

Ayat ini juga sejalan dengan Qs. al-Baqarah : 274, al-Ra’d: 22, dan Ibrahim : 31. Dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Huraih disebutkan bahwa salah satu dari tujuh kelompok yang mendapat na-ungan Allah pada hari kiamat adalah orang yang memberikan shadaqah dengan rahasia, hingga tangan kirinya tidak me-ngetahui apa yang dishadaqahkan oleh tangan kanannya.

Di antara keutamaan berinfaq di jalan Allah. Pertama, dari Abu Hurairah ra. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi berfirman, ‘Wahai anak Adam!’ berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberik rizki) kepadamu.”(Shahih Muslim, Kitab Az-Zakah, Bab Al-Hatstsu ‘alan Nafaqah wa Tabsyiril Munfiq bil Khalf, no. 36 (963).

Betapa besar jaminan orang yang berinfak di jalan Allah. Betapa mudah dan gampang jalan mendapatkan rizki. Seorang hamba berinfak di jalan Allah, lalu Dzat Yang Ditangan-Nya kepemilikan segala sesuatu memberikan infak (rizki) kepadanya.

Imam An-Nawawi berkata, “Firman Allah (dalam hadits Qudsi), ‘Berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadamu’ adalah makna dari firman Allah dalam al Qur’an. وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rizki yang terbaik yang akan menggantinya.” (Qs. Saba/34 : 39).

Ayat ini mengandung anjuran untuk berinfak dalam berbagai bentuk kebaikan, serta berita gembira bahwa semua itu akan diganti atas karunia Allah Ta’ala.(Syarh an Nawawi 7/79).

Kedua, apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah ra, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya).” (Shahihul Bukhari, Kitab Az-Zakah, Bab Firman Allah Tentang Do’a : Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan hartanya’ no. 1442, 3/304). Masih banyak keutamaan infaq dan sedekah di jalan Allah, wallahua’lam.(A/RS3/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)