Perjuangan Penyelamatan Migran di Laut Jelang Musim Dingin

Gelombang migran ekonomi terus mengalir di Laut Mediterania tanpa henti, kapal penyelamat dari kelompok bantuan pun telah menghabiskan waktu setahun lamanya bekerja menyelamatkan nyawa para migran di lautan. Sementara musim dingin akan datang mengancam.

Lima hari terakhir di laut lepas Libya, kesibukan lima hari seperti kesibukan selama November tahun lalu. Sejak 12 November 2016, selama lima hari ada lebih dari 3.200 migran yang diselamatkan, setidaknya 17 ditemukan meninggal tenggelam dan 340 lainnya dinyatakan hilang.

Pada hari Kamis, 17 November 2016, rincian baru muncul dari perahu karam lainnya. Hanya 27 orang yang selamat. Mereka menggambarkan bagaimana mereka berpegangan pada perahu karet yang kempis selama berjam-jam sebelum tim penyelamat tiba. Penyelamat terlambat untuk menyelamatkan sekitar 100 orang penumpang lainnya.

Dengan 8.000 kedatangan migran di bulan ini dan rekor 27.300 migran di bulan lalu, jelas menunjukkan tidak ada pedagang manusia atau migran yang mau dibujuk meski kondisi cuaca memburuk di persimpangan laut yang berbahaya.

Namun, sebagian besar kapal kelompok bantuan yang telah memainkan peran penting dalam upaya bantuan di tahun ini akan kembali ke pelabuhan pada akhir November 2016. Sebagian dari mereka tidak disiapkan untuk menghadapi cuaca dingin.

“(Tahun) ini telah menjadi tahun yang sangat panjang bagi awak dan kapal,” kata Pete Sweetnam, Direktur Migrant Offshore Aid Station (MOAS), kelompok bantuan asal Malta yang pada tahun 2014 untuk pertama kali mencarter kapal penyelamat secara pribadi dari Libya.

Tahun ini, ada selusin kapal patroli lepas pantai negara Afrika Utara itu yang disewa oleh MOAS, Doctors Without Borders (MSF), SOS Mediterranee, Save the Children, Spanish Proactiva Open Arms, German Sea-Watch, Sea-Eye dan Jugend Rettet.

Menurut Penjaga Pantai yang mengkoordinasikan upaya bantuan di daerah, kelompok bantuan melakukan lebih 20 persen dari operasi penyelamatan.

Mereka juga menyelamatkan banyak nyawa dengan mendeteksi sampan kecil yang dalam kesulitan, mendistribusikan jaket keselamatan dan menawarkan bantuan darurat sambil menunggu kapal yang lebih besar tiba.

Eugenio Cusumano, ilmuwan politik di Universitas Leiden di Belanda dan penulis penelitian di kapal LSM, mengatakan kepada AFP bahwa kelompok-kelompok bantuan telah mengisi kesenjangan yang diciptakan oleh negara.

Menurutnya, saat ini kehadiran militer Eropa seperti operasi anti-penyelundupan Sophia, badan kontrol perbatasan Frontex, serta Angkatan Laut dan Penjaga Pantai Italia, lebih bertugas mengontrol dan melindungi perbatasan daripada memprioritaskan misi penyelamatan.

Ketika perahu kelompok bantuan mundur, penjaga pantai terpaksa mementingkan wilayah resor untuk mengarahkan kapal kargo atau kapal tanker minyak, tanpa dilengkapi tugas untuk menangani penyelamatan.

“Penyelamatan yang tak berujung dan tingginya jumlah korban dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa pentingnya situasi di Mediterania, ini adalah bencana kemanusiaan yang nyata yang terjadi di depan mata kita,” kata Sophie Beau, Ketua SOS Mediterranee.

Karena mengkhawatirkan nasib migran di air jika ditinggal di musim dingin, SOS Mediterranee dan MSF tetap menyewa kapal Aquarius yang akan tetap berpatroli sepanjang musim dingin. Jika perlu, kapal Bourbon Argos MSF dan Phoenix MOAS juga akan mencoba memperpanjang masa operasi mereka.

Kapal perahu milik kelompok bantuan penyelamat migran di Laut Mediterania, SeaWatch. (Foto: SeaWatch.org)
Kapal perahu milik kelompok bantuan penyelamat migran di Laut Mediterania, SeaWatch. (Foto: SeaWatch.org)

Uni Eropa Harus Ambil Tanggung Jawab

Adapun biaya yang dikeluarkan untuk operasi ini, untuk kapal Aquarius sebesar 11.000 euro ($ 11.800) per hari. Sementara donasi yang pernah membanjir karena ketenaran foto balita Suriah Aylan Kurdi pada September tahun lalu, mulai mengering.

“Ada kelelahan tentang krisis migrasi. Masyarakat sudah tahu tentang situasinya, mereka telah mendengar terlalu banyak cerita memilukan,” kata Cusumano.

Sementara Sweetnam juga mencatat tentang adanya pergeseran nyata dalam opini publik tentang migran.

Kelompok bantuan telah didesak oleh beberapa pihak anti-imigran agar meninggalkan migran dan membiarkannya tenggelam untuk mencegah migran yang lain mencoba melakukan perjalanan menyeberang dari benua Afrika ke Eropa.

Cusumano menilai masukan itu salah secara moral dan faktual. Sebab, ketika Italia menangguhkan operasi penyelamatan Mare Nostrum pada akhir 2014, keberangkatan mingran justru meningkat.

“Intinya adalah, tidak mesti harus dilakukan oleh kami. Uni Eropa harus mengambil tanggung jawab atas situasi ini,” kata juru bicara SeaWatch, Ruben Neugebauer.

Uni Eropa telah meluncurkan misi untuk melatih Penjaga Pantai Libya dengan harapan bahwa hal tersebut akan membendung banjirnya keberangkatan migran yang bertolak dari negara itu.

Ruben Neugebauer mengatakan, ia ingin Libya dapat melakukan patroli perairannya sendiri di musim panas mendatang, tapi kelompok-kelompok bantuan mengatakan kondisi sekarang adalah darurat. (P001/R02)

Sumber: AFP

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)