Bekasi, MINA – Pondok Pesantren Nuu Waar Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat memasuki tahun ajaran baru menerima santri baru.
Mudir Pesantren Nuu Waar AFKN Ustaz Abdul Khaliq mengatakan, proses penerimaan santri baru sudah dimulai sejak awal Syawal 1445 lalu. Pendaftaran santri baru dilakukan secara daring (online).
“Soal santri baru, kami sudah mengirimkan brosur resmi pesantren dan disebar ke berbagai perwakilan AFKN yang ada di daerah. Target santri baru tahun ini 50 hingga 100 orang,” kata Ustaz Khaliq, Rabu (15/5).
Kemudian, jelas Ustaz Khaliq, perwakilan AFKN di berbagai daerah melakukan seleksi calon santri.
Baca Juga: Menag Nazaruddin Dukung Penyelenggaraan Bulan Solidaritas Palestina
“Kita berharap dari perwakilan ini adalah anak-anak yang minimal shalat jemaahnya sudah mudah. Minimal dibina dulu, dikarantina. Adaptasi,” jelas Ustaz Khaliq.
Menurutnya, pihaknya membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin belajar di Pesantren Nuu Waar AFKN. Tentu para calon santri harus mengikuti dan memenuhi kebijakan pesantren.
Dikatakan Ustaz Khaliq, calon santri dan wali santri harus menyatakan kesediaan menuntaskan masa pendidikan.
“Tidak ada lagi misalnya wali santri yang mengambil anaknya setelah selesai MTs misalnya. Karena kita linear,” katanya.
Baca Juga: AWG Serukan Penguatan Tekad Pembebasan Masjidil Aqsa dalam Penutupan BSP 2025
“Karena kita dari SD, SMP, SMA, pengabdian setahun, kuliah empat tahun baru boleh pulang ke daerahnya. Ini yang harus disepakati,” kata Ustaz Khaliq.
Selanjutnya, pihak pesantren mengutamakan calon santri dari kalangan yatim dan dhuafa. Tetapi tidak menutup kemungkinan menerima calon santri dari kalangan ekonomi atas.
“Tapi tidak menutup santri-santri dari kalangan ekonomi ke atas. Daripada mereka sekolah di luar negeri seperti Singapura, misalnya. Kita juga butuh santri yang cerdas,” ujar Ustaz Khaliq yang merupakan lulusan PTIQ Jakarta.
Adapun santri yatim dhuafa, pihak pesantren menggratiskan biaya pendidikan.
Baca Juga: AWG Gelar Penutupan Bulan Solidaritas Palestina 2025 di Masjid Istiqlal Jakarta
“Biaya 100 persen ditanggung pesantren. Termasuk biaya transportasi dari daerah asal,” kata Ustaz Khaliq.
Namun, jika dikemudian hari santri melanggar tentu ada sanksi yang didapat.
“Kalau melanggar tentu ada konsekuensi nya atau istilah kita itu denda pendidikan. Karena itu ini harus diketahui oleh orang tua santri,” kata Ustaz Khaliq.
Pesantren Nuu Waar AFKN didirikan dai pedalaman asal Fakfak, Papua Barat KH MZ Fadzlan R Garamatan memberikan beasiswa penuh kepada para santri dan santriwati dari kawasan timur Indonesia.
Baca Juga: Gelar Seminar Kepalestinaan, FSLDK Priangan Timur Dorong Mahasiswa Jadi Agen Pembebasan Al-Aqsa
Pesantren Nuu Waar AFKN fokus pada program Tahfidz Quran yang nantinya para santri selesai lulus kembali ke kampung halaman untuk berdakwah Al-Qur’an.
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Update Bencana Sumatra: 303 Meninggal, 279 Masih Hilang















Mina Indonesia
Mina Arabic