PLO: Pemilu Israel Untuk Apartheid

Dok foto: Press tv

Ramallah, MINA – Pejabat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) memberikan pernyataannya, sebagai reaksi terhadap hasil pemilu Israel dengan mengatakan, Israel mengadakan pemilihan untuk memilih apartheid bukan untuk perdamaian.

“Sangat disesalkan, orang Israel memilih para kandidat yang secara tegas berkomitmen untuk menetapkan status quo penindasan, pekerjaan, aneksasi dan perampasan di Palestina, serta meningkatkan serangan terhadap warga Palestina,” kata Anggota Komite Eksekutif PLO Hanan Ashrawi pada Rabu (10/4) di Ramallah, demikian dilansir dari WAFA.

Menurut Ashrawi, para pemilih Israel telah memilih parlemen yang sangat sayap kanan, Xenophobia dan anti-Palestina untuk mewakili mereka. Orang Israel memilih untuk mengakar dan memperluas apartheidnya.

“Agenda ekstremis dan militeristik yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu telah didukung oleh keputusan sewenang-wenang dan dukungan buta pemerintah AS Donald Trump,” katanya.

Ashrawi mengatakan, aliansi ini melawan hak-hak Palestina dan kedudukan tatanan internasional berbasis aturan tetap tidak tertandingi oleh seluruh komunitas internasional, sehingga memperkuat agenda sayap kanan dan populis.

“Orang-orang Palestina akan mengatasi sisi yang gelap dan sangat berbahaya yang tetap mengakar di tanah air kita. Kami adalah orang yang kuat dan kami akan bertahan serta menjalin aliansi dengan aktor internasional yang bertanggung jawab untuk menciptakan penyeimbang terhadap agenda berbahaya dan sewenang-wenang pemerintah rasis dan fundamentalis Israel,” ujarnya.

Sementara itu, Saeb Erekat, Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif PLO mengatakan dalam akun twitternya, Israel telah memilih tidak untuk perdamaian.

“Apa hasil awal menunjukkan bahwa Israel telah memilih untuk mempertahankan status quo. Mereka mengatakan tidak untuk perdamaian dan ya untuk pendudukan,” tulis Erekat dalam twitternya.

Dia menambahkan fakta bahwa hanya 14 dari 120 anggota terpilih di parlemen Israel yang mendukung solusi dua negara di perbatasan 1967. (T/Ais/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)