Potret Warga Gaza Sambut Ramadhan 1445 H di Tengah Agresi Israel

Dua relawan MER-C asal Pesantren Al-Fatah Bogor, Fikri Rofiul Haq bersama Reza Aldilla Kurniawan tengah menyantap hidangan buka puasa seadanya di tempat pengungsian di Rafah. (Foto: MER-C)

Rafah, MINA – Di tengah agresi Israel yang terus berlangsung, masyarakat Gaza menghadapi tantangan yang luar biasa, terutama saat memasuki bulan suci Ramadhan 1445 H, yang pada tahun ini bertepatan dengan Senin, 11 Maret 2024.

Sebuah laporan PBB, yang mengutip Kementerian Kesehatan di Gaza, mengatakan 25 orang kini telah meninggal karena kekurangan gizi dan dehidrasi, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, setelah lebih dari lima bulan agresi Israel berlangsung.

PBB melaporkan adanya kesulitan khusus dalam mengakses Gaza utara untuk pengiriman makanan dan bantuan lainnya lantaran kebijakan Israel yang memblokir bantuan dari dunia luar.

Di Rafah di perbatasan selatan Gaza, tempat 1,5 juta orang mengungsi, makanan berbuka puasa yang biasanya berlimpah, digantikan dengan “makanan kaleng dan kacang-kacangan”, menurut warga Khan Younis, Mohammad Al-Masry, yang mengungsi.

“Kami tidak mempersiapkan apa pun. Apa yang dimiliki para pengungsi?” kata Al-Masry, mengutip Al-Jazeera. “Kami tidak merasakan nikmatnya Ramadhan… Lihatlah orang-orang yang tinggal di tenda dalam cuaca dingin.”

“Kami tidak tahu apa yang akan kami makan untuk berbuka puasa,” ujar pengungsi lain, Zaki Abu Mansour, 63 tahun, berkata di dalam tendanya. “Saya hanya punya tomat dan mentimun… dan saya tidak punya uang untuk membeli apa pun.”

Baca Juga:  Pesawat Tanpa Awak Zionis Israel Kembali Serang Rafah

Namun, di tengah penderitaan dan kesulitan, kehidupan Ramadhan di Gaza memberikan gambaran tentang ketahanan, kegembiraan, dan kebaikan yang tetap ada.

Ramadhan menciptakan suasana yang unik, di mana solidaritas dan kebersamaan menjadi lebih terasa.

Terbatasnya sumber daya dan akses terhadap fasilitas-fasilitas penting, masyarakat Gaza tetap menjalankan tradisi Ramadhan dengan penuh semangat.

“Tadi subuh kita sahur seadanya. Saya sendiri sahur dengan mie,” tutur Fikri Rofiul Haq, relawan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) ditemani rekannya, Reza Aldilla Kurniawan yang sampai saat ini bertahan di Rafah.

Namun, pria asal Pesantren Al-Fatah ini merasa bersyukur masih ada makanan untuk sahur karena banyak warga Gaza yang beribadah puasa namun tidak bisa sahur karena tidak adanya makanan.

“Banyak warga Gaza, hari ini mereka puasa tapi tidak sahur karena keterbatasan stok bahan pangan yang mereka miliki,” ujarnya.

Ketika azan Magrib berkumandang, Fikri bersama Reza ditemani satu relawan lokal berbuka puasa di ruangan tempat mereka mengungsi, di salah satu kamp pengungsian berupa bangunan sekolah bersama ribuan warga Gaza lainnya.

Baca Juga:  Arif Ramdan: Menulis Itu Mudah

Walaupun berbuka hanya dengan menu seadanya, namun Fikri dan Reza mengaku sangat bersyukur.

“Alhamdulillah beginilah buka puasa di Jalur Gaza, seadanya dan bahkan banyak saudara-saudara kita yang lebih menderita lagi. Semoga kita terus istiqomah dan bisa menyalurkan bantuan,” kata Fikri.

“Kita berbuka puasa dengan roti, dicolek dengan daging kornet dan campuran lainnya yang dimasak seadanya. Setelah itu, dengan buah Zaytun atau bisa dengan cabai atau daun bawang dan bombay sebagai lalapan,” jelas Fikri sambil menikmati makanan berbuka.

Di tengah kekurangan, sebagian dari mereka menemukan cara untuk merayakan awal Ramadhan, dengan membuat dekorasi seadanya dan membagikan lentera tradisional di antara tenda mereka.

Tradisi berbagi dan kebaikan juga tetap berlangsung di tengah situasi yang sulit. Puluhan orang salat di reruntuhan masjid yang terkena serangan udara Israel beberapa hari lalu.

Banyak pengungsi Rafah yang berlindung di tenda-tenda darurat. Mereka duduk di tanah di antara bangunan, di bawah rangkaian lampu hias, untuk berbuka puasa.

Baca Juga:  Indonesia Tempati Pot Ke-6 Kualifikasi Piala Dunia 2026

Meskipun mungkin kesulitan mendapatkan cukup makanan dan kebutuhan sehari-hari, masyarakat Gaza tetap berbagi makanan dengan sesama, menunjukkan semangat kebersamaan dan saling membantu yang luar biasa.

“Saat banyak dari kita kesulitan menyiapkan makanan untuk berbuka puasa atau mencari tempat yang aman untuk berdoa, kenangan Ramadhan yang lalu membuat kita tetap hangat,” ujar Eman Alhaj Ali, jurnalis yang tinggal di Kamp Pengungsi Al Maghazi di Gaza, dalam tulisannya yang dimuat Al-Jazeera.

“Di tengah dengung drone Israel dan suara ledakan, saya memejamkan mata mengingat kemegahan Ramadhan di Gaza,” tambahnya.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan Ramadhan di Gaza juga diwarnai oleh penderitaan dan kesulitan yang dialami oleh masyarakat setempat.

Terbatasnya akses terhadap air bersih, listrik, dan bahan makanan menjadi tantangan nyata yang dihadapi oleh mereka setiap hari. Serangan-serangan yang terjadi di sekitar mereka juga meningkatkan ketegangan dan kekhawatiran.

“Selama lebih dari lima bulan, kami telah mengalami pembantaian, penyakit, kelaparan dan kehausan di tangan tentara Israel. Kekerasan dan kebrutalannya belum berhenti atau berkurang seiring dimulainya Ramadhan,” kata Eman. (A/R2/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rendi Setiawan

Editor: Rana Setiawan