Prinsip Keseimbangan Dunia Akhirat

Oleh Ali Farkhan Tsani, Da’i Pesantren Al-Fatah Cileungsi, Bogor dan Redaktur Senior Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Allah menurunkan Kitab dan Rasul-Nya ke permukaan bumi ini adalah untuk menjamin keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat bagi manusia. Dengan prinsip keseimbangan dunia-akhirat ini, umat manusia akan dapat menemukan jalan yang lurus, benar, dan selamat, serta terhindar dari sikap berlebihan atau meremehkan.

Allah menyebutkan di dalam firman-Nya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Al Qashash [28]: 77).

Dari ayat ini paling tidak ada empat hal yang berkaitan dengan prinsip keseimbangan dalam hidup.

Pertama, mencari anugerah akhirat, dalam kalimat, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat”

Ini adalah peringatan Allah bahwa di dalam hidup ini, seluruh upaya harus dikerahkan untuk memperoleh negeri akhirat. Akhirat adalah tujuan, sementara dunia adalah sarana untuk mencapai tujuan itu. Jangan dunia menjdi rujuan, sementara akhirat tidak diperhatikan.

Sebab, kehidupan akhirat yang abadi pada hakikatnya merupakan tujuan utama manusia hidup di dunia ini yang sementara ini.

وَلَلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ لَّكَ مِنَ ٱلۡأُولَىٰ

Artinya: “Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu dari permulaan (dunia).” (Qs. Adh-dhuha [93]: 4).

Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara, dan akhirat adalah tempat sesunguhnya.

Seperti disebutkan di dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu:

نَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَلَى حَصِيْرٍ، فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ: ((مَا لِيْ وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ أَسْتَظِلُّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا)).

Artinya: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidur di atas tikar, kemudian beliau bangun, sedangkan di tubuh beliau terdapat bekas tikar. Kamipun berkata: “Wahai, Rasulullah. Seandainya (tadi) kami siapkan untukmu alas pelapis (tikar).” Beliaupun bersabda, “Apalah (artinya) untukku semua yang ada di dunia ini? Tidaklah diriku berada di dunia ini, melainkan bagai pengendara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya?” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Kedua, tidak melupakan dunia, dalam kalimatdan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”.

Ini menjukkan bahwa hidup duniawi dan ukhrawi merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dunia adalah tempat menanam dan akhirat adalah tempat memanen. Segala sesuatu yang kita tanam selama ini di dunia, akan kita peroleh buahnya di akhirat kelak.

Hal ini akan mendorong umat manusia untuk giat dalam bekerja dan mencari rezeki, selalu melakukan pekerjaan dengan niat untuk mendapatkan ridha Allah serta yakin bahwa kebaikan yang dilakukan di dunia dengan ikhlas akan berbuah manis di akhirat.

Ini artinya, menjadikan pekerjaan duniawi sebagai sarana untuk mencapai tujuan ukhrawi.

Manusia telah diberikan bekal dari Allah berupa akal, penglihatan, pendengaran, hati dan panca indera.  Semua itu dapat berkembang menjadi potensi-potensi pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Kesemuanya diberikan oleh Allah agar manusia bisa berkarya untuk mencari bekal kehidupan. Asalkan pencarian bekal dan kesenangan dunia tersebut tidak bertentangan dengan syari’at Allah, memperhatikan yang halal dan baik, serta tidak bertentangan dengan usaha pencapaian untuk meraih ridha Allah.

Bumi ini diciptakan untuk manusia. Dengan potensi yang dimiliki, manusia dapat mengolah, mengusahakan, mengeskplorasi alam untuk kepentingan umat manusia, tanpa mengadakan kerusakan. Kalau sampai mengadakan pengrusakan alam, itu sama artinya merusak keseimbangan dunia yang dapat berdampak pada  bencana alam. Ini karena tidak mengindahkan nilai-nilai ukhrawi, yakni keridhaan Allah.

Ketiga, selalu berbuat baik, dalam kalimat, “dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu”.

Bagaimana Allah tidak berbuat baik? Dia yang telah memberikan kita udara dengan gratis, walau sering dikotori oleh polusi. Dia juga yang telah menurunkan air dengan gratis, walau kadng dihitamkan dengan limbah. Allah juga yang telah menumbuhkan tanaman, walau seringkali digunduli tanpa penghijauan kembali oleh ulah tangan-tangan manusia.

Itu semua mengajarkan konsep berbuat baik kepada siapa pun, di mana pun dan kapan pun. Bagai pohon berbuah yang dilempari dengan batu, tapi ia membalasnya dengan buah yang ranum.

Allah menyebutkan di dalam ayat:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

Artinya: “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (Qs. Fushilat [41]: 34-35).

Keempat, Tidak berbuat kerusakan, dalam kalimat,” dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini adalah mereka yang melanggar aturan. Mereka sebenarnya mengetahui apa yang mereka lakukan itu salah. Namun karena hawa nafsunya, mereka pun mengabaikan apa yang diperintahkan oleh Allah. Dan memang telah terjadi kerusakan di darat dan lautan akibat ulah tangan-tangan manusia penuh dosa.

Allah menyebutkan di dalam ayat:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ (٤١)

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari [akibat] perbuatan mereka, agar mereka kembali [ke jalan yang benar]”. (Qs. Ar-Ruum [30]: 41).

Begitulah karena manusia ditunjuk oleh Allah sebagai Khalifah Allah di muka bumi, maka berarti manusia diutus untuk menjaga kelestarian alam semesta ini dari kerusakan.

Maka menjadi tugas kita bersama, terutama kaum Muslimin untuk menjaga keseimbangan alam, keseimbangan dunia akhirat, agar tetap dalam ridha Allah.

Doa Keseimbangan

Dan inilah doa yang seringkali kita ucapkan:

 رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬ وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ حَسَنَةً۬ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 201).

Atau pun doa keseimbangan dunia akhirat, agar dapat kita ambil kebaikannya dari keduanya. Sepeti yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam doa:

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِيْ دِينِيَ الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِيْ

وَأَصْلِحْ لِيْ دُنْيَايَ الَّتِيْ فِيهَا مَعَاشِيْ

وَأَصْلِحْ لِيْ آخِرَتِيَ الَّتِيْ فِيهَا مَعَادِيْ

وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِّيْ فِيْ كُلِّ خَيْرٍ

وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِّيْ مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Artinya: “Ya Allah, perbaikilah agamaku yang menjaga setiap urusanku,

dan perbaikilah duniaku dimana aku hidup,

dan perbaikilah akhiratku tempat aku kembali,

dan jadikanlah hidupku kesempatan untuk menambah amal kebajikan,

dan jadikanlah kematianku sebagai pemberhentian dari melakukan perbuatan buruk.” (HR. Muslim).

Aamiin yaa robal ‘aalamiin. (P4/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)