Prof Manachem Ali Ungkap Akar Ideologi Zionisme

Cileungsi, Bogor, MINA – Seorang Ahli Filologi Islam UNAIR Surabaya, Prof. Dr. Manachem Ali M.A. mengungkapkan akar ideologi Zionisme yang menjadi perbincangan serius mengenai masalah Timur Tengah, khusunya pada konflik Palestina-Israel.

Hal tersebut ia sampaikan dalam Webinar Internasional dengan tema “Menggalang Kerjasama Universal dalam Mendukung Pembebasan Al-Aqsa dan Palestina” yang diselenggaran Lembaga Kemanusiaan Aqsa Working Group (AWG) secara virtual, Sabtu (3/4).

Dia juga mengajak masyarakat agar lebih memahami akar konflik di Palestina dari banyak kitab suci, bukan dari satu kitab saja. Dia meneliti literasi kitab suci bahkan dari sumber Israel yang berbahasa Ibrani.

“Akar masalah mengenai konflik Palestina-Israel, bisa dilakukan kajian melalui literasi kitab suci. Untuk pelacakan literasi, bukan hanya merujuk pada satu kitab agama, tapi bisa kita lakukan mengacu pada kitab-kitab suci yang lain,” katanya.

Prof Manachem adalah seorang pakar filologi, ilmu yang mempelajari naskah-naskah kuno termasuk juga Bahasa-bahasanya.

Menurutnya akar ideologi Zionisme yakni adanya Mesianisme di mana Mesias Yahudi sudah disambut kedatangannya sejak berdirinya Israel pada 1948. Fase ini merupakan fase pertama Mesianisme yakni Fase Pax Britannica.

fase ini dimulai dengan berdirinya negara Israel yang didirikan oleh orang-orang Zionis atas nama klaim agama Yahudi, meskipun kaum mayoritas Yahudi Ortodoks menolaknya.

Kedua, Fase Pax Americana. Untuk menyambut kedatangan Mesias Yahudi juga dipersiapkan yakni adanya pengakuan secara de jure atas kota Yerusalem sebagai ibu kota resmi Israel oleh Amerika, yakni adanya gelombang migrasi kaum Yahudi secara besar-besaran menuju tanah Palestina dan migrasi besar-besaran ini terjadi sejak tahun 1948 hingga saat ini.

Pada 23 Februari 2018 Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menggumumkan, kedutaan besarnya secara resmi akan dibuka di Yerusalem. Pada 14 Mei 2018, bertepatan dengan 70 tahun berdirinya negara Israel, kini kedutaan besar AS di Israel terletak di kawasan Arnona, Yerusalem Barat.

“Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. USA dan Arab Saudi kini telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota resmi negara Israel secara de jure,” ujarnya.

Ketiga, Fase Pax Judaica. Kedatangan Mesias akan ditandai dengan sebuah tanda besar yakni adanya pembangunan Bait Suci ketiga di atas reruntuhan Masjid Al-Aqsa, inilah tanda kehadiran sebenarnya dari Mesias Yahudi.

Prof menachem menyatakan, persatuan umat Islam selama ini ada pada ikon Palestina yakni di Masjid Al-Aqsha.

“Di sinilah ikon pemersatu umat (Muslim) ini. Di mana pun umat berada di timur dan barat, jika melihat ikon ini, akan bersatu” pungkasnya.(L/R11/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)