Prof Sudarnoto: Konflik Baitul Maqdis Kuat Motivasi Agama

Jakarta, MINA – Ketua MUI bidang Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim menyatakan, konflik dan krisis yang saat ini terjadi di Baitul Maqdis (Palestina) sangat kuat motivasi agamanya.

“Saya cenderung mengatakan, bahwa krisis yang terjadi di Baitul Maqdis (Palestina) sangat kuat motivasi agamanya,” katanya dalam konferensi internasional bertema: Al-Aqsa Simbol Perlawanan dan Identitas Perjuangan Rakyat Palestina melawan Penjajahan, di Universitas Islam Asy-Syafiiyah Jakarta, Rabu (15/5).

Tidak bisa dipungkiri, Baitul Maqdis menjadi episentrum konfik Timur Tengah. Hal itu tidak hanya terjadi pada saat ini saja, tetapi sudah sejak seribu tahun sebelum Masehi, yakni pada masa Nabi Daud Alaihis Salam.

Prof. Sudarnoto menegaskan, perjuangan perlawanan melawan Zionis saat ini bukan hanya dalam segi militer saja, tetapi juga dari aspek politik, sosial dan budaya.

“Kita harus menghapus anggapan dari masyarakat bahwa Israel adalah negara kuat. Faktanya, mereka sangat rapuh dan takut, tidak berdaya menghadapi perlawanan para pejuang,” paparnya.

Selain itu, masyarakat juga perlu menghapus anggapan bahwa AS adalah negara Adidaya. Kenyataannya tidak begitu. Sebentar lagi mereka akan mengalami kehancuran dari sisi ekonomi, moral dan dukungan politik internasional.

Prof. Sudarnoto memberikan komentar tentang pembangunan Museum Genosida Israel yang disampaikan oleh Prof. Dailami Firdaus, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah.

Baca Juga:  Wapres Akan Buka Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia VIII

“Soal Museum Genosida, ini saya sampaikan saat saya, Prof Dailami, Rektor Asy-Syafi’iyah, dan Ust. Fahmi Salim saat bincang bincang sebelum konferensi dimulai. Saya bilang, saya dengan sejumlah tokoh Indonesia dan Amerika Serikat sudah memulai diskusi soal rencana museum ini, dan sudah ada grup WA,” ujarnya.

Dia kemudian menyampaikan usulan agar Universitas Islam Asy-Syafi’iyah  ikut ambil bagian, dan Pak Rektor setuju, imbuhnya. []

Kantor Berita Mi’raj (MINA)