Islamabad, MINA – Prospek untuk menghidupkan kembali proyek pipa gas dan minyak yang telah lama tertunda antara Pakistan dan Iran berpeluang hidup Kembali seiring dengan perkembangan negosiasi damai antara Teheran dan Washington.
Hal ini diungkapkan oleh sejumlah pejabat dan pakar dalam diskusi terkini mengenai proyek tersebut. Dikutip dari Pakistan Today, Sabtu (11/4).
Pakistan dan Iran pertama kali menandatangani perjanjian komersial untuk proyek pipa gas pada tahun 2009, di masa pemerintahan Partai Rakyat Pakistan. Proyek ini kemudian diresmikan secara formal pada tahun 2013 oleh Presiden Iran saat itu, Mahmoud Ahmadinejad, dan mantan Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari.
Pada periode yang sama, kedua negara juga merencanakan pembangunan pipa minyak. Iran bahkan menyatakan minatnya untuk membangun kilang minyak terbesar di Gwadar dengan kapasitas produksi 400.000 barel per hari.
Baca Juga: Warga Lebanon Turun ke Jalan, Tegas Tolak Negosiasi dengan Israel
Namun, semua rencana tersebut tertunda akibat sanksi AS terhadap Iran serta tekanan yang diberikan kepada Islamabad untuk tidak melanjutkan proyek.
Dalam konteks energi yang lebih luas, Arab Saudi pun pernah mengumumkan rencana investasi sebesar 10 miliar dolar AS (Rp170 triliun) untuk sebuah kilang di Gwadar, namun proposal itu juga tidak pernah terwujud.
Harapan Baru di Tengah Negosiasi
Seorang pakar energi menyatakan, “Saat ini, AS dan Iran sedang menegosiasikan kesepakatan damai di Islamabad. Harapan mulai muncul bahwa Washington mungkin akan mencabut sanksi terhadap Teheran, terlebih sudah ada sinyal dari Presiden AS Donald Trump.”
Baca Juga: Studi di Jerman: Hampir Separuh Pemuda Muslim Miliki Pandangan Islamis
Pakar tersebut menambahkan bahwa jika pembatasan sanksi dicabut, hal itu akan membuka ruang bagi Pakistan dan Iran untuk memulai kembali pekerjaan pada pipa gas yang selama bertahun-tahun terhenti.
Kerentanan Energi Pakistan
Perang terbaru di Timur Tengah kembali mengingatkan Pakistan akan kerentanan sektor energinya. Konflik tersebut menunjukkan bahwa Iran memiliki kapasitas untuk mengganggu pasokan minyak dan gas global. Akibatnya, aliran energi ke Pakistan pun sempat terhenti selama pertempuran berlangsung.
Dalam situasi seperti ini, proyek pipa gas dan minyak dianggap sangat potensial bagi Pakistan karena jalurnya akan melewati Selat Hormuz. Dengan demikian, pasokan energi tetap dapat dipertahankan bahkan jika titik-titik kritis global diblokir dalam kondisi perang.
Baca Juga: Meski Perundingan Buntu, Pakistan Desak AS dan Iran Pertahankan Gencatan Senjata
Saat ini, Pakistan memenuhi sekitar 85 persen kebutuhan minyaknya melalui impor. Meskipun negara ini memiliki produksi gas domestik yang cukup besar, Pakistan masih bergantung pada impor gas alam cair (LNG) dari Qatar untuk menutupi kekurangan. Namun, pasokan dari Qatar sempat terhenti setelah fasilitas LNG diserang selama perang. Selain itu, instalasi minyak di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Arab Saudi juga terkena serangan.
Sebagai alternatif, Pakistan sempat mempertimbangkan jalur pipa LNG menuju Gwadar setelah kemungkinan pelonggaran sanksi AS, namun proposal itu juga tertunda. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Tiga Universitas di Kashmir Batalkan Kerja Sama dengan LSM AS
















Mina Indonesia
Mina Arabic