Raja Yordania Abdullah: “Hasutan” Telah Terkubur

Amman, MINA – Raja Yordania Abdullah telah membahas keretakan publik yang jarang terjadi dalam keluarga kerajaan untuk pertama kalinya, dengan mengatakan “hasutan” yang menyebabkan “rasa sakit dan amarah” telah terkubur.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan ke negara itu pada Rabu (7/4), Raja berbicara tentang krisis politik terburuk di Yordania dalam beberapa dekade, yang dipicu oleh dugaan persekongkolan yang melibatkan saudara tirinya Pangeran Hamzah.

Krisis dalam keluarga kerajaan merebak selama akhir pekan, ketika Kepala Staf Militer Yordania mengunjungi Pangeran Hamzah dan memperingatkannya untuk berhenti menghadiri pertemuan dengan para pengkritik pemerintah.

Konflik dengan cepat meningkat, Hamzah menuduh pihak keamanan mengancamnya dan memerintahkan jenderal untuk meninggalkan rumahnya.

Mantan putra mahkota itu mengatakan, dia kemudian ditahan sebagai tahanan rumah dan pihak berwenang menahan 18 orang lainnya, termasuk seumlah mantan pejabat senior.

Pemerintah menuduh Hamzah sebagai bagian dari “rencana jahat” untuk mengguncang negara dengan dukungan asing. Namun keesokan harinya, dikatakan bahwa keluarga kerajaan telah menyelesaikan perselisihan tersebut.

“Saya yakinkan Anda, bahwa hasutan telah dihentikan sejak awal,” kata Raja Abdullah dalam pidatonya yang dibacakan di televisi pemerintah.

“Tidak ada yang mendekati apa yang saya rasakan – syok, sakit dan marah – sebagai saudara dan wali keluarga Hasyimiya dan pemimpin dari orang-orang terkasih ini,” tambahnya.

Raja melanjutkan dengan mengatakan bahwa Yordania terbiasa menghadapi masalah dan menang atas tantangan.

“Sepanjang sejarah kami, kami telah mengalahkan semua target yang mencoba merusak Tanah Air, dan kami keluar darinya lebih kuat dan lebih bersatu,” katanya.

“Tantangan hari-hari terakhir ini bukanlah yang paling berbahaya bagi stabilitas negara – tapi itu yang paling menyakitkan bagi saya,” tambahnya. (T/RI-1/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)