Ramadhan Tumbuhkan Karakter Hidup Berjamaah

Oleh: Insaf Muarif Gunawan, Wartawan MINA

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah. Oleh sebab itu, dalam Ramadhan ini kita disunahkan untuk memperbanyak ibadah serta memakmurkan masjid, mushola, menghadiri taklim, pengajian dan sebagainya. Termasuk qiyamul Ramadhan (tarawih) terutama di penghujung Ramadhan ini.

Bulan Ramadhan adalah bulan diwajibkan atas orang-orang yang beriman untuk melaksanakan puasa, sebuah kewajiban yang sama dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu.

Puasa Ramadhan disyari’atkan pada tahun ke-2 Hijriyah, dan Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam berpuasa sebanyak sembilan kali Ramadhan semasa hidupnya.

Perintah mengerjakan puasa tercantum dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 183).

Di antara hikmah yang mengiringi puasa Ramadhan adalah puasa mendatangkan semangat hidup berjamaah. Mulai dari kita bangun untuk melaksanakan sahur kita berjamaah, jarang sekali kalau kita lihat mereka yang sahur nafsi-nasfsi (sendiri-sendiri). Kemudian puasa juga mengajarkan kita untuk berbuka besama dikenal di Indonesia dengan (Bukber).

Selanjunya jika kita selama ini jarang membaca Al-Quran, maka dengan puasa Ramadhan mendatangkan kebersamaan (jamaah) tadarus bersama di masjid dan masih banyak lagi dengan puasa mendatangkan semangat persatuan.

Puasa Ramadhan juga merupakan salah satu syiar Islam yang menyatukan seluruh kaum Muslim dari ufuk barat hingga ufuk timur.

Puasa Ramadhan senantiasa mengingatkan kita bahwa Tuhan kita adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, agama kita satu Islam, kiblat kita satu yaitu, Ka’bah.

Namun faktanya, kita masih diuji dengan kondisi kaum Muslimin saat ini yang masih terpecah belah dan didzalimi di berbagai negeri. Penjajahan serta gangguan pada Muslimin, terutama yang sedang menghadapi ujian berat, seperti di Palestina, Suriah, Rohingnya, Uighur Cina, Yaman, dan negeri muslim lainnya.

Bukan hanya kewajiban mereka untuk membebaskan diri dan mengusir para penjajah itu, akan tetapi merupakan kewajiban dan tanggung jawab umat Islam di manapun mereka berada untuk membela dan menolong.

Menjauhi kelemahan umat dengan mengupayakan kesatuan umat Islam, merupakan satu keniscayaan dalam menghadapi kezaliman dan pengrusakan syiar-syiar dinul Islam.

Baru-baru ini di Yerusalem, seperti disebutkan minanews.net, pasukan Israel menyerang jamaah di Masjid Al-Aqsa. Banyak yang terluka, sekitar 88 dirawat di rumah sakit.  Bulan Sabit Merah juga sampai mendirikan rumah sakit lapangan  untuk menangani luka ringan dan mengurangi tekanan pada rumah sakit.

Sebagian besar korban mengalami luka pada mata dan wajah akibat intensitas ledakan granat dan peluru karet yang digunakan oleh aparat kepolisian Israel di dalam masjid. Ini lagi-lagi ujian bagi kaum Muslimin tertindas di Palestina.

Selama serangan mereka di situs suci, Polisi Israel menyerbu atap gedung Masjid al-Qibli yang berkubah abu-abu di kompleks Masjid dan memutuskan kabel listrik, membuat bangunan itu menjadi gelap.

Pasukan polisi juga menerobos masuk ke dalam gedung shalat Qibli, menembakkan granat kejut ke jamaah di dalamnya dan kemudian menutup pintunya dengan rantai.

Serangan polisi serupa lainnya terhadap jamaah Muslim juga terjadi di bangunan lain Masjid Aqsa, termasuk ruang sholat Bab al-Rahma, Kubah Batu, dan rumah sakit.

Sejumlah jurnalis dan paramedis dilaporkan mengalami luka-luka setelah dianiaya atau diserang aparat kepolisian dalam peristiwa tersebut.

Bentrokan kekerasan terjadi dengan pasukan polisi di berbagai daerah di Yerusalem, termasuk lingkungan Sheikh Jarrah, dan daerah Bab al-Amud dan Bab Hitta di Kota Tua.

Sebelumnya, pasukan polisi mengizinkan beberapa pemukim Yahudi ekstremis memasuki lingkungan Sheikh Jarrah sementara menolak masuknya warga Palestina ke daerah tersebut untuk berpartisipasi dalam aksi duduk memprotes rencana Israel mengusir penduduk lokal dari rumah mereka.

Namun, nurani tidak dapat dibohongi kebrutalan penjajah terhadap umat Muslim Palestina telah menumbuhkan simpati dunia. Masyarakat mulai “muak” dengan tingkah laku Israel berbagai lapisan masyarakat turun ke jalan-jalan melakukan demontrasi, mengecam dan menghujat, mengecam kejahatan Israel.

Lembaga kemanusiaan yang konsen terhadap perjuangan rakyat Palestina dan pembebasan Masjidil Aqsa, Aqsa Working Group (AWG) mengecam serbuan tentara Israel terhadap jamaah shalat Tarawih di Masjid Al-Aqsa Al-Quds Palestina yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di bulan Ramadhan ini.

“Kami mengecam tindakan kekerasan terhadap kaum Muslimin warga Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa sepanjang bulan Ramadhan yang dilakukan tentara apartheid Israel kepada dunia internasional,” kata Ketua Presidium AWG, M. Anshorullah kepada MINA, Ahad (9/5).

Sementara itu Kementerian Luar Negeri RI dalam pernyataan yang disiarjan akun Twitternya, Ahad (9/5), menyatakan : “Pengusiran paksa dan tindakan kekerasan tersebut bertentangan dengan berbagai resolusi DK PBB, hukum humaniter internasional, khususnya Konvensi Jenewa IV tahun 1949, dan berpotensi menyebabkan ketegangan dan instabilitas di kawasan. 

Kementerian Luar Negeri Qatar menilai tindakan Israel sebagai pelecehan terhadap perasaan jutaan umat Muslim di seluruh dunia dan pelanggaran terhadap HAM dan piagam internasional. Demikian Palinfo melaporkan, Sabtu (8/5). Qatar meminta masyarakat internasional segera menghentikan kekerasan Israel yang berulang-ulang terhadap rakyat Palestina dan masjid Al-Aqsa.

Atas kebiadabannya itu, ratusan kehilangan nyawa, ribuan warga terusir  dari tanah kelahiran dan fasilitas-fasilitas masjid Al-Aqsa tidak sedikit yang rusak akibat kebrutalan Israel.

Umat Islam di manapun berada wajib bertindak, berjamaah membatu meringankan penderitaan kaum Muslimin Palestina dan membebaskan Masjid Al-Aqsa. Ibarat satu tubuh, apabila satu anggota sakit maka anggota tubuh yang lain akan merasakan sakit juga.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda, yang artinya : “Siapa saja yang tidak perduli dengan urusan kaum Muslimin maka dia bukan golonganku.” (HR. Ahmad)

Untuk meringankan beban penderitaan umat Islam yang sedang tertindas banyak cara yang dapat dilakukan, bisa langsung memerangi pasukan kuffar, mengirimkan bantuan sandang pangan, membatu dengan doa. Karena doa merupakan senjata ampuh kaum Muslimin.

Pentingnya Hidup Berjamaah

Mengenai hidup berjamaah dalam Islam merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surah Ali Imran [3]: 103.

واعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا

Artinya: “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan bercerai berai!” (Q.S. Ali-Imran[3]: 103).

Amirul Mukminin Umar bin Khattab, dalam pernyataannya yang sangat mahsyur mengatakan “bahwasanya tidak ada Islam kecuali dengan jamaah, dan tidak ada jamaah kecuali dengan keamiran, dan tidak ada keamiran kecuali dengan ketaatan.”

Kaitannya dengan hikmah Ramadhan yang dapat kita petik, adalah kebersamaan kaum muslimin dalam memenuhi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebulan penuh kita shaum bersama, mengawali dan mengakhiri dengan rukyatul hilal. Di masa Rasulullah Shallahu Alahi Wasalam dan para khalifah yang empat yakni Abu Bakar Assidiq, Umar bin Khotob, Utsman bin Afan dan Ali bin Abi Thalib kebersamaan Ramadhan ini telah memperkokoh kesatuan dan persatuan muslimin. Karena mereka hidup terpimpin dengan satu komando seorang Imaam.

Komunitas muslimin yang berjamaah dan dipimpin oleh seorang imaam atau amir, dalam banyak hadis yang shahih, disebut dengan Jama’atul Muslimin atau Jama’ah Muslimin. Oleh karena itulah, menghadapi zaman yang penuh fitnah ini, pesan Rasulullah shallahu alahi wasalam kepada Hudzaifah bin Yaman, adalah :

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ.

 “Tetaplah kamu dalam Jama’ah Muslimin dan Imaam Mereka.” (Shahih Al-Bukhari, juz 4, hal. 189, no. 3606)

Atas dasar-dasar di atas itulah, kita wajib peduli kepada sesama muslim di manapun berada. Terutama yang sedang menghadapi ujian berat, seperti di Palestina, Suriah, Rohingnya, Uighur Cina, Yaman, dan negeri muslim lainnya. Demikian pula di negeri Indonesia yang kita cintai ini harus diwaspadai. Adanya pihak-pihak yang anti Islam dan bahkan anti agama apapun, mereka berusaha mengadu domba kaum Muslimin dan memporak-porandakan persaudaraan kaum Muslimin.

Ibadah Ramadhan telah menumbuhkan semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan dan saling bahu-membahu. Semangat ini hendaknya terus kita jaga, sehingga dapat menyelesaikan berbagai problema umat Islam dengan megedepankan persatuan. Aamiin. (A/R8/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)