Referendum Swiss Naturalisasi Imigran Muslilm

Sebuah reklame besar seorang wanita bercadar dengan tulisan yang mengajak untuk menolak kewarganegaraan para imigran. Foto: i24news

Swiss, 15 Jumadil Awwal 1438/13 Februari 2017 (MINA) – Swiss melakukan pemungutan suara pada Ahad (12/2) untuk memilih apakah mempermudah imigran generasi ketiga untuk menjadi warga negaranya atau menolak hal itu.

Pemerintah maupun politikus di Swiss disebut mendukung rencana yang akan mempermudah cucu dari para imigran saat melakukan prosedur di imigrasi dan proses keamanan pengurusan paspor.

Al Jazeera melaporkan, hasil referendum tidak sepenuhnya mendukung kemudahan bagi imigran. Hal ini dikarenakan pihak kanan nasionalis, Partai Rakyat Swiss (SVP), menolak hal tersebut dan mengkampanyekan penolakannya.

Partai ini kerap dikenal mendiskreditkan isu Islam dan mempertanyakan identitas nasional negaranya. Sejumlah kritik menilai SVP ingin memperparah sentimen anti Islam. Hal ini diperkirakan memengaruhi hasil referendum.

Menurut sebuah studi departemen migrasi, kurang dari 25.000 orang dari total penduduk sekitar delapan juta di Swiss  adalah imigran generasi ketiga, berarti mereka memiliki setidaknya satu kakek atau nenek yang lahir di Swiss.

Disebutkan pula, hampir 60 persen dari imigran generasi ketiga itu berasal dari Italia, Balkan dan Turki.

Sophie Guignard dari Institut Ilmu Politik di University of Bern menyayangkan banyaknya pihak yang menyamakan isu imigran dengan Islam, meskipun kebanyakan imigran adalah Muslim namun menurutnya isu ini semata-mata hanyalah masalah suaka.

Sophie mengkritik partai SVP, karena berulang kali mendiskreditkan Islam, dengan menyebut jika umat Islam memenuhi Swiss, kemungkinan negara itu akan mulai kehilangan jati dirinya.

Sesaat sebelum referendum dimulai, orang-orang dalam partai yang tergabung dengan organisasi Komite Anti Fasilitas Kewarganegaraan memasang sebuah reklame besar seorang wanita bercadar dengan tulisan yang mengajak untuk menolak kewarganegaraan para imigran.

Aksi ini menuai protes karena dinilai sebagai provokasi, terlebih warga Swiss yang selama ini banyak tidak mengenal Islam kecuali yang muncul dari media saja.(T/RE1/RS3)

 
Mi’raj Islamic News Agency (MINA)