Renungan Zanjabil: Kapal Nabi Nuh Sebagai Tempat ‘Lockdown’

Oleh: Prof. Dr. Abdurrahman Haqqi, Dosen di Universiti Islam Sultan Sharif  Ali (UNISA) Brunei Darussalam asal Bogor Indonesia

Istilah populer hari adalah ‘lockdown‘ sebagai salah satu cara untuk mencegah merebaknya wabak COVID-19. Di mana-mana ada cerita ‘lockdown‘. Kerena tidak terbiasa dengan istilah itu kadang yang menulisnya ‘lock don’t‘ ada juga yang menulis ‘lauk daun‘, macam-macam.

Lockdown adalah aktivitas atau tindakan terbatas. Dengan perkataan lain yakni situasi di mana penghuni di dalam wilayah setempat yang dikunci semasa kondisi darurat untuk menjaga keselamatan.

Dalam istilah teknologi informasi, lockdown mempunyai arti peranti yang menggunakan kunci untuk menjaga komputer dari berpindah atau dicuri atau satu kaedah guna membatasi penggunaan rangkaian komputer hanya pengguna yang berhak menggunakannya, untuk menghindari kerusakan, sebagai contoh, dari para hacker.

Dalam suasana COVID-19 ini lockdown adalah dan tidak terbatas pada Stay at Home dan Social or Physical Distancing agar tidak tertular wabah yang mengerikan itu.

Nabi Nuh AS juga pernah mempersiapkan diri atas perintah Allah SWT untuk me-lockdown agar tidak terkena wabah azab Allah yang akan ditimpakan kepada kaumnya yang sudah didakwahi 950 tahun lamanya. Akan tetapi mereka tetap ingkar kepada baginda.

Allah SWT berfirman artinya: “Dan buatlah bahtera dengan pengawasan serta kawalan Kami, dan dengan panduan wahyu Kami (tentang cara membuatnya); dan janganlah engkau merayu kepadaKu untuk menolong kaum yang zalim itu, karena sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan (dengan topan).” (Surah Hud: 37)

Bentuk dan keluasan bahtera atau perahu asal tempat lockdown tersebut ada yang mengatakan panjangnya 300 hasta, lebarnya 50 hasta dan tingginya 30 hasta.

Adapun bentuknya seperti yang diriwayatkan bahwa Jibril AS mengajarnya membangun bahtera dan Allah memerintahkannya untuk menjadikan kepala bahtera seperti kepala ayam jantan dan bagian depannya seperti burung. Ekornya seperti ekor ayam jantan. Ia mempunyai tiga tingkat. Dipakukan dengan paku besi untuk menguatkan antara kayu-kayu.

Tingkat yang pertama untuk hewan buas dan binatang yang melata serta singa. Pada tingkat kedua, binatang liar dan burung. Dan tingkat ketiga adalah manusia. Dikatakan bilangan anak Adam atau manusia yang menyertai kapal tersebut adalah 80 orang, separuh lelaki dan separuh perempuan.

Ada yang berpendapat, bahtera Nuh itu berukuran lebih luas dari sebuah lapangan bola. Luas pada bagian dalamnya cukup untuk menampung ribuan manusia. Dan, jarak dari satu tingkat ke tingkat lainnya mencapai 12 hingga ke 13 kaki. Juga, hewan-hewan dari berbagai spesies itu jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu ekor.

Mereka terapung dalam bahtera selama 150 hari dan 40 hari bertawaf di Ka’bah kemudian baru mendarat pada 10 Rajab dan berada dalam kapal selama sebulan dan turun ke bumi pada 10 Muharram. Tempat mendaratnya di atas bukit dikenali dengan Bukit Al-Judi.

Dari segi bahasa Al-judi berarti tempat yang tinggi tapi dari sudut pandangan ulama ia di gunung Arara, Turki. Ia berjarak 520 km dari tempat asal mereka di Shuruppak, selatan Iraq.

Menurut Dr Whitcomb, dalam bahtera itu terdapat sekitar 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung, 6.300 jenis reptilia, 2.500 jenis amfibi. Adapun berat perahu itu diperkirakan mencapai 24.300 ton.

Menurut sejumlah penelitian pula, bahtera Nabi Nuh itu diperkirakan dibuat sekitar tahun 2465 SM (Sebelum Masehi).

Nabi Nuh AS dan semua yang bersamanya diselamatkan Allah dalam bahtera tempat lockdown mereka. Allah berfirman artinya: “Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami”. (Surah Hud 48)

Dengan lockdown terencana Nabi Nuh AS terhindar dari topah dan banjir bah yang dahsyat. Mengapa tidak kita juga melakukan lockdown demi menyekat kemarahan COVID-19?

Bukankah begitu?

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Bandar Seri Begawan, 3 April 2020.

 

(AK/R1/P2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)