Jakarta, MINA – Sekitar 7.000 pekerja migran Indonesia (PMI) yang mayoritas berasal dari Jawa Timur dilaporkan terjebak di sejumlah negara Timur Tengah setelah meningkatnya eskalasi konflik militer antara Israel dan Iran. Situasi keamanan yang memburuk serta gangguan transportasi udara membuat banyak pekerja migran tidak dapat kembali ke Indonesia untuk sementara waktu.
Data tersebut disampaikan berdasarkan sistem pendataan pemerintah yang mencatat keberadaan PMI di berbagai negara kawasan Timur Tengah baru-baru ini. Sebagian besar dari mereka bekerja di sektor domestik, konstruksi, hingga layanan jasa di negara-negara Teluk yang kini terdampak ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Adapun rinciannya, berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI) periode 2022-2026, mayoritas PMI asal Jatim tersebar di Arab Saudi (3.994 orang), Turki (958 orang), dan Qatar (638 orang). Sementara di titik api konflik, tercatat ada 13 PMI di Yordania dan 1 PMI di Lebanon.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) menyatakan terus memantau perkembangan situasi dan memastikan kondisi para PMI tetap aman.
Baca Juga: Harga Jual Emas Hari Ini, Jumat 6 Maret 2026
Otoritas terkait juga berkoordinasi dengan perwakilan RI di negara-negara Timur Tengah guna memberikan perlindungan serta memastikan jalur komunikasi dengan para pekerja tetap terbuka.
Selain PMI, konflik di kawasan itu juga berdampak pada mobilitas warga negara Indonesia lainnya, termasuk jamaah umrah dan pekerja sektor jasa. Penutupan sebagian wilayah udara serta pembatasan penerbangan membuat jadwal perjalanan ke dan dari Timur Tengah mengalami gangguan, sehingga sejumlah warga Indonesia harus menunggu hingga situasi lebih kondusif.
Para pengamat menilai, meningkatnya eskalasi militer di Timur Tengah berpotensi menimbulkan risiko bagi jutaan pekerja migran Asia yang bekerja di negara-negara Teluk. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu tujuan utama tenaga kerja dari Indonesia, Filipina, Bangladesh, dan negara Asia lainnya.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan militer besar yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran ke sejumlah target di kawasan Teluk, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil, termasuk pekerja migran asing yang jumlahnya mencapai jutaan orang di wilayah tersebut. []
Baca Juga: [Bedah Berita MINA] Serangan Gabungan AS–Israel ke Iran, Apa Dampaknya?
Mi’raj News Agency (MINA)















Mina Indonesia
Mina Arabic