Ribuan Pengungsi Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Kebakaran di Kamp Moria

Athena, Yunani, MINA – Ribuan pengungsi kehilangan tempat tinggal setelah kebakaran melanda Moria, kamp pengungsi yang terkenal penuh sesak di pulau Lesbos Yunani, di mana sekitar 13.000 orang telah tinggal di ruang yang dirancang hanya untuk kurang dari 3.000 orang.

Penyebab kebakaran masih belum jelas, tapi diperkirakan api berasal dari dalam kamp dan mulai menyebar dengan cepat melalui lereng bukit yang padat, AlJazeera melaporkan, Rabu (9/9).

Area yang cukup luas dari situs yang luas itu terbakar menjadi abu, dengan laporan dari pejabat setempat bahwa sekitar 70 persen kontainer dan tenda telah hancur.

“Situasinya tak tertahankan dan sulit bagi kami, saat ini kami tunawisma di jalan,” Mohammad Hanif Joya, seorang Afghanistan berusia 35 tahun, mengatakan kepada Al Jazeera saat dia duduk di jalan bersama keluarganya, termasuk empat anak.

“Kami hanya menyelamatkan anak-anak dan diri kami sendiri. Semua pakaian dan barang kami terbakar dalam api,” katanya.

Joya bilang mereka tidak punya makanan dan air.

“Moria terbakar habis. Semua orang di jalan di bawah terik matahari,” tambahnya.

Penduduk kamp melarikan diri setelah kebakaran terjadi, mengambil semua barang mereka yang tersisa.

Sebuah laporan yang belum dikonfirmasi mengatakan ada blokade yang dilakukan polisi di sepanjang jalan antara Moria dan Mytilene, mencegah para pengungsi mencapai kota utama.

Kebakaran membawa tragedi baru bagi penghuni kamp yang saat ini berada di bawah pembatasan karantina akibat wabah COVID-19 pekan lalu, kasus sejak itu terus meningkat.

Menanggapi kebakaran tersebut, Ylva Johansson, Komisaris Eropa untuk Urusan Dalam Negeri men-tweet bahwa dia telah setuju untuk membiayai transfer segera ke daratan dari 400 anak dan remaja tanpa pendamping yang tersisa, jumlah yang akan mencakup akomodasi.

“Keamanan dan perlindungan semua orang di Moria adalah prioritas,” katanya.

Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis memanggil para menteri ke pertemuan darurat.

Faris Al-Jawad dari Doctors Without Borders, yang dikenal dengan inisial bahasa Prancisnya MSF, mengatakan bahwa kelompoknya masih belum mengetahui dengan jelas apakah ada korban luka atau kematian.

Sebagian besar penduduk Moria berada di jalan antara Moria dan kota utama Mytilene, dengan beberapa orang sekarang kembali ke situs tersebut untuk mengumpulkan barang apa pun yang bisa mereka selamatkan.

“Ini adil untuk mengatakan bahwa setelah lima tahun menjebak orang dalam kondisi biadab dan tidak manusiawi, pada titik tertentu hal seperti ini tidak bisa dihindari,” katanya.

“Tampaknya tidak mungkin bagi setiap orang untuk kembali ke Moria besok, semua orang perlu dievakuasi ke tempat yang aman di daratan atau ke negara Uni Eropa lainnya,” tambahnya.

Ali Mustafa, warga Moria berusia 19 tahun, mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tidur.

“Saya melihat hal-hal buruk dengan mata saya. Tidak ada yang tersisa dan sebagian besar orang tidur di jalanan, mereka tidak punya uang untuk membeli apa pun,” ujarnya. (R/R7/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)