Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rupiah Ditutup di Rp17.966 per Dolar AS

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Rabu, 3 Juni 2026 - 20:27 WIB

Rabu, 3 Juni 2026 - 20:27 WIB

130 Views ㅤ

Ilustrasi rupiah dan dolar. (foto: istimewa)

Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan, Selasa (2/6), dengan berada di level Rp17.966 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan tersebut menempatkan rupiah semakin dekat ke level psikologis Rp18.000 per dolar AS, yang menjadi perhatian pelaku pasar dan otoritas moneter.

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan dolar AS masih berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait perkembangan hubungan AS-Iran dan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz turut memicu kenaikan harga energi dunia.

Baca Juga: Menko Yusril: Kasus Penyadapan Presiden Belum Mengarah ke Makar

Situasi tersebut meningkatkan risiko inflasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kebijakan tersebut membuat aset berbasis dolar tetap menarik bagi investor internasional.

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi tingginya permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor dan pembayaran korporasi. Di saat yang sama, sebagian investor asing masih melakukan penyesuaian portofolio di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang nasional.

Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen yang dimiliki. Langkah intervensi di pasar valuta asing, pembelian surat berharga negara, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah menjadi bagian dari strategi menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

Pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter AS. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif kuat dengan inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif.

Baca Juga: Listyo Sigit Ditahan di Mabes Polri, Kasus Penyadapan HP Presiden Prabowo

Namun, apabila tekanan eksternal terus berlanjut, rupiah berpotensi menguji level Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Mantan Kapolri Listyo Sigit dan Dua Jenderal Polri Ditangkap Terkait Penyadapan Nomor Telepon Presiden

Rekomendasi untuk Anda