Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.952 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (11/6). Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor memburu aset-aset aman, termasuk dolar AS.
Berdasarkan data perdagangan pagi di Investing.com, rupiah mengalami penurunan dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam didorong meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai instrumen lindung nilai di tengah memanasnya situasi internasional, khususnya konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan global. Ketika risiko geopolitik meningkat, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang dan mengalihkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Jika suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama, arus modal asing ke negara berkembang berpotensi mengalami perlambatan sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang, termasuk rupiah.
Baca Juga: DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Hak Pekerja Diperkuat
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga.
Cadangan devisa yang kuat, inflasi yang terkendali, serta kinerja ekspor yang cukup baik dinilai dapat membantu meredam gejolak nilai tukar. Bank Indonesia juga memiliki berbagai instrumen stabilisasi yang dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing.
Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor, terutama untuk kebutuhan energi dan bahan baku industri.
Namun di sisi lain, nilai tukar yang lebih lemah berpotensi memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor. Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan situasi geopolitik global yang diperkirakan masih menjadi faktor utama pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan. []
Baca Juga: Kemenag Dukung Amil Zakat Profesional dan Bersertifikat
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic