Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS Kamis Ini

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Kamis, 11 Juni 2026 - 10:21 WIB

Kamis, 11 Juni 2026 - 10:21 WIB

83 Views ㅤ

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Global dan Arus Modal Jadi Sorotan
ilustrasi rupiah melemah di hadapan dolar (foto : x)

Jakarta, MINA – Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.952 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (11/6). Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor memburu aset-aset aman, termasuk dolar AS.

Berdasarkan data perdagangan pagi di Investing.com, rupiah mengalami penurunan dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Penguatan mata uang Negeri Paman Sam didorong meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai instrumen lindung nilai di tengah memanasnya situasi internasional, khususnya konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan global. Ketika risiko geopolitik meningkat, investor cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang dan mengalihkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Jika suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama, arus modal asing ke negara berkembang berpotensi mengalami perlambatan sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang, termasuk rupiah.

Baca Juga: Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah Samarinda Semarakkan BSP dengan Lomba dan Market Day

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga.

Cadangan devisa yang kuat, inflasi yang terkendali, serta kinerja ekspor yang cukup baik dinilai dapat membantu meredam gejolak nilai tukar. Bank Indonesia juga memiliki berbagai instrumen stabilisasi yang dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing.

Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor, terutama untuk kebutuhan energi dan bahan baku industri.

Namun di sisi lain, nilai tukar yang lebih lemah berpotensi memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor. Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan situasi geopolitik global yang diperkirakan masih menjadi faktor utama pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan. []

Baca Juga: Semeru Erupsi Dua Kali Hari Ini, Warga Diminta Jauhi Aliran Besuk Kobokan

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia