Saya Lupa, Ya Rabb

oleh Arief Rahman, Pemimpin Umum Kantor Berita MINA
Bagi seorang manusia, lupa itu manusiawi. Bahkan dalam Al Quran pun sudah dijelaskan, bahwa manusia tempatnya alpa dan lupa. Tidak kurang 21 ayat berbicara tentang lupa. Salah satunya sebagaimana yang dijelaskan dalam surat Thaha  ayat 126

 قَالَ كَذَ‌ٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَ‌ٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ

Allah berfirman: Demikianlah keadaannya! Telah datang ayat-ayat keterangan Kami kepadamu, lalu engkau melupakan serta meninggalkannya dan demikianlah engkau pada hari ini dilupakan serta ditinggalkan.

Salah satu cara untuk menghindari lupa adalah mencatat. Permasalahannya adalah ada yang mencatat memang niat agar tidak lupa, ada pula yang mencatat agar lupa. Singkatnya lupa yang dikondisikan. Dikondisikan dengan keinginan pribadi dan golongannya dengan melihat kondisi masyarakat yang pelupa.

Masyarakat pelupa ini juga berbahaya. Dengan mudahnya menjadi obyek dari yang sengaja ingin membuat lupa. Sebabnya pun bisa berbagai rupa. Harta, tahta dan wanita bisa menjadi alasan seseorang lupa. Dijaman modern ini pun ditambahkan dengan istilah toyota (kendaraan-red). Sebagaimana firman Allah SWT didalam Al Quran :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآب

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Lupa bisa terjadi pada saya, anda dan kita semua. Lupa akan janji, lupa sejarah, lupa kalau tidak bisa. Bahkan lupa atas pilihan untuk bangsanya. Lupa kalau kita pemilik bangsa. Lupa sejatinya kita adalah makhluk. Allah SWT mengingatkan kita dalam surat Al A’raf 72

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Bagi sebuah bangsa lupa, bukan hanya berbahaya tapi juga dapat membuat prahara. Lupa bersikap tidak adil, lupa ngutang bahkan lupa sejarah dan tokoh bangsa. Apalagi lupa kalau dirinya pemimpin yang diamanati rakyat kaya, jelata dan papa saat pilpres dan pilkada.
 
Lupa juga berbanding lurus dengan dosa. Dosa-dosa yang terlupakan dan dilupakan itu yang paling berbahaya. Karena akan menimbulkan lupa kuadrat. Lupa dengan tingkat keakutan yang luar biasa.
Imam Syafi’i pernah berkata,“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ (guru) tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190). 
 
Untuk menghindari lupa, biasakan berdoa. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Abu Hurairoh yaitu

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا لاَ يُنْسَى

Ya Allah, saya mohon kepada-Mu ilmu yang tidak pernah dilupakan

Maka marilah kita berdoa minta ampun karena lalai dan lupa. Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia yang akan bertanya di saat kita tidak bisa menjawab dengan jawaban Saya Lupa , Ya Rabb
 
فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ ۖ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Maka rasakanlah siksa ini disebabkan kamu melupakan pertemuan dengan harimu ini (hari kiamat); sesungguhnya kami telah melupakan kamu pula dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan. (QS As Sajdah : 14) 

Naudzubillah Min Dzalik.(A/PU/P2)