Semangat Ramadhan di Bulan Syawwal

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Pesantren Dai Al-Fatah, Redaktur Senior MINA

Bulan Ramadhan baru saja meninggalkan kita. Bulan Syawwal pun datang menyapa.

Kehadirannya, kita kita syukuri sebagai tanda kemenangan setelah berpuasa, sebulan lamanya.

Rasa syukur yang kita iringi dengan meningkatkan iman dan takwa, meningkatkan amal ibadah serta meningkatkan kesungguhan dalam memperibadati-Nya, memantaskan diri sebagai hamba-Nya. Lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Syawwal berarti meningkat. Ini berarti apa yang terjadi pada bulan ini. Kita dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan amal ibadah dan kebaikan.

Hal demikian adalah hasil dari pelatihan ibadah sepanjang bulan Ramadhan. Bulan di mana pada siang hari kita berpuasa, memegang diri, dan juga pada malam hari membawa kita mengerjakan shalat malam, tadarus Al-Quran, menuntut ilmu, dzikir, tafakkur, serta ibadah-ibadah lainnya.

Maka dengan otomatis, hal ini mestinya terus berlanjut pada bulan berikutnya. Demikian seterusnya, dari bulan ke bulan, sampai bertemu Ramadhan berikutnya semakin meningkat takwa kita.

Dan manakala, mulai tampak lelah, ponsel ibarat sudah mulai ngedrop. Maka, datanglah kembali bulan Ramadhan, sebelas bulan mendatang, untuk mengisi kembali iman dan amal shaleh di dalamnya.

Kualitas iman dan takwa. Ini yang utama, bagaimana puasa dengan “imaanan whtisaaban”, yaitu puasa yang diiringi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha Allah.

Keimanan dan ketakwaan ini, kita jaga dari bujuk rayu syaitan dan dunia seisinya. Tetap tenang sampai menghadap Allah dalam iman Islam.

Allah menjawab di dalam ayat:

َ َ ٰٓ ٰٓ َ َ َ َّ َّ ٱ َّ ْ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa untuk-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati dalam situasi Islam ”. (QS Ali Imran [3]: 102).

Hal lain yang harus dijaga adalah kualitas ibadah. Terutama sekali adalah ibadah pokok yaitu shalat fardhu berjama’ah. Marilah jangan sekali-kali kita pergi dari ibadah shalat fardhu ini, karena ini adalah ibadah pokok yang telah ditentukan waktu-berlalu.

Allah Ta’ala berfirman:

… ..فَأَّقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ كِتَـٰبً۬ا مَّوۡقُوتً۬ا

Artinya: “… ..maka dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu adalah prioritas yang ditentukan atas orang-orang yang beriman ”. (QS An-Nisa [4]: ​​103).

Pada ayat lain disetujui:

وَأَقِمْ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرََََََََََََُ

Arti: “Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (tindakan- tindakan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ”(QS Al-Ankabut [29]: 45).

Kualitas akhlak dengan sesama. Ini juga, marilah kita masing-masing pribadi menjadi contoh dalam kebaikan, uswatun hasanah, mengambil suri teladan Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam.

Ini membahas pada ayat:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ لِّمَن كِّانَ يَرۡجُواْ ٱللَّ ٱ َّ َّ َّ َّ َٱ َٱ َٱ

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada dirimu sendiri” Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu [yaitu] bagi orang yang mengharap [rahmat] Allah dan [pergi] hari kiamat dan dia lebih banyak memanggil Allah. “(QS Al-Ahzab [33]: 21).

Tentang keutamaan yang disetujui oleh akhlak ini, meminta di dalam hadits di meminta:

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها ، وخالق الناس بخلق حسن

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun berada berada, dan dibawa setelah melakukan kejelekan demi kebaikan yang dapat menyelamatkannya. Serta bergaul dengan orang lain dengan akhlak yang baik ‘”(HR Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Dzar Al-Ghifari).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga berperan, yang takwa dan akhlak yang baik adalah amalan yang menjadi faktor utama yang masuk ke dalam surga. Seperti mengembalikan di dalam hadits:

أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ

Artinya: “(Hal) yang paling banyak mengirim orang ke surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.” (HR Ahmad, AtTirmidzi, dan Ibnu Majah).

Ditegaskan juga, mukmin atau muslim terbaik adalah muslim yang paling baik budi pekertinya.

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya” (HR Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi, al-Hakim).

Dari kualitas iman dan takqwa, amal ibadah dan akhlak mulia, selanjutnya diikuti dengan dukungan kinerja dalam pekerjaan sehari-hari, perhatian terhadap keluarga yang menjadi tanggung jawabnya, kepedulian terhadap orang-orang yang dipimpinnya, serta terhadap sesama manusia, dan seterusnya.

Terkait meningkatkan persaudaraan, ikatan ukhuwah islamiyyah kal jasadil wahid antarsesama orang-orang beriman, bil jama’ah.

Semuanya meningkat dalam ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sebagai hasil dari pelatihan siang-malam sepanjang bulan suci Ramadhan. (A / RS2 /P1)

Kantor Berita Mi’raj (MINA)

Comments are closed.