Semangat Warga Shalat Tarawih di antara Reruntuhan Masjid di Gaza

Shalat berjamaah di bulan ramadhan 1445 Hijriyah di Jalur Gaza (Almanisa Press)

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA News

Suara azan memang sudah tak lagi terdengar dari speaker masjid-masjid di sepanjang Jalur Gaza yang hancur, akibat bombardir pasukan pendudukan Israel.

Namun semangat warga untuk menunaikan shalat Tarawih berjamaah tetap menyala, mengisi malam-malam bulan suci Ramadhan 1445 yang penuh keberkahan.

Warga Muslim Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsian, sambil menahan lapar karena tidak ada makanan yang mencukupi, pakaianpun belum berganti beberapa bulan karena memang tidak ada baju sebagai salin.

Sang bilal pun mengumandangkan azan di atas reruntuhan masjid, yang sebagian besar dihancurkan oleh tentara pendudukan Israel.

Ya, shalat Tarawih bulan Ramadhan tahun ini tetap berlangsung khidmat, di sejumlah sisa-sisa masjid yang hancur. Sisa-sisa masjid itu seperti Masjid Agung Omari dan Masjid Abbas di Kota Gaza, serta Masjid Al-Farouq di Kamp Al-Shaboura, di Kota Rafah Perbatasan Mesir dengan Gaza.

Selain menggelar shalat Tarawih di atas reruntuhan bangunan masjid, ratusan warga di kamp-kamp pengungsian juga terpaksana melaksanakan shalat di lapangan dan di pinggir-pinggir jalan, yang sudah dirapikan terlebih dulu.

Kementerian Wakaf di Gaza melaporkan, ada sekitar 1.000 masjid dari 1.200 masjid di sepanjang Jalur Gaza yang hancur, baik seluruhnya atau sebagian, akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023. Serangan itu juga telah menewaskan lebih dari 100 imam dan khatib masjid.

Imam Masjid Agung Al-Omari, Syaikh Fadi Arif, memimpin shalat Isya dan Tarawih berjamaah di reruntuhan masjid yang hancur di tengah Kota Tua, Kota Gaza.

Syaikh Arif memimpin jamaah di halaman atas reruntuhan masjid, yang dibangun pada era Mamluk dan Utsmaniyah tersebut.

Masjid Al-Omari didirikan lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Ini adalah salah satu masjid terbesar dan paling kuno di Gaza, dan masjid terbesar ketiga di Palestina, setelah Masjid Al-Aqsa dan Masjid Ahmed Pasha Al-Jazzar di Acre.

Ada juga Masjid Al-Abbas di lingkungan Al-Rimal, yang merupakan salah satu masjid tertua di Kota Gaza.

Masjid tersebut dihancurkan oleh pesawat Israel pada pekan pertama perang. Warga sekitar pun melaksanakan shalat berjamaah di alun-alun kecil yang berdekatan dengan masjid yang hancur.

Imam Masjid dalam doanya usai Tarawih memohon kepada Allah agar menurunkan pertolongan-Nya dan memberikan perdamaian dan stabilitas di Gaza.

Adzan pun tetap berkumandang dan shalat berjamaah tetap berlangsung sepanjang bulan ramadhan ini di masjid-masjid Gaza yang hancur

. Di antaranya di kamp pengungsi di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, kamp pengungsi Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah, dan kamp pengungsi kota Jabalia di Jalur Gaza utara, selain juga di Kota Gaza.

Jamaah warga juga tetap menjalankan shalat berjamaah di puluhan masjid yang hancur di lingkungan Al-Tuffah dan Al-Shujaiya di Kota Gaza, kamp pengungsi Jabalia, dan kota Deir Al- Bala.

Anak-anak kecil tak berdosa, keluar malam, di tengah cuaca dingin menusuk tulang, untuk ikut serta dalam barisan shalat Tarawih di atas rerntuhan masjid.

Seorang gadis kecil yang ikut shalat Tarawih, bernama Maroh Al-Mashukhi, berasal dari sebuah keluarga di sebelah Masjid Al-Farouq di jantung kamp pengungsi Al-Shaboura, yang merupakan salah satu masjid tertua di kota Rafah di selatan Jalur Gaza.

Tanggal 22 Februari 2024 merupakan kali kedua pendudukan Israel menghancurkan masjid itu, setelah hancur total pada perang tahun 2014.

“Kami tetap berpuasa dan shalat berjamaah, walau tidak segembira tahun lalu,” ujar Maroh.

Dia dan teman-teman sepermainannya mengibarkan bendera kecil Palestina di atas reruntuhan Masjid Al-Farouq yang hancur, di Kamp Al-Shaboura, Rafah.

Maroh dan anak-anak tetangganya, biasanya bersenang-senang dan berjalan-jalan menjelang berbuka puasa, dihiasi dengan warna-warni dan lentera, serta lampu-lampu yang menerangi menara masjid dan kubahnya, bergembira menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Warga lainnya, Mahmoud Al-Hamayda, salah satu pendiri Masjid Al-Farouq, harus menahan rasa sakitnya dan bersikeras untuk tetap menghadiri shalat Tarawih berjamaah di atas kursi rodanya.

Pemuda ini selamat dari serangan udara Israel 4 bulan lalu, dan mengatakan, “Cukup dengan pembunuhan. Meski kami sangat sedih atas kejadian yang menimpa masjid kami, serta cuaca dingin dan angin yang semakin kencang di malam hari, kami tetap bertekad untuk memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah”.

“Pendudukan menghancurkan masjid dan kenangan kami, dan merampas kebahagiaan kami dalam mengajak anak-anak kami shalat berjamaah dan bertemu keluarga serta orang-orang terkasih. Namun itu tak melemahkan semangat kami untuk tetap shalat berjamaah, walau di atas reruntuhan masjid,” ujarnya tegar, walau harus menahan kesedihan mendalam.

Ada sekitar seribu jamaah yang menghadiri shalat Tarawih di Masjid Al-Farouq.

Dewan Masjid, Khairy Abu Sinjar, menyampaikan pesan dari sejumlah besar jamaah, “rakyat Palestina kami berakar di tanah kami dan berakar di masjid-masjid kami.”

Jamaah tetap menunjukkan kegembiraan mereka dalam menghidupkan ibadah di bulan suci Ramadhan, khususnya shalat Tarawih, meskipun di atas reruntuhan masjid, di alun-alun, di pinggir-pinggir jalan, hingga di kamp-kamp pengungsian. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Ikuti saluran WhatsApp Kantor Berita MINA untuk dapatkan berita terbaru seputar Palestina dan dunia Islam. Klik disini.