Seminar tentang Syaikh Ahmad Syurkati, Pembaharu Pemikiran Islam di Indonesia

Jakarta, MINA – Ketua Panitia Pengusul Syaikh Ahmad Syurkati sebagai Pahlawan Nasional yang juga sebagai Wakil Ketua Pusat Dokumentasi (Pusdok) Kajian Al-Irsyad Al-Islamiyah Bogor Ir. Zeyd Ammar mengatakan, Syaikh Ahmad Syurkati adalah ulama besar dan seorang pembaharu pemikiran Islam yang pertama dan utama di Indonesia.

“Sebagaimana disebutkan sebelumnya oleh Abdurrahman dalam sambutannya,  tokoh pembaharu Islam Nurcholis Majid, ketika saya masih mahasiswa, selalu mengatakan, orang yang betul-betul seorang mujadid adalah Syeik Ahmad Syurkati karena dia selalu ada di pusaran-pusaran pusat pembaharuan Islam,” ucap Zeyd dalam Seminar Syeikh Ahmad Syurkati Pejuang Pendidik dan Pembaharu Islam pada Selasa (17/9), di Pusat Perbukuan Pasar Kenari, Salemba, Jakarta Pusat.

Seminar tentang Syurkati, pendiri Al-Irsyad pada tahun 1915 ini, digelar oleh Pusat Dokumentasi & Kajian Al-Irsyad Al-Islamiyah, dengan tujuan   mengenalkan seorang tokoh luar biasa yang dilahirkan di tengah tengah pusaran gerakan Tajdid, abad 20. Ia berada pada arus utama  dalam gerakan ini.

Gerakan Tajdid atau pembaharuan ini lebih dikenal dalam khasanah sejarah gerakan Islam dengan sebutan Pan Islami.

Zeyd memaparkan selanjutnya, berbicara mengenai Tokoh Syeikh Ahamad Syurkati tentu tidak lepas dari Al-Irsyad Al-Islamiyah, berbicara Al-Irsya Al-Islamiyah tentu tidak bisa dipisahkan dengan Ahmad Syurkati. “Keduanya bagaikan dua sisi dari mata uang yang tidak terpisahkan,” tuturnya.

“Ahmad Syurkati memiliki jiwa ketokohan, jiwa seorang ideolog, mukhti dan Ulama Alim Besar yang hafal kibussuttah (perbandingan kitab empat mashab) yang dikuasainya secara utuh. Ia adalah seorang yang memiliki jiwa ketokohan dan hafal Alquran di usia muda,” katanya.

Seminar juga menampilkan, sejarawan berkebangsaan Jepang, Motoki Yamguci,  seorang peneliti gerakan dakwah di Indonesia.

Ia memaparkan model pendidikan yang dibuat oleh Syekh Ahmad Surkati, serta pengaruhnya kepada pemahaman Islam, pengaruhnya pada  masyarakat di Indonesia sampai kepada pengaruhnya bagi  para Founding Fathers negeri ini.

“Di Jepang ada banyak peneliti-peneliti mengenai sejarah ulama-ulama dan tokoh-tokoh  Indonesia. Seperti saya meneliti Ahmad Syurkati,” kata Yamguci.

Ia menjelaskan,  ia meneliti dua hal. Yang pertama, karya-karya ilmiah  Syeikh Ahmad Syurkati  yang akademis ; dan kedua aktivitasnya dalam masyarakat Islam dan dan dalam pergerakan Islam di Indonesia pada zaman Belanda.

“Nama Ahmad Syurkati sangat terkenal di luar negeri karena karya-karya  ilmiahnya. Misalnya buku yang berjudul Modernisme Islam, yang mengupas pembaharuan Islam di seluruh dunia,” ucapnya.

Ahmad Syurkati terlahir dengan nama Ahmad bin Muhammad Surkati Al-Anshori pada sekitar 1875 M di Udfu, pulau Arqu dekat kota Dongola, Sudan dan meninggal 6 September 1943. Kata Syurkati diambil dari bahasa Dongolawi yang berarti Banyak Buku (Sur, buku; Katti, banyak), karena kakeknya memiliki banyak buku, ia banyak membaca buku-buku itu ketika di rumah.

Diyakini bahwa ia adalah keturunan seorang sahabat nabi bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshori.

Syurkati, dalam usia sekitar 67 atau 68 tahun, pada Agustus 1915, mendirikan organisasi Jam’iyah Al-Islah Wa Al-Irsyad Al-Arabiyah (Perkumpulan Arab untuk Reformasi dan Pengajaran), yang kemudian berubah menjadi Jam’iyah Al-Islah wal Irsyad Al-Islamiyyah, yang lebih umum disebut sebagai Al-Irsyad Batavia. (L/Gun/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)