Semua Bertasbih Kepada Allah

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita Islam MINA, Pembina Ma’had Tahfidzul Quran DTI Bekasi Jawa Barat

Semua makhluk sunggu bertasbih, mensucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan. Semua makhluk yang ada di langit : para malaikat, matahari, bulan, gugusan bintang-bintang, planet-planet di galaksi, semua bertasbih.

Makhluk yang ada di bumi : lautan, pegunungan, bebatuan, pepohonan, dan segala yang ada di dalam bumi. Semuanya juga bertasbih.

Hanya kita tidak mengetahui cara bertasbihnya mereka. Hanya manusia dan bangsa jin yang tidak semuanya bertasbih. Sangat sedikit yang bertasbih kepada-Nya.

Allah menyebutkan di dalam kalam suci-Nya:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

Artinya: “Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) ibadah dan tasbihnya, dan  Allah Maha Mengatahui apa yang mereka kerjakan.” (QS An-Nuur/24 : 41)

Pada ayat lain disebukan:

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Artinya: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS Al-Isra/17: 44).

Maka, menjadi wajar dan standar minimal, ketika kita selesai shalat, kita pun bertasbih, mengucapkan “Subhaanallaah”, 33 kali.

Lebih baik lagi, jika kita mampu dan mau bertasbih di pagi dan sore hari, mengiringi dzikir pagi. Mau tidur bertasbih, di sepertiga malam juga tidak bertasbih. Subhanallaah.

Sementara semuanya Allah penuhi segala keperluan kita. Udara yang bebas dihirup, darah yang mengalir tanpa perlu kita atur caranya. Juga karunia mata yang masih bisa melihat, telinga yang masih dapat mendengar, dan anggota tubuh yang walau kadang sesekali sakit, tetap masih dapat digunakan selama hayat di kandung badan.

Kalau waktu untuk bertasbih secara lisan, usai shalat yang hanya beberapa menit, kalau tidak mau dikatakan beberapa detik. Sebagian dari kita saja masih ada yang enggan melakukannya. Selesai shalat langsung bangkit dan pergi. Mengapakah tidak duduk sebentar untuk bertasbih, berdzikir dan berdoa kepada Allah Yang Maha Suci, Maha Agung lagi Maha Besar.

Sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdzikir setelah shalat, termasuk bertasbih. Para sahabat juga berdzikir, para syuhada, shalihin dan siddiqin, semuanya berdzikir, dan bertasbih usai shalat. Kalau kemudian kita tidak atau enggan bertasbih, enggan berdzikir usai shalat. Lalu kita mau mencontoh siapa lagi?

Padahal jalan yang kurus, sirothol mustaqim, itu adalah jalan yang pernah ditempuh oleh para pendahuu kita, dari kalangan Nabi dan Rasul, para syuhada, siddiqin dan shalihin.

Padahal, kalau kita membuka, membaca dan membuat komen WhatsApp kalau dihitung 24 jam sehari semalam, bisa berjam-jam. Bincang-bincang, ngobrol, bisa berjam-jam. Travelling, shopping, jalan-jalan, juga sanggup berjam-jam.

Jangan sampai kita terkena sifat-sifat orang-orang yang fasik, yang rusak imannya, hingga masuk ke karakter munafik. Na’udzubillah.

Bukan mereka tidak bertasbih, atau berdzikir secara umum. Mereka berdzikir juga, tapi sedikit. Bukan mereka tak infaq, mereka juga infaq tapi enggan. Bukan juga tak shalat, shalat juga tapi malas.

Padahal di dalam shalat, saat ruku bertasbih, dalam sujud pun bertasbih. Memuji-Nya.

Lalu, mengapa kita perlu bertasbih? Ya, karena setiap hari, bukan hanya setiap hari, setiap jam. Bukan hanya setiap jam, setiap menit. Kalau tidak mau disebut tiap detik. Kita manusia  berpotensi melakukan sesuatu yang menyalahi kesucian zat yang Maha Suci. Menodai kesucian jiwa, juga kesucian zahir badan.

Mulai dari berpikiran kotor, berniat buruk, bersu’udzan. Merencakan jika punya ini, itu, untuk digunakan yang tidak sesuai petunjuk Allah.

Pandangan mata, pendengaran telinga, hingga sentuhan-sentuhan kulit dan fisik. Yang semua menodai kesucian keimanan.

Sudah begitu, kok masih belum mau bertasbih, sedikit bertasbih, sedikit sekali bertasbihnya.

Katanya manusia makhluk mulia, tapi masih kalang dengan dedaunan, dengan pasir-pasir di pantai, dengan burung-burung mengangkasa, dengan cicak-cicak di dinding, dengan nyamuk, dengan kerbau. Karena semuanya bertasbih memuji Allah. Astaghfirullahal ‘Adzim.

Semoga Allah bimbing kita untuk menjadi hamba yang pandai bertasbih, yang menikmati saat berdzikir kepada-Nya. Aamiin. (A/RS2/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)