Serah Terima RS Indonesia di Myanmar

(Foto: MER-C)

Naypyidaw, MINA – Pemerintah Indonesia menyerahkan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar kepada pemerintah Myanmar, dalam sebuah acara  di Kantor Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, Naypyidaw, pada Selasa (10/12).

Serahterima secara simbolis dilakukan Pemerintah Indonesia yang diwakili Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Prof. Dr. Iza Fadri kepada Pemerintah Myanmar diwakili Menteri Kesehatan dan Olahraga Myanmar Dr. Myint Htwe.

Hadir mendampingi Dubes Indonesia untuk Myanmar, Koordinator Relawan Lembaga Kemanusiaan Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue – Comittee (MER-C) , Dr. Tonggo Meaty Fransisca, dan Kepala Kantor Palang Merah Indonesia (PMI), Sunarbowo Sandi Hardjosudiro.

Dalam sambutannya, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, menyatakan ucapan terima kasih dan apresiasi atas kerja PMI dan MER-C sebagai inisiator dan eksekutor pembangunan Rumah Sakit Indonesia ini.

“Selama pelaksanaan pekerjaan konstruksi, tim MER-C yang berada di lapangan telah menghadapi banyak tantangan seperti, kendala keamanan, hujan yang terus menerus sehingga menyebabkan banjir, dan kesulitan dalam mencari pekerja dan material serta performance kontraktornya” kata Dubes Iza.
Profesor dalam bidang hukum itu juga menyampaikan penghargaan khusus kepada empat orang tim MER-C yang telah berada di lokasi selama proses pengerjaan pembangunan hingga selesai.

“Saya ingin menyampaikan penghargaan khusus kepada empat orang pengawas dari MER-C Indonesia, Saudara Nur Ikhwan Abadi, Ahmad Fauzi, Karidi dan Wanto yang telah berada di lokasi sejak awal pekerjaan konstruksi pada 2017 dan membuat upaya keras untuk menyelesaikan project ini,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan rumah sakit ini akan membawa pesan perdamaian antar dua komunitas baik Islam maupun Budha.

“Saya sangat yakin bahwa Rumah Sakit ini akan membawa pesan yang sangat penting bagi kedua agama, Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama – sama” katanya.

Sementara itu Menteri Kesehatan dan Olaharaga Myanmar, Dr. Myint Htwe, menyampaikan apresiasinya kepada rakyat Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, MER-C juga diminta untuk memaparkan proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, yang diwakili oleh Nur Ikhwan Abadi, selaku Site Manager pembangunan Rumah Sakit ini.

“Pada hari yang sangat berharga bagi kedua negara ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Indonesia atas Rumah Sakit ini, dan saya meyakini bahwa Rumah Sakit ini akan terus diingat dan oleh warga di Myaung Bwe Rakhine State dan akan makin mempererat hubungan Indonesia dan Myanmar” kata Myint Htwe.

Ia juga menegaskan bahwa Islam dan Budha bisa bekerja secara bersama-sama dan mengharapkan bahwa Rumah Sakit ini akan menjadi symbol perdamaian bukan hanya bagi warga Rakhine namun juga seluruh Myanmar.

“Rumah Sakit ini sangat penting bagi kami, bukan hanya bagi warga Rakhine State, namun juga bagi seluruh negara ini” lanjutnya.

Myint Htwe juga menyatakan kegembiraanya terhadap fasilitas bangunan yang dimiliki oleh Rumah Sakit tersebut.

“Saya juga sangat mengapresiasi apa yang telah disampaikan oleh insinyur tadi, bahwa rumah sakit ini juga telah dilengkapi dengan generator yang cukup besar dari 125 KVa yang dibutuhkan, namun disediakan 220 KVA, dan juga Kamar Jenazah, Landscaping, Groundtank yang cukup besar yang artinya Indonesia memiliki visi jangka panjang bagi rumah sakit ini, karena mungkin saja ke depan Rumah Sakit ini akan dibesarkan menjadi 30 atau 50 beds” ujar Menteri Htwe yang mengaku sudah puluhan kali datang ke Indonesia ini.

Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia dan semua tim yang terlibat dalam pembangunan Rumah Sakit.

“Saya juga ingin menyampaikan salam hangat dan terima kasih saya kepada rakyat Indonesia atas bangunan Rumah Sakit yang cukup baik ini, dan mewakili masyarakat Myaung Bway Rakhine State, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada masyarakat Indonesia, MER-C Indonesia dan semua insinyur yang telah berada hampir dua tahun di sana. Disini kita bisa membuktikan kepada dunia bahwa Muslim dan Budha bisa bekerjasama, dan pesan ini harus disebarluaskan secara luas ke seluruh dunia”.

Htwe juga berharap ke depan Rumah Sakit ini akan menjadi Rumah Sakit yang modern dan semua data pasien bisa tercatat dengan baik dalam sistem komputerisasi.

“Rumah sakit ini juga bukan hanya akan melayani kesehatan masyarakat, namun juga akan melayani segala aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan dan akan dirawat dengan baik dan diharapkan nantinya akan disediakan juga sistem informasi yang baik, registrasi yang sudah terkomputerisasi dan lain sebagainya, dan Kementerian Kesehatan akan menjaga dan bertanggungjawab secara penuh menjaga rumah sakit ini,” pungkasnya.

Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar merupakan inisiasi dari MER-C sejak tahun 2012 lalu. Saat inisiasi ini digulirkan banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh MER-C mengingat sangat sulitnya perizinan yang diberikan oleh pemerintah Myanmar.

Perizinan dikeluarkan oleh Pemerintah Myanmar tiga tahun kemudian atau pada 2015 setelah melihat netralitas MER-C di lapangan. Pemerintah Myanmar bahkan memberikan lahan kepada MER-C seluas 4.000 meter persegi guna dibangun satu rumah sakit untuk dua komunitas, yaitu Budha dan Muslim.

Keluarnya perizinan tersebut mendapat sambutan yang sangat positif dari pemerintah Indonesia, Wakil Presiden RI saat itu, Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum PMI, menyatakan kegembiraannya dan kemudian mengajak PMI dan Walubi untuk bergabung dengan MER-C mensukseskan pembanguan RS ini.

Pesan perdamaian kepada rumah sakit ini akan terus disebarluaskan, semoga RS Indonesia di Myaung Bway Village, Mrauk U Township, Rakhine State menjadi simbol perdamaian bagi warga di Rakhine, Myanmar dan juga Dunia. (L/R10/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)