Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siapa Berduka atas Wafatnya Khamenei? Apa Artinya bagi Dunia Islam

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 8 jam yang lalu

8 jam yang lalu

7 Views

Pemimpin tertinggi Iran Sayyed Ali Khamenei. (Foto: Ayetullah Seyyid Ali Hamanei / X)

KETIKA kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menyebar ke seluruh dunia, yang terasa bukan duka, tetapi keheningan.

Keheningan itu berbicara, mengungkap peta baru dunia Islam, siapa yang bersuara, siapa yang memilih diam, dan siapa yang berdiri di persimpangan kepentingan.

Di tengah riuh geopolitik global, tidak semua negeri Arab Muslim menyampaikan belasungkawa resmi. Mayoritas negara Arab memilih tidak mengeluarkan pernyataan duka. Sebagian dari mereka yang selama ini dikenal vokal menyuarakan dukungan bagi Palestina, namun pada saat yang sama menjalin relasi strategis, bahkan normalisasi, dengan Israel. Retorika pro-Palestina berjalan beriringan dengan realitas diplomatik yang kompleks.

Namun dunia tidak sepenuhnya sunyi. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyampaikan belasungkawa resmi kepada Iran dan mengecam pembunuhan tersebut sebagai pelanggaran norma internasional.

Baca Juga: Jangan Sampai Konflik AS-Israel dan Iran Alihkan Perhatian terhadap Palestina

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, juga menyampaikan duka atas wafatnya Khamenei. Pemerintah Irak bahkan menetapkan masa berkabung nasional. Armenia pun menyampaikan simpati resmi.

Dari kawasan perlawanan, suara lebih tegas terdengar. Gerakan perlawanan di Palestina secara terbuka mengucapkan belasungkawa dan menyebut Khamenei sebagai tokoh yang selama ini mendukung perjuangan Palestina.

Dari Lebanon, Hezbollah mengecam keras serangan yang menewaskan pemimpin Iran tersebut dan menegaskan komitmennya terhadap poros perlawanan.

Sementara itu di Indonesia, dua organisasi Islam terbesar tidak tinggal diam. Muhammadiyah menyampaikan belasungkawa sekaligus mengecam tindakan militer yang dinilai melanggar hukum internasional. Nahdlatul Ulama melalui pimpinan pusatnya juga menyatakan duka dan keprihatinan atas eskalasi yang berpotensi memperluas konflik kawasan.

Baca Juga: Dampak Serangan ke Iran terhadap Gerakan Perlawanan Palestina

Pemerintah Indonesia pada akhirnya melalui Presiden Prabowo Subianto menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan militer pada awal Maret 2026. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Surat belasungkawa tersebut ditujukan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebagai bentuk simpati dan penghormatan Indonesia atas kepergian pemimpin tertinggi Iran.

Melalui langkah tersebut, pemerintah Indonesia menyampaikan rasa empati yang mendalam kepada pemerintah dan rakyat Iran atas kehilangan tokoh penting yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan politik dan kehidupan masyarakat Iran.

Diamnya Dunia Arab Tetangga Iran

Baca Juga: Saatnya Tinggalkan Trump, Perancang Perdamaian, Tapi Jadi Penyulut Peperangan

Di satu sisi, Iran selama ini dikenal sebagai negara yang secara konsisten mengambil posisi dukungan penuh bagi Palestina sekaligus mengambil posisi anti-Israel dan berlawanan dengan Amerika Serikat. Berbeda dengan negara-negara Arab yang pada umumnya memang mendukung Palestina, tetapi juga sekaligus pro-Israel, dengan menjalin normalisasi.

Di tengah sanksi panjang dan tekanan global, Iran membangun kemandirian militernya sendiri, berbeda dengan banyak negara Arab yang sistem pertahanannya bertumpu pada Amerika Serikat, baik melalui pembelian alutsista maupun keberadaan pangkalan militer.

Ketika dunia Arab bergantung pada payung keamanan Washington, Teheran memilih berdiri dengan industrinya sendiri, meski harus membayar harga mahal berupa isolasi ekonomi dan politik.

Maka ketika wafatnya Khamenei tidak direspons secara luas oleh banyak pemerintahan Arab, pertanyaan yang muncul bukan sekadar soal suka atau tidak suka terhadap figur dan ideologinya. Pertanyaannya lebih dalam adalah apakah fragmentasi dunia Islam telah sedemikian rupa sehingga empati pun menjadi kalkulasi geopolitik?

Baca Juga: Berikut 9 Kandidat Terkuat Pengganti Khamenei

Narasi sektarian, seperti isu Sunni-Syi’ah, selama bertahun-tahun diproduksi dan dipertajam. Narasi tersebut kemudian membentuk persepsi kolektif, menanam kecurigaan, dan memperlemah rasa senasib. Dalam konteks itu, sunyi menjadi simbol keberhasilan narasi pemecah belah.

Palestina kembali menjadi cermin. Ketika solidaritas umat terbelah, isu Palestina mudah menjadi retorika tanpa daya kolektif yang nyata. Padahal, dari Gaza suara justru tegas menyebut Iran sebagai bagian penting dari poros dukungan perlawanan.

Apakah ini berarti semua harus sepakat dalam strategi politik? Tentu tidak. Dunia Islam memang beragam dalam mazhab, kepentingan nasional, dan orientasi diplomasi. Namun perbedaan tidak seharusnya membunuh adab dasar kemanusiaan dan solidaritas keumatan.

Jika suatu hari dunia Arab benar-benar lebih banyak diam ketika seorang pemimpin tetangganya wafat karena konflik geopolitik, maka yang terkubur bukan hanya seorang tokoh. Yang ikut terkikis adalah rasa persaudaraan itu sendiri.

Baca Juga: AS Ketua Dewan Perdamaian yang Justru Memicu Perang

Dan ketika ukhuwah melemah, yang diuntungkan bukanlah Palestina, melainkan mereka yang sejak lama berharap dunia Islam tetap terpecah, saling curiga, dan tak pernah benar-benar berdiri sebagai satu kekuatan moral di panggung sejarah. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ketika Upaya Stabilisasi di Gaza Dipimpin oleh Arsitek Pendudukan

Rekomendasi untuk Anda