Sistem Kemasyarakatan Islam Berlandaskan Kasih Sayang (Tadabbur QS Al-Fath : 29)

Oleh: Mustofa Kamal, Mahasiswa Sekolah Tingggi Islam Shuffah Al-Quran Abdullah bin Mas’ud (STISQABM) Lampung

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مُّحَمَّدٌۭ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًۭا سُجَّدًۭا يَبْتَغُونَ فَضْلًۭا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًۭا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًا عَظِيمًۢا

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Fath: 29)

Pada firman Allah di atas, Allah memberikan informasi kepada orang-orang Mukmin, bahwa Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya telah membangun sistem kemasyarakatan Islam yang didasari dengan ruhama (kasih sayang).

Bentuk ruhama yaitu dengan saling menghormati, bantu-membantu, tolong-menolong, kuat menguatkan dan hidup bersaudara, bersama-sama menegakkan syariat Islam, sama-sama rukuk dan sujud demi mengharapkan karunia dan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitupun seharusnya yang harus dilakukan oleh orang-orang yang beriman, dengan meneladani Rasulullah dan para Sahabatnya. Karena Allah dan Rasul-Nya telah memberikan maklumat yang sedemikian itu.

مُّحَمَّدٌۭ رَّسُول “Muhammad adalah utusan” merupakan mubtada dan khabar, sedang sifat yang terpuji lainya juga merupakan khabarnya seperti “keras أَشِدَّآءُ” dan “kasih sayang رُحَمَآءُ.”

Lalu bagaimanakah umat Islam dalam membangun masyarakat?

  1. Keras kepada orang-orang Kafir

أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ

“Keras kepala orang-orang kafir”. (Al-Fath: 29)

Yakni tidak bersahabat apalagi menggalang kerja sama terhadap orang-orang kafir yang memusuhi.

Begitu pula yang dilakukan Rasulullah bersama para Sahabatnya, terutama terhadap orang-orang kafir yang menghalangi dakwah Al-Islam dan memerangi kaum Muslimin.

Rasulullah dan para sahabat pernah berperang dengan orang-orang kafir, sebagai bentuk perlawanan dan misi dakwah di kawasan Jazirah Arabia, maka Allah memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya atas kota Mekah, Madinah, Taif, Yaman, Yamamah, Hajar, Khaibar, dan Hadramaut. Kemudian, Rasulullah memerangi ahli kitab dan mempersiapkan strategi guna menghadapi Romawi.

Setelah Rasulullah wafat, urusan umat diserahkan ke sahabat yakni Abu Bakar As-Shiddiq dalam melanjutkan perjuangan menghadapi Persi (penyembah api) dan Romawi (kaum salib) sampai tunduklah Kisra dan Kaisar. Lalu kesempurnaan kemenangan kaum Muslimin terhadap kuffar dan musyrikin diraih saat dibawah pimpinan Al-Faruq atau Abul Hafs Umar Ibnul Khattab.

Perintah berperang dalam menghadapi orang kafir dan kaum musyrikin tertera dalam banyak ayat Al-Quran di antaranya:

Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu.” (At-Taubah: 123)

Maksudnya, hendaklah orang-orang kafir itu merasakan adanya sikap yang keras dari kaum Muslimin dalam perang kalian melawan mereka. (bentuk perlawanan ketika diperangi), seperti yang telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Firman-Nya:

 فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

Artinya: “Maka, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Al-Maidah: 54)

 مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29)

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

Artinya: “Hai Nabi berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (At-Taubah: 73)

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulull Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

“أَنَا الضَّحوك القَتَّال”،

Artinya: “Banyak tertawa di hadapan kekasihnya dan banyak berperang melawan musuh-musuhnya.” (tafsir Ibnu Katsir).

Rasulullah adalah sosok yang murah senyum dan suka bercanda, namun disamping itu mempunyai semangat juang yang tinggi, tetap maju berjuang ke medan perang menghadapi para musuh.

  1. Kasih sayang terhadap sesama Muslim

رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

Artinya: “Kasih sayang sesama mereka..” (Al-Fath: 29).

Rasa kasih sayang merupakan Akhlak yang terpuji. Sifat kasih sayang Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wasallam terhadap sesama sangatlah tinggi, diwujudkan dengan kasih sayang terhadap kelurga, anak-anak, sesama Muslin, juga kepada non-Muslim yang tidak mengganggu dan menghalangi dakwah Rasul,  bahkan juga kasih sayang kepada musuh. Artinya, Rasulullah tidak menyimpan dendam dan memaafkan ketika musuh meminta maaf, menyerah atau ketika musuh bertaubat dan taslim (masuk islam).

Kasih sayang Rasulullah tidak dibatasi karena nasab, golongan, bangsa, kulit, bahasa atau lainnya, Maka, disebutlah sebagai “pembawa rahmat bagi semesta alam”, sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ

Artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Surat Al-Anbiya: 107).

Rasa kasih sayang Rasulullah tidak hanya kepada mahluk manusia, tetapi kepada seluruh mahluk Allah, tidak melakukan kerusakan, tetapi sebaliknya Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wasallam mengadakan perbaikan. Maka, disebutlah bahwa Akhlaq Rasulullah adalah Al-Quran.

Lalu bagaimanakah kita sebagai umatnya, tentu kita itibaurasul (mengikuti jejak Rasul) dalam bermyarakat yakni penuh ruhama, apalagi terhadap sesama Muslim, karena ruhama merupakan akhlak Nabi dan para Sahabat.

Wujud Ruhama atau Kasih Sayang

  1. Saling bantu, kuat-menguatkan, tolong-menolong, serta menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Marilah kita perhatikan dalil-dalil dibawah ini:

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda:

 مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan mereka adalah seperti satu tubuh; apabila ada salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh hingga terasa demam dan tidak dapat tidur.”

Hadits lainnya:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alaa’ telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan”. Dan Beliau mendemontrasikannya dengan cara mengepalkan jari jemari Beliau. (Hr Bukhari / kitab bukhari hadts no-2266).

Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam Surat At-Taubah ayat 71:

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.

  1. Hidup Bersaudara, Menegakkan Kesatuan, Persatuan, dan Menghindari Perpecahan.

Dengan ikatan persaudaraan yang kuat sesama Muslim, serta persatuan dan kesatuan di antara kaum Mukminin yang dipimpin seorang Imam (berjamaah dan berimamah) sebagaimana telah diterangkan oleh Allah melalui ayat-ayatnya.

Firman Allah Ta’ala dalam:

Surat Ali-Imran Ayat 103:

وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءًۭ فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًۭا

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, secara berjamaah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…”

Juga dalam surat Al-Hujurat Ayat 10:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Dalam surat At-Taubah Ayat 11:

فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخْوَٰنُكُمْ فِى ٱلدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ ٱلْـَٔايَـٰتِ لِقَوْمٍۢ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.”

Dalam surat Al-Ahzab Ayat 5:

ٱدْعُوهُمْ لِـَٔابَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ ٱللَّهِ ۚ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَمَوَٰلِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْجُنَاحٌۭ فِيمَآ أَخْطَأْتُم بِهِۦ وَلَـٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًا

Artinya: “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Bila masyarakat Islam telah membangun kemasyarakatan didasari ruhama di antara mereka, maka tentu berbuah ketenangan dalam masyarakat. Sebab baiknya tatanan masyarakat dapat terlahir dari setiap individu yang baik, dan perilaku individu yang baik terlahir dari hati yang baik. Dalam Quran surah Al-Fath ayat 29 diterangkan ada tanda-tanda dari bekas sujud.

Firman Allah Ta’ala,

ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

Artinya: “Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) orang-orang mukmin.” (QS Al-Fath: 29)

Sifat-sifat Rasul dan para sahabat yang saling bahu-membahu, keras tidak ada kompromi dengan orang-orang kafir yang memusuhi kaum muslimin, dan ikatan ruhama diantara Rasulullah dan para sahabatnya juga telah diterangkan dalam Taurat serta Injil, yakni seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, menjadi sebuah tanaman yang tumbuh subur lagi kuat serta mengagumkan.

Itulah gambaran perwujudan masyarakat Islam yang sebenarnya, dinamika masyarakat dihiasi dengan keimanan dan amal shalih, kemudian tentunya ada imbalan yang lebih baik kelak di akhirat yakni ampunan dan pahala yang besar.

Semoga kita bersama bisa mewujudkan sistem kemasyarakatan yang islami. Aamiin. (A/mus/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)