Stroberi Gaza Disebut Terbaik di dunia

Warga Palestina Jinan Muslim tengah memegang buah stroberi hasil budidaya di utara Jalur Gaza. Foto: MINA

Siapa yang tidak suka dengan stroberi, tanaman perdu berwarna pink yang memiliki  bintik-bintik hitam di seluruh bagiannya dan berasa asam manis?  Karena rasanya yang khas, buah ini sering dijadikan perasa makanan yang identik dengan warna merah muda.

Buah yang berasal dari Chile, Amerika Latin, ini menyebar ke daratan Eropa dan Asia berabad-abad silam.  Namun tidak semua tanah cocok untuk ditanami buah ini.   Suhu udara dan jenis tanah yang khusus menjadikan buah ini cukup langka dan sulit didapat. Kelangkaan itulah yang menyebabkan harga buah stroberi mahal dan kerap diidentikan dengan “buahnya orang-orang kaya”.

Di Indonesia, misalnya, tidak banyak toko buah khususnya di pasar tradisional yang menjual stroberi. Para penggemar “buah cinta” ini biasanya terpaksa harus mencari di lokasi-lokasi tertentu demi memanjakan lidah mereka.

Tapi tahukah anda, bagi warga Palestina di Gaza, mencari buah stroberi bukan hal yang sulit sama sekali, khususnya di musim dingin. Mereka bisa menemukan buah stroberi di seluruh toko buah yang banyak tersebar di berbagai wilayah di Gaza termasuk di pasar pasar tradisional. Bukan hanya hanya itu, pada musim dingin, ketika musim stroberi mencapai puncaknya harganya pun menjadi sangat terjangkau.

Dan tahukah anda, bahwa stroberi Gaza merupakan jenis stroberi dengan kualitas terbaik nomor satu di dunia baik dari segi warna, rasa dan bentuk?  Stroberi di Gaza memiliki rasa yang khas. Tidak seperti kebanyakan stroberi di negara lain yang dominan asam. Stroberi di sini lebih dominan manis. Dari segi ukuran, buah stroberi di Gaza memiliki bentuk yang sangat besar, jauh lebih besar dari ukuran rata-rata buah ini.

Fakta ini bukanlah merupakan isapan jempol semata. Oleh karenanya, tim Koresponden (MINA) yang kerap ikut memetik panen buah ini di kebun warga, melakukan reportase lebih dalam terkait buah yang disebut buahnya Dewi cinta ini.

Bait Lahiya, utara Gaza,  kota Stroberi Palestina

Bukan rahasia bahwa buah stroberi tidak bisa ditanam apalagi tumbuh  di sembarang tempat. Termasuk di Palestina, stroberi tidak bisa dibudidayakan di seluruh wilayah tersebut. Hanya ada satu kota di Palestina di mana stroberi bisa tumbuh dengan baik. Bait Lahiya, kota perbatasan yang berada di ujung wilayah utara Jalur Gaza ini menjadi syurganya kebun stoberi yang terkenal.

Ahmad Fu’ad Muhammad Assyafi’ie (kiri) bersama Koresponden MINA Reza. Foto: MINA

Ahmad Fu’ad Muhammad Assyafi’ie,  pemilik perkebunan stroberi di Bait Lahiya  menyambut hangat tim MINA yang berkunjung ke kediamannya di desa Syaima, Bait Lahiya.

Berikut  percakapan santai tim MINA dengan Ahmad, pria renta yang memiliki 11 anak dan 70 cucu ini:

MINA: Bagaimana sejarah perkebunan stroberi di Bait Lahiya?

Ahmad: Kira-kira 60 tahun silam, Bait Lahiya merupakan wilayah penghasil buah apel terbesar di Palestina. Tanaman apel mudah dikembangkan karena hanya bergantung kepada air hujan alami dan tidak perlu disirami oleh air tambahan. Tidak lama kemudian, para petani beralih dari tanaman apel ke tanaman jeruk dengan berbagai jenisnya. Hingga pada tahun 1967, setelah Israel masuk dan menjajah tanah Palestina termasuk Bait Lahiya, kami para petani di wilayah ini dibujuk agar bersedia mencabuti pohon-pohon jeruk yang telah kami tanami karena produktivitas dan kualitas buah-buahan kami ternyata telah menyaingi hasil tanaman pihak Israel yang dipasarkan ke negara-negara Eropa. Bahkan, demi memuluskan niat “licik” nya, Israel sampai rela menawarkan kepada para petani imbalan uang bagi setiap pohon yang mereka cabuti.

Kelicikan Israel tidak berhenti sampai di situ. Setelah berhasil meyakinkan dan membujuk kami para petani Gaza untuk berhenti menanami pohon jeruk, mereka berusaha membuat para petani agar mau menanam buah dan sayuran yang dibutuhkan Israel dan tidak bisa ditanami di wilayah perkebunan mereka. Diantaranya adalah buah Stroberi. Dari situlah kami mulai menanam stroberi yang kemudian dipasarkan Israel yang  mengklaim kepada para konsumen di Eropa bahwa buah tersebut adalah hasil produksi para petani Israel.

Tidak hanya stroberi, kami juga saat itu mengekspor sayur-sayuran dengan kualitas tinggi namun sayangnya merek yang tersebar adalah perusahaan Israel. Sama seperti jeruk dan produk korma kami yang dijual atas nama mereka.

Pada tahun 1994, ketika Gaza kembali dikuasai oleh otoritas Palestina, sejumlah negara Eropa yang mengetahui keberadaan para petani Palestina mulai menekan Israel agar bersedia memberikan keleluasaan kepada mereka untuk memiliki merek dagang sendiri. Akibat tekanan tersebut, Israel menyetujui terbentuknya merek dagang khusus milik Palestina dengan syarat bahwa pemasaran tetap dilakukan oleh pihak Israel.

MINA: Berapa luas perkebunan stroberi di wilayah ini?

Ahmad: Pada awalnya, kami menanam buah dan sayur di atas lahan seluas 2.350 hektar. Namun, penjajahan dan agresi militer telah menyebabkan kerusakan parah, kerugian materi yang besar di kalangan petani, dan anjloknya sistem perekonomian kita hingga menyebabkan penurunan drastis luas tanah yang kita garap menjadi sekitar 450 hingga 500 hektar saja.

MINA: Berapa banyak buah stroberi yang dihasilkan oleh perkebunan di sini?

Ahmad: Untuk setiap satu hektar tanah menghasilkan kurang lebih 8 sampai 9 ton stroberi.

MINA: Apakah bait Lahiya satu-satunya wilayah di Palestina yang memproduksi stroberi?

Ahmad: Bait Lahiya adalah satu-satunya wilayah di Palestina yang cocok dan bisa ditanami buah stroberi.

Lebih dari itu, kontur tanah pasir yang cocok, kualitas air  yang bagus, cuacanya yang sejuk, dan pengalaman para petani membuat stroberi lah yang menjadikan wilayah ini penghasil stroberi terbaik di dunia. terbaik dari segi rasa, warna dan bentuk. Dan hingga saat ini, belum ada satu negara pun di dunia yang mampu mendekati tingginya kualitas stroberi Bait Lahiya kecuali stroberi milik Belanda.

MINA: Apa pesan anda untuk pemerintah dan warga Indonesia?

Ahmad: Kami faham bahwa Indonesia, selaku negara muslim terbesar di dunia selalu berada di pihak Palestina. Slogan kita satu “Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya”. Maka dari itu kami selalu menunjukkan rasa hormat dan apresiasi kami kepada pemerintah dan warga indonesia.

Kami tidak akan pernah lupa bagaimana kebijakan kebijakan postif Insinyur Soekarno terhadap kami warga palestina. Diantara keputusannya yang mendukung Palestina adalah pertempuran  Segitiga tahun 1956.

Kami sangat berharap, sebagaimana kalian telah membantu kami dari sektor kesehatan (Rumah sakit Indonesia di Gaza), kalian juga bisa mendukung kami di sektor kebudayaan dan pendidkan. Contohnya, agar pemerintah indonesia bisa menyediakan beasiswa bagi para sarjana di Gaza yang ingin meneruskan ke jenjang Master dan doktoral.(L/K03/K04/RE1)

 

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)