Berlin, MINA – Studi terbaru di Jerman mengungkapkan fakta mengejutkan, hampir satu dari dua Muslim berusia di bawah 40 tahun memiliki sikap yang cenderung Islamis.
Angkanya mencapai 45,1 persen. Temuan ini dirilis oleh Sistem Pemantauan Radikalisasi dan Platform Transfer Jerman (MOTRA), sebuah lembaga yang dijalankan oleh Kantor Polisi Kriminal Federal (BKA).
Mengutip Jerusalem Post, Ahad (12/4), para peneliti MOTRA menjelaskan bahwa sikap Islamis ini mencakup beberapa hal, antara lain: merasa tertarik pada paham Islamisme, lebih memilih hukum Syariah dibandingkan konstitusi Jerman, dan memiliki prasangka antisemit (anti-Yahudi).
Dari total 45,1 persen tersebut, sebanyak 11,5 persen termasuk dalam kategori “sikap Islamis nyata”. Artinya, radikalisasi mereka sudah jelas terlihat. Sementara 33,6 persen lainnya masuk kategori “laten”, yaitu kecenderungan ke arah Islamisme sudah ada, tetapi belum tampak secara terbuka.
Baca Juga: Warga Lebanon Turun ke Jalan, Tegas Tolak Negosiasi dengan Israel
Kekhawatiran Pemerintah Jerman
Sekretaris Negara Parlemen Jerman, Christoph de Vries dari partai CDU, mengaku sangat prihatin dengan temuan ini. Ia juga menyoroti fakta lain yang tak kalah mengkhawatirkan: angka antisemitisme di kalangan Muslim muda empat kali lebih tinggi dibandingkan populasi Jerman secara umum.
Menurut de Vries, ada beberapa faktor pemicu, yaitu Influencer Islamis di media sosial dan platform game yang menyebarkan paham radikal. Factor lainnya, serangan Hamas 7 Oktober 2023 terhadap Israel, yang ia sebut sebagai “pendorong Islamisme secara keseluruhan.”
De Vries bahkan mengungkapkan bahwa di Jerman sudah ada anak-anak berusia 13 dan 14 tahun yang menjadi radikal lewat media sosial, hingga berniat melakukan serangan serius.
Baca Juga: Meski Perundingan Buntu, Pakistan Desak AS dan Iran Pertahankan Gencatan Senjata
Sorotan ke Masjid yang Terafiliasi Turki
De Vries juga menyoroti peran masjid-masjid di Jerman, terutama yang dikendalikan oleh pemerintah asing. Ia menyebut DITIB (Persatuan Turki-Islam untuk Urusan Agama), organisasi yang membawahi sekitar 1.000 masjid di Jerman. DITIB berada di bawah Diyanet, lembaga urusan agama Turki, dan bergantung secara finansial pada Turki.
DITIB sering disebut sebagai “lengan panjang Erdogan” (Presiden Turki). De Vries mengkritik bahwa pengaruh dari Turki, termasuk campuran dengan gerakan Ikhwanul Muslimin dan Milli Görüş yang sebagian antisemit, ikut mempengaruhi suasana di Jerman.
“Dampaknya, komunitas Yahudi di Jerman kini kesulitan. Di banyak bagian kota, mereka tidak bisa lagi keluar dengan simbol-simbol Yahudi seperti kippah (penutup kepala khas Yahudi),” keluh de Vries.
Baca Juga: Tiga Universitas di Kashmir Batalkan Kerja Sama dengan LSM AS
De Vries mendorong perubahan kebijakan imigrasi Jerman. Menurutnya, setiap orang yang tinggal di Jerman harus mengakui hak Israel untuk eksis, dan melawan antisemitisme, baik dalam kursus integrasi maupun proses naturalisasi (pengurusan kewarganegaraan).
Namun meski demikian, penelitian lain di Jerman menunjukkan gambaran yang berbeda. Sebuah studi besar oleh Pusat Penelitian Integrasi dan Migrasi Jerman (DeZIM) pada November lalu justru menemukan bahwa sikap antisemit menurun seiring lamanya tinggal imigran Muslim, bahkan dari generasi ke generasi.
Penelitian DeZIM menyimpulkan bahwa antisemitisme dalam masyarakat pasca-imigran bukanlah fenomena yang diimpor dari luar. Melainkan pola pemikiran yang muncul dari berbagai pengalaman sosial yang kompleks, dan lebih berkaitan dengan orientasi politik serta preferensi partai, bukan sekadar latar belakang asal-usul seseorang. []
Mi’raj News Agencuy (MINA)
Baca Juga: Kanada Donasikan Rp123 Miliar untuk Rohingya
















Mina Indonesia
Mina Arabic