Studi: Retorika Anti-Muslim Meningkat dalam Pemilu Paruh Waktu AS

New York, MINA – Retorika anti-Muslim telah melonjak dalam kampanye pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat, sebuah studi baru menemukan. Hal itu menggemakan kata-kata kasar Presiden Donald Trump yang tampaknya membawanya berkuasa di Gedung Putih.

Pada 6 November mendatang, warga AS akan berkumpul di berbagai tempat pemungutan suara, guna memilih perwakilan mereka di tingkat gubernur, pejabat lokal, dan anggota Kongres dalam pemilihan umum paruh waktu.

Saat warga AS bersiap menuju ke tempat pemungutan, upaya untuk menghasut imigran dan orang kulit berwarna kian mendalam dan konsisten di antara para kandidat, kata studi yang ditugaskan oleh Muslim Advocates itu. Demikian Daily Sabah melaporkan, Selasa (23/10).

“Kami telah melihat kandidat anti-Muslim yang mencalonkan diri di setiap wilayah. Kami melihat mereka maju berkompetisi, dari sekolah dan dewan perencanaan sampai ke gubernur dan Kongres. Kami melihat mereka di tempat-tempat liberal dan tempat-tempat konservatif,” ujar Scott Simpson, Direktur advokasi publik Muslim Aadvocates, seperti dikutip oleh Guardian.

“(Retorika anti-Muslim) ini benar-benar mengakar dan menjadi sangat luas,” tambahnya.

Delapan puluh kandidat yang sedang bersaing dalam siklus pemilu saat ini di Amerika Serikat telah mendekati para pemilih anti-Muslim dalam upaya mereka untuk mendapatkan suara atau jabatan, termasuk banyak elit partai Republik yang menggemakan Presiden Trump.

Laporan studi – yang mengkaji lebih dari 80 kampanye nasional yang secara terbuka menargetkan Muslim dalam dua tahun terakhir – menemukan 64 persen dari kandidat ini dipilih atau ditunjuk sebagai pejabat atau memiliki dukungan presiden.

Lebih dari sepertiga dari kandidat mengatakan komunitas Muslim adalah ancaman besar bagi keamanan nasional, menyebarkan keberadaan konspirasi untuk mengambil alih komunitas AS atau pemerintah. Hanya di bawah sepertiga yang menyerukan umat Islam untuk ditolak hak asasi manusia atau menegaskan bahwa Islam bukanlah agama.

Pandangan-pandangan Presiden Trump yang diekspresikan di jalur kampanye dan dari Kantor Oval telah memicu api retorika Islamofobia di arus utama politik, berkembang biaknya pidato kebencian dan sentimen anti-Muslim.

Mohamed Gula, direktur politik di Emgage, mengatakan “betapa mudahnya bagi para kandidat untuk benar-benar menggunakan retorika Islamofobia dan kebencian sebagai bagian dari platform mereka” sejak pemilihan presiden 2016.

“Jika Anda pergi ke masjid atau bagian dari institusi mana pun di dalam komunitas Muslim, Anda akan dikaitkan dengan Ikhwanul Muslimin,” ujarnya kepada Guardian.

Dalam satu persaingan kursi kongres di California, kandidat Partai Demokrat berdarah Meksiko-Palestina Ammar Campa-Najjar dituduh oleh lawannya dari Partai Republik, Duncan Hunter, sebagai ‘risiko keamanan’ yang “bekerja untuk menyusup ke Kongres” dengan dukungan Ikhwanul Muslimin.

Hunter tampaknya membuat tuduhan yang tidak berdasar dan bodoh. Pasalnya pada kenyataannya Campa-Najjar adalah seorang penganut Kristen.

Calon Demokrat untuk wilayah Virginia, Abigail Spanberger, dituduh bekerja sebagai guru pengganti di sekolah yang didanai Saudi. Ia dituduh dalam iklan politik berusaha menyembunyikan karyanya di “sekolah Islam yang dijuluki ‘Terror High, sebuah tempat berkembang biak teroris.'”

Padahal pada kenyataannya, Spanberger, yang mengajar di sekolah itu dalam waktu yang singkat pada 2002 dan 2003, kemudian diberikan izin keamanan CIA dan dikirim ke luar negeri untuk bekerja pada kegiatan anti-terorisme.

Gula mengatakan organisasi seperti Emgage, yang bertujuan untuk memilih lebih banyak Muslim, percaya bahwa metode yang paling efektif untuk melawan Islamofobia dalam politik adalah membangun kehadiran yang solid di kantor publik. Dan, meskipun meningkatnya serangan anti-Muslim, pemilu paru waktu 2018 juga telah melihat lonjakan jumlah calon Muslim yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Mampu menulis ulang dan mendefinisikan kembali apa artinya bertanggung jawab secara sosial dan terlibat secara sipil dalam komunitas kami adalah sangat penting. Kami telah melihat sedikit lebih dari (100) orang Muslim mencalonkan diri … Itu belum pernah terdengar sebelumnya,” terangnya.

Saat ini hanya ada dua pria Muslim di Kongres: wakil Republik untuk Minnesota, Keith Ellison, yang pada tahun 2007 menjadi Muslim pertama yang berkuasa, dan wakil Indiana dari Partai Republik, Andre Carson. Ada beberapa kandidat wanita Muslim di surat suara untuk 6 November, termasuk Rashida Tlaib keturunan Palestina-Amerika, yang mencalonkan diri di Michigan.

Menurut kelompok advokasi Muslim terkemuka, Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), jumlah kejahatan kebencian anti-Muslim di AS naik 91 persen pada paruh pertama tahun 2017, dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016. (AT/R11/RS2)

 

Mi’raj News Aency (MINA)

 

https://www.dailysabah.com/americas/2018/10/22/us-midterm-elections-see-rise-in-anti-muslim-rhetoric-report