Sumber Energi Menurut Al-Quran -Bagian II- (Oleh: Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo)

Oleh: Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo, Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (Lembaga PLH & SDA MUI)

Pada tulisan bagian pertama telah dijelaskan firman Allah pada surat Yasin (36):80 tentang kayu atau biomassa sebagai sumber energi utama selama masa peradaban manusia. Saat ini kayu masih merupakan sumber tunggal energi terbarukan paling penting yang menyediakan sekitar 6% dari total pasokan energi primer global.

Menurut Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO), lebih dari dua miliar orang bergantung pada energi kayu untuk memasak dan/atau pemanasan ruang, terutama pada rumah tangga di negara berkembang yang dapat merupakan satu-satunya sumber energi yang tersedia lokal dan terjangkau.

Bahan bakar kayu mewakili sepertiga dari konsumsi energi terbarukan global, menjadikan kayu sebagai sumber energi paling terdesentralisasi di dunia. Produksi kayu bakar dan arang merupakan penggunaan utama biomassa kayu di negara-negara berkembang yang mengalami transisi ekonomi.

Pada tulisan ini menjelaskan lebih lanjut tentang kayu sebagai sumber energi dalam surat Al-Waqi`ah [56]:71-73 di mana Allah berfirman “Maka pernahkah kamu memperhatikan tentang api yang kamu nyalakan (dengan kayu)? Kamukah yang menumbuhkan kayu itu ataukah Kami yang menumbuhkan? Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir”.

Pengertian ayat “Kami menjadikannya (api itu) untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir”, tentu sangatlah luas. Hikmah apakah yang dapat kita ambil dari ayat ini terutama kayu bakar sebagai peringatan sekaligus memberikan manfaat pada musafir.

Mengapa bahan bakar kayu juga merupakan peringatan? Pohon dalam pertumbuhannya melakukan fotosintesis. Fotosintesis berasal dari kata Yunani yaitu “foto” atau cahaya dan “sintesis” atau penggabungan. Daun melakukan proses fotosintesis yang merupakan proses biokimia pembentukan zat makanan seperti karbohidrat melalui zat hijau daun atau klorofil dengan memanfaatkan karbondioksida (CO2) dan air serta menghasilkan produk buangan oksigen (Q2).

Fotosintesis sangat penting bagi semua kehidupan aerobik di bumi karena selain untuk menjaga tingkat normal oksigen di atmosfer, fotosintesis juga merupakan sumber energi bagi hampir semua kehidupan di bumi, baik secara langsung (melalui produksi primer) maupun tidak langsung (sebagai sumber utama energi dalam makanan).

Dalam proses fotosintesis, tumbuhan menyerap CO2 dan ketika tumbuhan mati, maka biomassanya akan terkubur dalam bumi. Biomassa sebagian akan terurai menjadi unsur hara tanah dan sebagian akan berubah menjadi fosil berupa batubara, minyak atau gas, dengan tetap menahan CO2 yang diserapnya.

Melalui teknologi modern, bahan bakar fosil ini dikeluarkan dari perut bumi dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk kegiatan manusia modern. Akibat pembakaran, CO2 yang ada dalam bahan bakar fosil akan terlepas kembali ke atmosfir yang akan meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfir. Ini akan menyebabkan efek gas rumah kaca yang memberikan ekses naiknya temperatur bumi karena terjebaknya panas matahari di bumi.

Naiknya suhu bumi akan menjadikan penguapan air permukaan bumi menjadi lebih besar mengakibatkan masa kemarau lebih panjang dan ekstrim. Penguapan air yang besar meningkatkan volume uap air di atmosfir, maka bila hujan akan sangat deras dan ekstrim.

Fenomena ini disebut perubahan iklim yang mengakibatkan cuaca ekstrim yang berdampak negatif pada kehidupan manusia dan seluruh makhluk serta terganggunya keseimbangan ekosistem di bumi. Ini adalah merupakan peringatan Allah SWT agar kita mulai membatasi penggunaan bahan bakar fosil yang merusak dan jumlahnya terbatas.

Bagaimana kayu bermanfaat bagi musafir? Secara harfiah kayu atau biomassa terlihat dan dirasakan bermanfaat bagi musafir setelah James Watt menemukan mesin uap pada tahun 1776 sebagai mesin penggerak untuk alat transpor serta merubah peradaban manusia melalui revolusi industri.

Energi kayu juga merupakan bahan bakar cadangan darurat yang penting. Masyarakat di setiap tingkat sosial ekonomi akan dengan mudah beralih kembali ke energi kayu ketika menghadapi kesulitan ekonomi, bencana alam, situasi konflik atau kekurangan pasokan energi fosil.

Sebagai contoh, selama Perang Dunia ke II di Eropa, hampir semua mobil dikonversi menggunakan kayu bakar dengan teknik gasifier dikarenakan penjatahan bahan bakar fosil untuk keperluan perang. Mobil gas kayu merupakan alternatif yang tidak begitu elegan, namun cukup efisien dan lebih ekologis (karena “karbon netral”) dibanding mesin bensin, sementara jangkauannya sebanding dengan mobil listrik.

Meningkatnya harga bahan bakar dan pemanasan global telah menyebabkan minat baru pada teknologi yang hampir dilupakan ini. Di seluruh dunia, beberapa orang menggunakan dengan mobil berbahan kayu bakar buatan mereka. Jadi pada jaman modern ini kendaraan berbahan kayu bakar tetap digunakan dan dapat menjadi energi alternatif transpor untuk musafir di masa depan ketika bahan bakar fosil sudah tidak lagi mencukupi.

Bukti ini menunjukkan bahwa energi yang kita gunakan sehari-hari, termasuk untuk transportasi, berhubungan erat dengan kayu. Saat ini energi kayu atau biomassa telah memasuki fase baru yang sangat penting dan terlihat dengan perubahan iklim dan masalah keamanan energi.

Fenomena yang dijelaskan sebelumnya memberi pengertian bahwa api dari kayu merupakan peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir. Maha Benarlah Allah yang Maha Agung.(AK/R01/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)