SUNAN KUDUS pada tahun 1530 mendirikan sebuah masjid di Desa Kerjasan, Kota Kudus, Jawa Tengah, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus. Nama lengkapnya adalah Masjidil Aqsa Manarah Kudus, sebelumnya ada yang menyebut dengan nama masjid Al-Manar. Warga familiar menyebutnya dengan Masjid Menara Kudus.
Masjid Menara Kudus adalah salah satu masjid tertua di Pulau Jawa, memiliki bentuk arsitektur dari hasil akulturasi dengan kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam.
Masjid ini terletak di Jalan Menara, Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dan sekitar 1,5 km dari pusat Kota Kudus.
Masjid Menara Kudus merupakan bangunan cagar budaya Islam berupa masjid, menara masjid, gapura bentar, gapura paduraksa dan makam Sunan Kudus.
Baca Juga: Tantangan Parenting di Era Serba Digital
Konon, Sunan Kudus membangun menara masjid ini dengan cara hanya menggosok-gosokkan batu bata hingga lengket. Selain itu Masjid menara Kudus ini juga memiliki keunikannya sendiri yaitu bentuk menara masjid yang mirip dengan candi dengan ketinggian sekitar 17 meter.
Terdapat sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis atau Al-Quds di Yerusalem, Palestina yang menjadi prasasti sejarah dari pembangunan masjid tersebut. Sehingga Sunan Kudus terinspirasi untuk memberikan nama ‘Kudus’ yang memiliki arti suci.
Masjid Menara Kudus termasuk bangunan masjid yang unik, seperti adanya pintu gapura berbentuk menyerupai gapura candi-candi yang ada di Bali atau disebut dengan kori agung. Menariknya, selain berada di depan, gapura tersebut juga terdapat di dalam ruang utama masjid untuk beribadah.
Masjid Menara Kudus ini memiliki lima pintu di bagian kanan dan lima pintu bagian kiri. Semua jendela terdapat empat buah, pintu besar yang terdiri dari lima buah dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati terdapat delapan buah. Pada bagian dalam ada kolam masjid disebut dengan ‘padasan’ yang merupakan sebuah peninggalan kuno dan dijadikan sebagai tempat berwudhu.
Baca Juga: Sunan Kudus Menantu Ulama Palestina
Selain menjadi masjid sebagai tempat ibadah, Masjid Menara Kudus juga sering dijadikan tempat untuk berziarah ke makam Sunan Kudus. Area belakang masjid merupakan kompleks makam dari Sunan Kudus dan para keluarganya. Pintu belakang masuk pemakaman terletak di sebelah kanan Masjid Menara Kudus.
Masjid tersebut menjadi salah satu Cagar Budaya Islam kategori situs tingkat Nasional oleh Kemendikbud.
Kota Kudus Terinspirasi dari Kota Al-Quds
Sunan Kudus kembali ke Tanah Jawa dari berziarah ke Baitul Maqdis Palestina dan mendirikan masjid di daerah Kudus pada tahun 1956 Hijriyah atau 1548 Masehi.
Baca Juga: Mengapa Zionis Ingin Duduki Gaza Sepenuhnya?
Kota Yerussalem juga disebut Baitul Maqdis atau Al-Quds. Dari kata Al-Quds tersebut kemudian lahir kata Kudus, yang kemudian digunakan untuk nama Kota Kudus hingga saat ini.
Sebelum mendirikan masjid, Sunan Kudus pernah menetap di Baitul Maqdis, Palestina untuk belajar agama Islam. Kala itu, disana sedang terjangkit wabah penyakit, sehingga banyak orang yang mati. Namun berkat usaha Ja’far Shoddiq, wabah tersebut dapat diberantas.
Atas jasa-jasanya, maka Amir di Palestina memberikan hadiah berupa Ijazah wilayah, yaitu pemberian wewenang menguasai suatu daerah di Palestina.
Pemberian wewenang itu bahkan tertulis pada batu yang ditulis dengan huruf arab kuno, dan sekarang masih utuh terdapat di atas Mihrab Masjid Menara Kudus.
Baca Juga: Menjadi Orang Tua Cerdas di Tengah Arus Teknologi
Mendapat kehormatan itu, kemudian Sunan Kudus memohon kepada Amir Palestina yang sekaligus sebagai gurunya untuk memindahkan wewenang wilayah tersebut ke Pulau Jawa. Permohonan tersebut dapat disetujui dan Ja’far Shoddiq pulang ke Jawa dan mendirikan masjid. Kini masjid tersebut terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang dan berada di alun-alun kota Kudus Jawa Tengah.
Namun jauh sebelum mendirikan Masjid Al-Aqso, dalam babad Jawa dan hikayat Melayu, nama Sunan Kudus pertama muncul saat perang jihad pertama di Jawa yang terjadi antara Kerajaan Islam Demak dengan Kerajaan Hindu Majapahit, pada 1524 dan 1526.
Saat itu, Sunan Kudus mendampingi imam masjid Demak keempat yang tidak lain merupakan ayahnya sendiri, memimpin peperangan melawan Majapahit. Dalam pertempuran itu, ayah Sunan Kudus gugur. Sunan Kudus kemudian diangkat menjadi imam masjid Demak.
Menurut Hikayat Hasanudin, Sunan Kudus adalah imam masjid Demak kelima. Pada 1526 dan 1527, Raja Demak Sultan Trenggana memerintahkan Sunan Kudus menyerang Majapahit. Serangan itu dipimpin langsung oleh Sunan Kudus dan berakhir dengan kemenangan Kerajaan Demak. Setelah itu, Sunan Kudus kembali dengan aktivitas keagamaannya di masjid Demak, yakni membumikan ajaran agama Islam.
Baca Juga: Ketika Setia Dianggap Kuno dan Selingkuh Dianggap Wajar
Selain peninggalan Masjid Menara Kudus, Sunan Kudus juga meminta kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha. Hal ini untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu, yang mengkeramatkan sapi, dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.
Pada tahun 1550, Sunan Kudus meninggal dunia saat menjadi Imam shalat Subuh di Masjid Menara Kudus, dalam posisi sujud. Kemudian jenazahnya dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus. []
Sumber : Buku Hubungan Indonesia & Palestina. Imaam Yakhsyallah Mansur dan Ali Farkhan Tsani. Penerbit MINA, Jakarta, Oktober 2024.
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: 80 Tahun Pengeboman Hiroshima, Jangan Terulang di Gaza