Sutopo Purwo Nugroho, di Antara Penyakit dan Bencana

Jakarta, MINA – Sutopo Purwo Nugroho, ia adalah Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas (Pusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Posisi strategis yang didudkinya sehingga sering tampil di media  membuat namanya dikenal luas, baik oleh pejabat dari kementerian/lembaga maupun rekan-rekan media, dmikian juga masyarakat luas.

Pak Topo, begitu rekan-rekan media memanggilnya, sempat terpukul saat dirinya divonis mengidap kanker paru-paru stadium IV pada pertengahan Januari 2018 lalu. Dokter menyebut sel kanker sudah menyebar ke tulang dan kelenjar getah bening.

Sutopo mengatakan, kanker paru stadium VI memang menakutkan. Meski begitu, ia pasrah kepada Allah dengan penyakitnya ini. Ia tak mau mengeluh apalagi sampai menggugat kenapa dirinya yang tidak merokok bisa kena kanker paru. Terlebih, menurutnya, keturunan bapak dan ibunya tidak ada yang pernah divonis kanker.

Bagi Sutopo, kenyataannya dirinya mengidap kanker paru bukan hal yang perlu dikeluh-kesahkan. Ia hanya tetap berusaha bagaimana bisa sembuh dan pulih kembali, itu yang harus dijalaninya. Ini semua ia lakukan terutama untuk istri dan kedua orang anaknya.

Penyakit mematikan itu tak pernah bisa menghalangi aktivitasnya. Ketika gempabumi yang disusul tsunami melanda sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) akhir September lalu misalnya, Sutopo terlihat lebih sibuk melayani rekan-rekan media dan masyarakat luas ketimbang bulan-bulan sebelumnya. Hal ini tak mengejutkan mengingat ia adalah pemegang informasi di BNPB.

“Saat bencana, apalagi jumlah korban dan dampak bencananya besar seperti gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, pasti media, masyarakat, dan lainnya meminta saya terus menyampaikan update data,” kata Sutopo dalam sebuah pernyataannya yang disebar di berbagai media sosial miliknya.

Sutopo mengaku alat komunikasi miliknya tak berhenti berdering. WhatsApp pertanyaan dari rekan-rekan media dan lainnya juga terus masuk. Banyak sekali telpon yang saat diangkat ternyata bukan hanya dari media, tapi dari staf Kedutaan, Konsuler, Kementerian/Lembaga, dan masyarakat yang menanyakan kondisi di Sulteng sana.

“Entah memperoleh nomor telpon dari mana, banyak masyarakat yang menanyakan ke saya tentang orangtuanya, anak, saudara, kerabat, teman dan lainnya yang belum dapat dihubungi sampai saat ini di tempat bencana sana. Orang asing pun banyak yang telpon atau WhatsApp menanyakan korban dan penanganan,” katanya.

Sebagai Kepala Pusdatin BNPB, memang sudah menjadi kewajibannya melayani dan menjelaskan semuanya. Harus sabar, telaten dan membesarkan hati masyarakat yang kehilangan saudaranya. Komunikasi memang lumpuh. Sutopo sendiri mengaku cukup kesulitan dalam mencari data.

“Jadi mohon maaf teman-teman media saya  tidak dapat melayani wawancara satu per satu. Jika ada update pasti segera saya sampaikan di WAG Medkom,” katanya.

Sutopo merinci ada 6 WAG Medkom, 14 WAG Wapena (wartawan lokal) dan 1 WAG Pers BNPB yang harus ia berikan info terus menerus. Ada lebih 3.000-an wartawan yang harus ia layani. Pak Topo selalu aktif broadcast melalui WAG dan japri semua info bencana.

Tak Menyerah

Meski sudah lama penyakit mematikan itu bersarang ditubuhnya, pria yang belum lama ini merayakan ulang tahun ke-49 itu tetap semangat melayani rekan-rekan media maupun masyarakat luas yang membutuhkan informasinya mengenai data dan fakta seputar bencana.

“Saya tetap berusaha melayani rekan-rekan media dengan baik. Setiap hari saya gelar konprensi pers dan saya siapkan bahan paparan yang lengkap agar media tidak salah kutip. Semua data yang saya miliki selalu saya berikan utuh. Tak ada yang saya sembunyikan,” katanya suatu ketika.

Namun, pria yang baru mewujudkan keinginannya untuk bersalaman dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini mengakui kondisi fisiknya tidak bisa ditipu. Sakit kanker paru-paru stadium IV yang telah menyebar di beberapa bagian tubuh menyebabkannya kadang terlihat pucat saat menggelar konferensi pers.

“Sekali lagi, mohon maaf saya tidak dapat melayani dengan prima semua pertanyaan rekan-rekan media. Jika sehat pasti saya lakukan kapanpun, di mana pun, bagaimanapun selama 24 jam 7 hari seminggu. Dengan keterbatasan yang ada mohon dimaafkan jika ada pertanyaan yang tidak dijawab. Penggilan telpon yang tidak diangkat. Undangan wawancara yang tidak bisa dipenuhi hadirnya,” katanya.

Sutopo selalu berdoa memohon belas kasihan Allah SWT untuk mengangkat semua penyakit di tubuhnya tanpa meninggalkan penyakit lain. Ia memilih untuk membuat sisa hidup sebagai sebuah pemberian, dan hidup memberikan keistimewaan, kesempatan, dan tanggungjawab untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

“Saya berusaha selalu bisa melayani masyarakat, bisa mengabdi untuk negeri dengan ikhlas, kerja keras dan bersyukur. Senyuman di setiap hariku bukan karena hidupku sempurna, tapi karena saya bersyukur untuk setiap rahmat dan nikmat yang diberi oleh-Nya,” katanya.

Mendapat Penghargaan

Belum lama ini, pengagum Raisya ini mendapat penghargaan sebagai Tokoh Teladan Anti Hoax Indonesia dan Tokoh Komunikasi Kemanusiaan sekaligus Communicator of the Year 2018. Kebahagiaan tersebut ia bagikan melalui akun Instagram miliknya, @sutopopurwo.

“Alhamdulillah. Puji syukur kepada Allah SWT. Di tengah ujian berat dalam hidup saya. Berjuang untuk tetap hidup dari sakit kanker paru-paru yang menyakitkan. Saya tetap menerima nikmat berupa penghargaan yang layak untuk disyukuri,” tulis Sutopo dalam keterangan fotonya.

Sutopo mendapatkan penghargaan tersebut dari Kementerian Kominfo dan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia sebagai Tokoh Komunikasi Kemanusiaan sekaligus sebagai Communicator of the Year 2018. Pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, ini juga mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Teladan Anti Hoax Indonesia yang diberikan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia alias Mafindo.

Penghargaan itu diberikan lantaran Sutopo dinilai sebagai seorang yang semangat dalam menyebarkan informasi bencana kepada masyarakat secara cepat dan akurat. Ia juga dinilai aktif menghancurkan berita bohong atau hoaks terkait bencana.

Sebelumnya, Sutopo juga kerap disebut sebagai sosok yang inspiratif. (A/R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)