Syaitan Pun Lari Mendengar Kumandang Azan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Di dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, yang artinya: ”Apabila diserukan azan untuk shalat, maka syaitan pun lari terkentut-kentut hingga tidak mendengar azan. Lalu, bila muazin selesai mengumandangkan azannya, ia datang kembali hingga ketika diserukan iqamat ia berlalu lagi..…”. (HR Bukhari dan Muslim).

Lima kali sehari semalam paling tidak kaum Muslimin mendengarkan kumandang indah seruan azan berkumandang di masjid-masjid. Azan menjadi tanda telah masuknya waktu shalat fardhu, agar manusia-manusia bersujud ke haribaan Tuhannya, Allah Ta’ala.

Azan secara bahasa bermakna “al-i’lam” yang berarti pengumuman atau pemberitahuan. Adapun secara syar’i azan adalah pemberitahuan masuknya waktu shalat fardhu dengan lafaz-lafaz tertentu

Hikmahnya sangat jelas dengan adanya kumandang azan oleh ‘sang Bilal’ mengacu pada nama sahabat muazin Rasulullah, Bilal bin Rabah.

Para ulama sejak dahulu menyebutkan beberapa hikmah kumandang azan, yaitu menampakkan syi’ar Islam, menegakkan kalimat tauhid, pemberitahuan masuknya waktu shalat, serta  seruan untuk melakukan shalat berjama’ah.

Apalagi jika ditanya keutamaan azan, tentu sangat banyak, sebanyak keutamaan shalat itu sendiri. Di antaranya adalah menjadi saksi kebaikan pada Hari Kiamat.

Ini seperti disebutkan di dalam hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَيْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: ”Tidaklah jin dan manusia serta tidak ada sesuatu pun yang mendengar suara lantunan azan dari seorang muazin melainkan akan menjadi saksi kebaikan bagi si muazin pada hari kiamat.” (HR Bukhari).

Keutamaan lainnya adalah menjadi sarana permintaan ampunan. Ini seperti disebutkan dari Ibnu ’Umar, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

يُغْفَرُ لِلْمْؤَذِّنِ مُنْتَهَى أََذَانِهِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَهُ

Artinya: ”Diampuni bagi muazin pada akhir azannya. Dan setiap yang basah atau pun yang kering yang mendengar azannya akan memintakan ampun untuknya.” (HR Ahmad).

Pahala azan juga sangat besar, seperti juga besarnya pahala shalat berjamaah pada shaf pertama. Seperti disebutkan di dalam hadits:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا

Artinya: “Seandainya orang-orang mengetahui pahala yang terkandung pada azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mungkin mendapatkannya kecuali dengan cara mengadakan undian atasnya, niscaya mereka akan melakukan undian.” (HR Bukhari dan Muslim).

Satu lagi, suara azan adalah kebanggaan Allah di hadapan para malaikat-Nya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits:

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِى غَنَمٍ فِى رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ يُؤَذِّنُ بِالصَّلاَةِ وَيُصَلِّى فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا إِلَى عَبْدِى هَذَا يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلاَةَ يَخَافُ مِنِّى فَقَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِى وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

Artinya: “Tuhanmu takjub kepada seorang penggembala kambing di puncak bukit gunung, dia mengumandangkan azan untuk shalat lalu dia shalat. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Lihatlah hamba-Ku ini, dia mengumandangkan azan dan beriqamat untuk shalat, dia takut kepada-Ku. Aku telah mengampuni hamba-Ku dan memasukkannya ke dalam surga.” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Alangkah indahnya kita mengagungkan panggilan Allah melalui kumandang azan, kita dengarkan dengan seksama, kita tirukan, dan kita akhiri dengan doa sesudah azan. Hingga kelak berhak atas syafaat Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam. Aamiin. (T/RS2/P1)

Dari : berbagai sumber.

Miraj News Agency (MINA)