Syarat Kesuksesan Menurut Al-Quran

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Mungkin Anda memandang bahwa orang yang sukses adalah mereka yang berkuasa, sehingga dengan mudahnya ia mendapatkan pemasukan dari kekuasaannya dan tetap dihormati oleh banyak orang yang berstatus lebih rendah darinya.

Bisa jadi Anda melihat bahwa orang yang sukses itu adalah pengusaha, sehingga dengan usahanya itu ia memiliki beberapa perusahaan dengan omset miliaran rupiah dalam sebulan.

Barangkali Anda mengira bahwa orang yang sukses itu adalah mereka yang berhasil meraih gelar tinggi, sehingga dengan mudahnya ia bekerja di perusahaan besar dengan gaji di atas rata-rata.

Mungkin Anda mengira bahwa orang yang sukses itu adalah mereka yang terkenal sebagai bintang hiburan, sehingga waktunya begitu padat oleh jadwal pentas dan syuting dengan bayaran yang membuat orang biasa takjub jika mengetahuinya.

Bisa memiliki jabatan tinggi, rumah besar, mobil mewah, penghasilan tinggi per bulan, terkenal, atau mendapat pasangan yang cantik atau tampan, sangat sering menjadi ukuran dari sebuah kata “kesuksesan” tanpa memandang lagi modal apa dan bagaimana caranya meraih kesuksesan itu.

Perburuan kesuksesan oleh manusia selalu tergambar hanya sebagai sebuah kehidupan di dunia semata, yang seolah-olah tidak ada hubungannya dengan agama, terebih-lebih hidup setelah mati.

Di saat manusia, khususnya Muslim, begitu bingung atau sibuk bahkan mengeluarkan uang banyak untuk meraih sukses, tanpa sadar mereka telah meninggalkan kitab pedoman kesuksesan sejati, atau tidak mengetahui akan adanya petunjuk menuju sukses di dalam buku yang tegeletak begitu dekat dengan mereka.

Kitab yang di dalamnya ada pedoman menuju kesuksesan sejati yang tergeletak sangat dekat dengan Anda adalah Al-Quran.

Ambillah Al-Quran dan bukalah Surah Al-Mu’minum [23] ayat pertama. Maka, Anda akan langsung menemukan syarat menuju sukses, bukan hanya sukses di dunia ini tapi juga sukses di akhirat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi tahu kepada manusia syarat untuk menjadi sukses dengan firman-Nya,

قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ

Artinya, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Mu’minun [23] ayat 1)

Apakah Anda sepakat dengan pemikiran bahwa orang yang beruntung sudah pasti orang yang sukses, sedangkan orang yang sukses belum tentu orang yang beruntung?

Sebab, banyak orang yang dari kacamata kita mereka sukses, tapi ternyata pada hakekatnya mereka tidak beruntung. Hal itu disebabkan karena orang-orang yang “sukses” itu jauh dari Allah dan agama, dilanda perasaan was-was karena kekayaannya hasil korupsi, hidup dalam kesibukan yang padat tanpa ada waktu untuk beribadah, rawan dengan pemberitaan buruk di media, takut hartanya berkurang, dan lain sebagainya. Intinya, banyak dari mereka yang hidup tidak merdeka, karena dalam kendali dunia, bukan mereka yang mengendalikan hidup.

Ketika Allah menunjukkan rahasia bahwa orang yang beruntung itu adalah orang yang beriman, maka Anda harus menjadi orang beriman untuk meraih kesuksesan yang hakiki. Setelah QS. Al-Mu’minun [23] ayat 1 langsung membuka rahasia syarat kesuksesan, selanjutnya Allah memaparkan dalam ayat-ayat berikutnya (2-11) sebagian ciri-ciri amalan orang yang disebut beriman itu.

Orang yang beriman adalah orang yang khusyuk dalam salatnya. Pengertian khusyuk menurut definisi QS. Al-Baqarah [2] ayat 46, yaitu orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Orang yang beriman adalah orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna.

Orang yang beriman adalah orang yang membayar zakat. Tentunya bagi yang mampu, bukan hanya zakat fitrah yang dimaksud, tapi termasuk zakat harta, penghasilan dan zakat yang lain.

Orang yang beriman adalah orang yang memelihara kemaluannya dari wanita yang haram bagi mereka.

Orang yang beriman adalah orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya.

Orang yang beriman adalah orang yang memelihara salatnya.

Itu adalah enam macam amalan orang beriman di antara banyak amalan lain yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebutkan di dalam Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Pada dasarnya, orang beriman adalah orang-orang yang memenuhi enam rukun iman, yaitu mereka meyakini penuh dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan melaksanakan keimanan itu dengan amal perbuatan.

Keenam rukun iman itu yaitu, iman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, nabi dan rasul Allah, hari kiamat, dan iman kepada qadha (ketetapan) dan qadar (kepastian) Allah.

Ciri-ciri orang beriman juga adalah ketika mereka diseru oleh Allah di dalam Al-Quran, mereka melaksanakannya. Seperti beberapa ayat berikut:

 يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقُولُواْ رَٲعِنَا وَقُولُواْ ٱنظُرۡنَا وَٱسۡمَعُواْ‌ۗ وَلِلۡڪَـٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) raa`ina, tetapi katakanlah unzhurna, dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 104)

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 183)

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ 

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran [3] ayat 102)

Dan banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang menyeru orang-orang yang mau atau merasa beriman.

Pada sisi yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda yang mengungkapkan barometer bagi orang untuk disebut beriman.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. (Bukhari no. 6018, Muslim no. 47)

Dengan demikian, tidak ada kata putus asa atau pasrah bagi seorang Muslim dari mencari kesuksesan hidup, baik dunia maupun akhirat, karena Allah telah menunjukkan jalannya di dalam Al-Quran.

Tugas Anda hanyalah melaksanakan segala amalan-amalan untuk menjadi orang yang beriman sebagaimana yang telah tercatat dalam Al-Quran dan terucap oleh lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

(P001/R01)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)