Taiwan Minta Dukungan Indonesia Ikut Aktif Bangun Sistem Kesehatan Global

Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan, Shih-chung Chen. (Foto: Istimewa)

Taipei, MINA – Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan Shih-chung Chen menyatakan, pengalaman sukses Taiwan dalam memerangi pandemi Covid-19 membuktikan Taiwan memiliki kemampuan untuk berkontribusi pada perawatan kesehatan global dan harus sepenuhnya diikutsertakan dalam berbagai pertemuan, mekanisme dan kegiatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menteri Chen menyerukan Indonesia dan pihak terkait lainnya untuk mendukung penuh masuknya Taiwan ke dalam WHO, sehingga Taiwan dapat berpartisipasi penuh dalam pertemuan, mekanisme dan kegiatan WHO, serta bersama-sama mewujudkan Piagam WHO “Kesehatan Adalah Hak Asasi Manusia” dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa yaitu “Tidak Ada Yang Dikesampingkan”.

“Pandemi COVID-19 sekali lagi membuktikan, Taiwan tidak boleh dikesampingkan dalam jaringan kesehatan global, dan kenyataannya sistem pencegahan (model) Taiwan ini dapat mengekang penyebaran pandemi penyakit menular,” kata Chen dalam keterangan pers TETO yang diterima MINA, Senin (3/5).

Menteri Chen menyatakan,Taiwan pernah diprediksi menjadi salah satu negara yang paling parah terkena dampak pandemi karena kedekatan geografisnya dengan China. Namun, karena Taiwan memiliki pengalaman dalam memerangi SARS pada tahun 2003, sehingga tidak mengabaikan berbagai peringatan yang diterima sejak awal.

Sejak 31 Desember 2019, Taiwan telah sepenuhnya memanfaatkan berbagai informasi untuk memperkuat pengawasan terhadap kemungkinan pandemi, dan secara aktif dan cepat mengadopsi berbagai tindakan pencegahan pandemi.

Pada 22 April 2021, Taiwan hanya memiliki 1.086 kasus yang dikonfirmasi (termasuk 11 kematian), dan kebanyakan masyarakat Taiwan dapat mempertahankan kehidupan dan pekerjaan secara normal. Taiwan telah mencetak rekor tidak ada kasus lokal selama 253 hari berturut-turut dari April hingga Desember 2020, yang membuat dunia terkesan.

Menteri Chen menyebutkan, Taiwan membentuk jaringan pencegahan dan pengobatan penyakit menular nasional setelah epidemi SARS pada 2003. Kini Taiwan memiliki lebih dari 100 rumah sakit terisolasi di seluruh negeri untuk dimasukkan dalam jaringan medis, serta memiliki rumah sakit tanggap darurat utama di masing-masing 22 kabupaten dan kota di Taiwan.

“Fakta membuktikan, mekanisme ini membantu melindungi sistem medis dan tenaga medis dari kelebihan beban, sehingga selama masa pandemi, sebagian besar layanan medis yang bukan COVID-19 dapat beroperasi secara normal tanpa gangguan dari pandemi,” ujarnya.

Sampai saat ini, lanjut Chen, hanya dua kasus terkait pandemi COVID-19 yang berkaitan dengan rumah sakit yang terjadi di Taiwan, kedua kasus tersebut telah dikendalikan secara efektif, dan tidak ada pekerja medis yang meninggal.

Menteri Chen mengatakan, kepercayaan dan kerja sama rakyat Taiwan terhadap pemerintah menjadi faktor utama keberhasilan Taiwan dalam menekan pandemi kali ini.

Pemerintah Taiwan berupaya keras untuk memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang pandemi, dan pada saat yang sama tetap menjaga privasi dan kebebasan pribadi.

Pemerintah juga memberikan perlindungan prioritas kepada komunitas yang kurang beruntung (termasuk pekerja migran). Pemerintah Taiwan sangat menentang pelanggaran hak-hak rakyat, dan tidak pernah membatasi kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berpartisipasi dalam kegiatan publik.

Menteri Chen juga menyebutkan, Taiwan adalah salah satu negara paling sukses di dunia dalam menanggapi pandemi karena sistem medisnya yang baik, strategi pengujian yang ketat, transparansi dan keterbukaan informasi, serta kerja sama antara sektor publik dan swasta.

Dampak ekonomi COVID-19 di Taiwan relatif kecil. Pertumbuhan PDB Taiwan pada tahun 2020 sekitar 3,11%, diantaranya, kuartal keempat tumbuh sebesar 4,94%, sangat kontras dengan resesi ekonomi global. (R/R1/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)