Tatacara Shalat Gerhana

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

Mengingat shalat gerhana, baik bulan maupun matahari, jarang dilakukan, maka barangkali ada yang lupa, atau mengingatkan kembali, berikut tatacara melaksanakannya.

Anjuran shalat gerhana matahari (qusuf) dan gerhana bulan (khusuf), berdasarkan hadits :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا، فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

Artinya: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah sebuah tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak disebabkan kematian seseorang atau kelahirannya. Bila kalian mendapati gerhana, maka lakukanlah shalat dan berdoalah hingga selesai fenomena itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Seruan memulai shalat gerhana antara lain disebutkan di dalm hadits:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ. 

Artinya: Dari ‘Abdullah bin ‘Amru berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka panggilannya dengan seruan, ‘Ashshalaatul jaami’ah’ (Marilah mendirikan shalat secara berjamaah).” (HR Bukhari).

Adapun tatacara shalat gerhana adalah berdasarkan penjelasan dalam hadits yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu ‘Anha :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِالنَّاسِ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ وَهِيَ دُونَ قِرَاءَتِهِ الْأُولَى ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ دُونَ رُكُوعِهِ الْأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ قَامَ فَصَنَعَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَامَ فَقَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُرِيهِمَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ. رواه البخاري

Artinya: Dari ‘Aisyah Radliyallahu ‘Anha, ia berkata: “Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah. Maka beliau berdiri melaksanakan shalat bersama orang banyak. Beliau memanjangkan bacaan, lalu rukuk dengan memanjangkan rukuk. Kemudian mengangkat kepalanya, lalu membaca lagi dengan memanjangkan bacaannya, tapi tidak sebagaimana panjang bacaan yang pertama. Kemudian beliau rukuk lagi dengan memanjangkan rukuk, tapi tidak sepanjang rukuk yang pertama, lalu mengangkat kepalanya kemudian sujud dua kali. Beliau kemudian berdiri kembali dan mengerjakan seperti pada rakaat pertama.” (HR Bukhari).

Berdasarkan hadits tersebut, shalat gerhana terdiri dari dua rakaat, seperti shalat sunah pada umumnya. Namun yang membedakan yaitu pada setiap rakaatnya terdiri dari dua ruku.

Urutan shalat gerhana selengkapnya sebagai berikut, setelah diawali dengan niat karena Allah :

Rakaat Pertama

1. Takbiratul ihram.

2. Membaca doa iftitah, disambung membaca Surat Al-Fatihah, dilanjutkan membaca surat atau ayat-ayat dari Al-Quran dengan bacaan agak panjang.

3. Rukuk agak panjang.

4. Bangkit dari rukuk, membaca lagi Surat Al-Fatihah dan surat atau ayat-ayat dari Al-Quran yang agak panjang, tetapi lebih pendek dari yang pertama.

5. Rukuk lagi, yang dipanjangan tetapi sebih pendek dari rukuk pertama.

6. Berdiri iktidal.

7. Sujud dengan dua sujud seperti biasanya, hanya bacaannya agak panjang.

8. Berdiri untuk melanjutkan rakaat yang kedua.

Rakaat Kedua

Rakaat kedua sama seperti tata cara pada rakaat pertama, yang diakhiri dengan tahiyyat/tasyahhud dan salam.

Setelah selesai menunaikan shalat gerhana ada khutbah yang berisi nasihat kepada kaum Muslimin. Isi khutbah mengingatkan umat Islam untuk memperbanyak istighfar, memohon ampun Allah, memperbanyak dzikir, menganjurkan sedekah dan kebaikan-kebaikan.

Sedangkan waktu shalatnya, para ulama bersepakat yaitu saat terjadinya gerhana. (A/RS2/)

Mi’raj News Agency (MINA)