Terangnya Cahaya Islam di Bumi Cendrawasih

oleh: Widi Kusnadi, wartawan MINA

Bumi Cendrawasih ibarat sempalan tanah surga yang diturunkan Tuhan (Allah) ke bumi sebagai anugerah terindah yang Ia berikan untuk ummat manusia. Limpahan sumber daya alam yang terkandung di dalam tanahnya, kekayaan flora dan fauna yang tiada terkira nilainya, ditambah dengan eksotisme panorama dan pemandangan alamnya, hingga budaya dan tradisinya yang unik dan tidak ditemukan di daerah lain menjadi daya pikat bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Jika kita mendengar tentang Papua (Bumi Cendrawasih), pulau terbesar kedua yang terletak di ujung Timur Indonesia itu, sekilas pikiran kita akan menerawang tentang penduduk asli yang mendiami pulau itu.  Tubuh mereka yang tegap dan kuat, kulit hitam dengan bola mata yang berbinar-binar dikelilingi bulu mata yang lentik, rambut keriting dengan sunggingan senyum yang manis dihiasi deretan gigi yang rapi dan putih bersih. Begitulah ciri khas suku asli Papua yang berintegrasi dengan Indonesia pada 10 September 1969 ditetapkan melalui Undang-Undang nomor 12 tahun 1969 sebagai provinsi ke-26 dari beberapa provinsi di Indonesia. Hasil dari Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) yang disyahkan oleh PBB.

Lantas bagaimana dengan agama yang dianut penduduknya ? Benarkan anggapan sebagian orang bahwa Papua identik dengan Kristen atau Katolik?. Bagaimana sejarah dakwah Islam di bumi Mutiara Timur Indonesia itu?

Awal Islam di Timur Nusantara

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat Ahmad Nausrau menjelaskan, masyarakat Papua Barat sejak dulu sudah beragama Islam. Dia mencontohkan, daerah Raja Ampat, Kaimana, Fakfak, Bintuni, dan Sorong Selatan merupakan wilayah dengan komunitas Muslim.

Menurut Nausrau, berdasarkan catatan sejarah Islam merupakan agama pertama yang masuk ke Papua. “Sebagian besar wilayah Papua Barat merupakan wilayah Kesultanan Ternate sehingga daerah ini penduduknya Muslim karena daerah Kesultanan Ternate,” kata Ahmad.

Nausrau memberi dalil, masuknya dua orang misionaris dari Jerman datang ke Papua pada abad 18, sebenarnya difasilitasi oleh Kesultanan Ternate. Kemudian, mereka datang ke Pulau Mansinam yang ada di Kabuapaten Manokwari. Padahal, Islam sudah masuk ke Papua jauh sebelum itu. Ia menerangkan, sejumlah sejarawan mengatakan, Islam masuk di Papua sekitar abad 14 dan 15. Namun, berdasarkan hasil penelitian LIPI, Islam masuk ke Papua sekitar abad 16 dan 17.

Menurut catatan harian Kompas dalam sebuah artikel yang terbit pada 2003. Pada abad ke-12, beberapa wilayah di Papua sudah mulai tersebar cahaya Islam. Setidaknya terdapat lima kerajaan Islam di sana yakni; Wertuar, Sekar, Petuanan Arguni, Petuanan Pattipi, dan Kerajaan Petuanan Rumbati yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Diperkirakan, kerajaan-kerajaan tersebut muncul bertepatan dengan Islam masuk di Fakfak yang dibawa oleh para pedagang Persia dan Arab. Seperti dikatakan juga oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Fakfak, Mustaghfirin, masyarakat setempat sudah ada kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Sebagai bukti, catatan sejarah Islam di Papua masih berwujud, setidaknya dalam bentuk Masjid Tua Patinburak yang biasa dikunjungi wisatawan.

Warga Papua, Umar Sabuku dan Mangkubumi Kaimana mengungkapkan, Kerajaan Sran Eman Muun diperkirakan berdiri sekitar awal abad ke-12. Sejak berdiri, kerajaan ini sudah tiga kali berpindah pusat pemerintahan dari Weri/Tunas Gain di wilayah Kabupaten Fak-Fak, kemudian berpindah ke Borombouw di Pulau Adi perairan laut Arafuru wilayah Kabupaten Kaimana. Lalu  ibu kota pindah lagi ke daerah yang sekarang menjadi Kampung Sran, Kaimana. Kerajaan Sran Eman Muun inilah yang kemudian terpecah menjadi sejumlah kerajaan kecil di Kaimana hingga Fak-Fak melalui perkawinan keluarga kerajaan seperti pada Kerajaan Namatota di Pulau Namatota Kaimana.

Masuknya Islam pertama kali dibawa oleh Imam Dzikir di Borombouw pada tahun 1405. Penyebaran agama Islam masuk melalui interaksi perdagangan dengan pedagang dari luar Papua seperti dari Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Imam Dzikir kemudian menetap di Pulau Adi dan mengajarkan Islam yang kemudian diterima oleh keluarga kerajaan.

Sementara itu, hubungan orang Papua dengan orang Portugis bisa ditelusuri dari catatan perjalanan Miguel Roxo de Brito, yang menjelajah ke Raja Ampat tahun 1581. Dari catatan De Brito, tampaknya dapat kita simpulkan Raja Waigeo telah memeluk agama Islam. Lihat catatan The Report of Miguel Roxo de Brito in His Voyage in 1581-1582 To the Raja Ampat, the MacClur Gulf and Seram, JHF Sollewijn Gelpke, BKI Vol 150 No: 1 Leiden, 1994. Hubungan orang-orang Papua dengan bangsa Eropa tersebut biasanya sebatas perdagangan.

Namun kontak orang-orang Papua dengan Muslim tidak hanya sebatas perdagangan, tetapi kemudian mereka memberikan dampak perubahan gaya hidup dan peradabannya.

Menurut tradisi lisan lain di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam dan Masjid Rumbati menjadi peninggalannya. Namun informasi lain menyebut Abdul Ghafar datang ke Rumbati tahun 1502 M.

Versi lainnya menyebutkan, masuknya Islam di Papua dibawakan oleh para pedagang dari Bangsa Arab. Versi ini menyebutkan Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Hadramaut, Yaman pada abad ke-16. Hal ini sesuai dengan adanya Masjid Tunasgain yang dibangun sekitar tahun 1587. Informasi lain menyebut Syekh Jubah Biru datang pada tahun 1420 M.

Pendapat lainnya adalah, masuknya Islam di Papua datang melalui Kesultanan Bacan (Maluku). Di Maluku terdapat empat Kesultanan Islam, yaitu, Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah). J.T. Collins, menyebutkan, berdasarkan kajian linguistik, Kesultanan Bacan adalah Kesultanan tertua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Nama Nuu Waar, Papua dan Irian

Ulama Papua yang saat ini menjadi ketua Al Fatih Kaffah Nusantara (AFKN) Ustaz M Zaaf Fadzlan Rabbani Garamatan mengatakan, kata Papua atau Irian sebenarnya tidak disukai oleh penduduk asli bumi Cendrawasih tersebut. Mereka lebih suka menyebut negeri mereka dengan nama Nuu Waar.

Nuu Waar adalah dua kata bahasa Irarutu di kerajaan Kaimana, yakni Nuu Eva. Nuu bermakna sinar, pancaran atau cahaya. Sementara Waar artinya ‘menyimpan rahasia’. Dari bahasa Onim (Patipi) Nuu juga adalah cahaya. Waar artinya perut besar yang keluar dari perut Ibu. Maka nama Nuu Waar artinya negeri yang mengaku menyimpan atau memikul rahasia.

Nama Nuu Waar nama yang berkembang dengan siar islam sejak kehadiraan Samudera Pasai, Raden Fatah pada abad 13 M, Aru Palaka sampai Sultan Tidore pada abad 15 M dengan wilayah Kesultanan dan kekuasaan melalui perdagangan sampai ke Nuu Waar.   Pergantian nama Nuu Waar menjadi Papua dan Irian terjadi sejak 1214 masehi. Kata Papua’ itu sendiri diambil dari beberapa bahasa daerah di Nuu Waar, yang maknanya hitam, keriting, bodoh, jahiliah, jahat, perampok, pemeras, pemerkosa, bahkan lebih sadis dimaknai sebagai suka makan orang.   Makna negatif itulah yang membuat suku asli tidak suka pada kata ‘Papua’.

Namun oleh bangsa Portugis, nama itu terus dikembangkan, sehingga membentuk opini. Upaya tersebut juga bagian dari politik memecah belah warga setempat. Setelah bangsa Portugis tidak lagi menjajah, nama Papua terus dipopulerkan oleh Belanda.

Selain ‘Papua’, kata ‘Irian’ juga tidak begitu disukai penduduk setempat. Kenapa? Kata ‘Irian’ berasal dari beberapa bahasa daerah di Nuu Waar. Kata Mariiyen dari bahasa Biak artinya bumi yang panas, bahasa Onim (Patipi) dari Tiri Abuan arti ‘Irian’ artinya adalah daratan besar. Kata ‘Irian’ atau ‘Urryan’ dalam bahasa Arab juga berarti buruk, yaitu berarti ‘Negeri orang telanjang’. Namun, sejak masa penjajahan Belanda sampai kemerdekaan, kata ‘Urryan’ (baca: Irian) lebih dipergunakan daripada Nuu Waar.

Muslim di Nuu Waar Saat ini

Data Kementerian Agama Provinsi Papua menyebutkan lebih dari 140 masjid tersebar di Jayapura. Umat Islam di Kota Jayapura sendiri jumlahnya lebih dari 29 ribu, 26 persen dari total penduduk. Di kota itu, jumlah populasi umat Islam terbesar di antara wilayah-wilayah lain.

Selain di Jayapura, kota-kota lain seperti Fak-Fak, Sorong, Wamena, Manukwari, Kaimana, Merauke, Timika, Biak dan Merauke, suasana keislaman tampak semakin meriah, khususnya di kalangan pendatang. Selain jumlah rumah ibadah yang semakin bertambah, kegiatan halaqah juga tumbuh tidak kalah subur.

Selain itu, bila kita jalan-jalan di pusat kota Jayapura tidak sulit kita menemui Muslimah berjilbab lalu lalang di antara keramaian. Termasuk di kampus ternama di Papua, Universitas Cenderawasih, di Abepura, para wanita berjilbab juga dengan mudah kita temui. Penduduk Muslim di kota terdiri dari para pedagang, pegawai, pengusaha, pelajar/mahasiswa, guru, atau buruh.

Secara keseluruhan jumlah, komunitas Muslim di Papua mengalami peningkatan yang cukup pesat, utamanya di kota kabupaten atau provinsi.

Sementara itu, Sekretaris Departemen Dakwah dan Pengkajian Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Ustaz Drs. H. Ahmad Yani mengatakan, ternyata 60 persen penduduk di Kabupaten Merauke beragama Islam. Sebagian besar penduduk merupakan pendatang dari Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku yang beragama Islam.

Sementara di Provinsi Papua Barat, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua Barat, Ustaz Ahmad Nausrau mengatakan, kondisi umat Islam di Papua Barat berkembang cukup dinamis. Pertumbuhan umat Islam di Papua Barat juga menunjukan kenaikan. “Informasi dari gubernur mengatakan bahwa di Papua Barat jumlah umat Islam dan Kristiani fifty-fifty (sama banyaknya),

Saat ini Wakil Gubernur Papua Barat adalah seorang yang beragama Islam.

Pendidikan Islam di Nuu Waar

Sejak Irian Jaya berintegrasi ke Indonesia pada 1963, sejak itulah mulai muncul pergerakan dakwah Islam, berbagai institusi dan organisasi keagamaan Islam hadir di Papua seperti; Muhammadiyah, Nahdhalatu Ulama, Dewan Dakwah Islamiyah, Hidayatullah, Persatuan Umum Islam, Pondok Pesantren Karya Pembangunan dan lainnya.

Bersatunya dua ormas terbesar, NU dan Muhammadiyah DI Papua tercermin dengan berdirinya sebuah institusi pendidikan bernama Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) pada 15 Desember 1968.

Keberadaan Yapis ini bukan saja mendapat respon positif dari kalangan Muslim, tapi juga orang tua non-Muslim. Banyak dari mereka yang menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah ini dengan alasan bervariasi antara lain; disiplin yang tinggi dan melarang murid untuk mabuk-mabukkan.

Saat ini, ada ratusan sekolah dan dua Perguruan Tinggi (STIE dan STAIS) di bawah naungan Yapis, yang lokasinya tersebar di Papua dan Papua Barat, termasuk di Wamena, daerah pegunungan di Lembah Baliem.

Selain Yapis, lembaga pendidikan Islam formal yang berdiri di luar misi Departemen Agama yang pertama berdiri yaitu MI An-Nur yang bertempat di Kampung Baru pada tahun 1970 yang diprakarsai oleh KH. Uso dan KH. Nur Hasyim Gandhi serta para tokoh agama lainnya termasuk tokoh agama asli Papua.

Kemudian pada tahun 1980 didirikan lagi pendidikan Islam formal yaitu MI Al-Ma’arif yang didirikan oleh juga kedua tokoh di atas. Kedua pendidikan Islam formal itupun sampai sekarang masih eksis bahkan mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Adapun Perguruan Tinggi Islam yang pertama berdiri di Papua (Sorong) adalah Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) pada tahun 1990.

Dalam waktu yang relatif tidak lama, keinginan peralihan STAI Al-Hikmah Sorong yang berstatus swasta ke Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri berhasil diwujudkan, maka pada tahun 2006 secara resmi peralihan status STAIS Al-Hikmah menjadi STAIN berhasil direalisasikan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 2006, tertanggal 20 Juli 2006.

Jadi sesungguhnya dari dahulu kala, Islam sudah ada di Papua, dengan jumlah ummat yang cukup banyak.  (A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)