Tiga Perkara yang  Allah Ridhai dan Allah Murkai

Oleh : Mustofa Kamal, Pendakwah Medsos, Alumni Tarbiyah Wustho Lampung.

 

Dlam sebuah hadits disebutkan, ada tiga perkara yang Allah ridhai dan tiga perkara yang Allah murkai. Sebagai orang-orang Mukmin tentunya kita harus memilih tiga perkara yang diridhai-Nya dan menjauhi yang dimurkai-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

 إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثًا يَرْضَىلَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِاللَّهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ ولاَّهُ اللَّهُ أَمْرَكُمْوَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah itu ridha kepada kamu pada tiga perkara dan benci kepada tiga perkara. Adapun (tiga perkara) yang menjadikan Allah ridha kepada kamu adalah: 1) Hendaklah kamu memperibadati-Nya dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, 2) Hendaklah kamu berpegang-teguh dengan tali Allah seraya berJama’ah dan janganlah kamu berfirqah-firqah, 3) Hendaklah kamu senantiasa menasihati kepada seseorang yang Allah telah menyerahkan kepemimpinan kepadanya dalam urusanmu. Dan Allah murka kepadamu tiga perkara; 1) Dikatakan mengatakan (mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya), 2) Menghambur-hamburkan harta benda, 3) Banyak bertanya (yang tidak berfaidah).” (HR Ahmad, Musnad Imam Ahmad dalam Musnad Abu Hurairah, Muslim, Shahih Muslim: II/6. Lafadz Ahmad)

Berdasarkan hadits tersebut, tiga perkara yang Allah ridhai, terdiri dari :

Pertama, memperibadati Allah dengan tidak menyekutukan-Nya (ta’abud).

Ta’bud bermakna memperibadati Allah atau menyembah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah telah berfirman dalam ayat-ayat-Nya di antaranya ayat berikut ini :

Firman Allah :

رَّبُّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَٱعْبُدْهُ وَٱصْطَبِرْ لِعِبَـٰدَتِهِۦ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُۥ سَمِيًّۭا

Artinya: “Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS Maryam [19] : 65).

Firman Allah pada ayat lainnya :

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51] : 56).

Kebalikan dari ta’abud adalah syirik (menyekutukan), berlaku syirik artinya menyekutukan Allah dalam beribadah atau mengabdikan diri bukan kepada Allah, juga mengadakan tandingan (andaad)  dalam menyembah Allah.

Sebagaimana ayat-ayat di bawah ini :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَـٰنَهُمْ أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَـٰهًۭا وَٰحِدًۭا ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At-Taubah [9] : 31).

Firman Allah pada ayat lainnya :

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَـٰذِبٌۭ كَفَّارٌۭ

Artinya: “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS Az-Zumar [39] : 3).

Kedua, berpegang teguh pada Agama Allah (i’tashim bihablillah)

I’tashim bihablillah bermakna berpegang teguh kepada tali agama Allah. Tali agama Allah ada yang menafsirkan yakni Al-Qur’an, juga ada yang menafsirkan sebagai janji Allah yakni janji dan jaminan.

Namun bila kembali kepada hadits di atas dan juga kita tadaburi kembali Quran Surat Ali-Imran ayat 103, maka akan kita dapati maknanya bahwa hablillah yaitu “Al-Jama’ah.”

Ini sebagaimana juga dikatakan oleh Abdillah ibnu mas’ud “Bahwa hablillah yakni Al-Jama’ah, yang di maksud tali Allah yaitu Jama’ah”. (Tafsir ath-Thabary dan Tafsir Al-Qurthuby).

Dalam ayat tersebut ada perintah Allah agar supaya orang-orang Mukmin berjama’ah (bersatu padu) dan meninggalkan perpecahan.

Yakni yang dikehendaki oleh Allah orang-orang yang beriman menjadi bersaudara, Allafa baina qulubuhum (hati-hati mereka terpaut /jinak satu sama yang lain) dan mereka bersatu padu. Karena dengan perpecahan akan mendapatkan kehancuran  dan dengan persatuan akan mendapat kemenangan (pertolongan dan kemenangan dari Allah).

Ketiga, saling memberika nasihat (tunasihu)

Tunasihu bermakna saling memberikan nasihat. Sesama mukmin hendaklah saling memberikan nasihat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, “Addinun nasihatan, agama itu berisikan nasahat”.

Saling memberikan nasehat sebagai wujud amar ma’ruf nahi mungkar bisa dilakukan melalui pengajian-pengajian rutin, tabligh akbar,  atau juga secara pribadi dengan cara silaturahmi.

Saling memberi nasihat bisa terjadi antar makmum dengan makmum, atau pemimpin kepada makmum, dan makmum kepada pemimpin. Semua itu demi melaksanakan syariat Allah. Allah telah memberikan informasi agar selalu beruntung, maka jangan tinggalkan saling memberikan nasehat.

Seperti Firman Allah yang menyebutkan:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-Asr [103] : 1-3).

Adapun hal-hal yang Allah murkai atau benci juga ada tiga hal, meliputi :

Pertama, banyak bicara tak manfaat (qila wa qola)

Qila wa qola bermakna banyak bicara yang tidak menimbulkan faidah atau banyak bicara namum tidak membuahkan pahala. Bahkan qila wa qola akan membuahkan berakibat dosa, sebagai contoh penyebar berita hoax, memfitnah dll.

Tidak cek and ricek, dan bila berkaitan dengan muamalah ibadah juga tidak farudduhu ilallahi wa Rasuluhi (kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. QS An-Nisa 59).

Kedua, menghambur-hamburkan harta (idza’atal mal)

Idza’atal mal  bermakna terbiasa menghambur-hamburkan harta, tidak menggunakan hartanya untuk infak dan jihad di jalan Allah. Namun justru hartanya digunakan untuk berfoya-foya dengan kehidupan dunia (mencari kesenangan dunia). Padahal sesungguhnya dunia ini adalah fatamorgana, hakikat dunia ini tandus, kering, hampa dan gersang.

Hanya kehidupan akhiratlah yang abadi dan keindahan syurga yang teramat dan tidak bisa kita bayangkan. Namun kita meyakininya dan berharap menjadi penghuninya.

Allah mengngatkan kita di dalam ayat:

….وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: “….dan tidaklah kehidupan dunia ini hanya kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali-Imran [3]: 185).

Firman Allah pada ayat lain:

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۘ وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍۢ

Artinya: “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS Al-Baqarah [2] : 212).

Firman Allah pada ayat lain mengatakan:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَعْمَـٰلُهُمْ كَسَرَابٍۭ بِقِيعَةٍۢ يَحْسَبُهُ ٱلظَّمْـَٔانُ مَآءً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًۭٔا وَوَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلْحِسَابِ

Artinya: “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS An-Nuur [24] : 39)

Ketiga, banyak bertanya (katsratus su’al)

Katsratus su’al bermakna banyak bertanya. Setelah sampai kepada kita informasi kebenaran dari ayat-ayat Allah dan juga hadits-hadits Rasul, masih banyak keragu-raguan. Sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan dalam hati ataupun juga terlahirkan atau bisa dikatakan tidak yaqin dengan yang haq.

Padahal Allah telah berfirman :

ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ

Artinya: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS Al-Baqarah [2] : 147).

Firman Allah menyebutkan :

ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْمُمْتَرِينَ

Artinya: “(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS Ali-Imran [3] : 60).

Pada ayat lain dikatakan:

فَإِن كُنتَ فِى شَكٍّۢ مِّمَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ فَسْـَٔلِ ٱلَّذِينَ يَقْرَءُونَ ٱلْكِتَـٰبَ مِن قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَآءَكَ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلْمُمْتَرِينَ

Artinya: “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS Yunus [10] : 94).

Kasratu tsual bisa jadi layaknya seperti perilaku orang-orang Bani Israil yang banyak bertanya. Namun setelah tahu jawabanya dari Allah dating, terus tetap bertanya penuh keraguan. Bahkan tidak melaksanakannya. (QS Al-Baqarah : 67-71).

Demikianlah tiga hal yang Allah ridhai dan tiga hal yang Allah murkai sebagai pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari.

Semoga kita semua menjadi hamba-hamba-Nya yang mendapat Ridha dari Allah dan jauh dari murka-Nya. Aamiin. (A/mus/RS2/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)