Trauma Mental Pengungsi Irak

Ilustrasi: wanita Irak. (Foto: Laura Cappon)

Ketika kelompok Islamic State (ISIS) menguasai Mosul Timur pada tahun 2014, Fatima baru berusia 11 tahun. Ketika itu, ibunya membawa ia keluar dari sekolah, karena menurutnya di bawah peraturan ISIS, satu-satunya hal yang diajarkan adalah bagaimana membunuh orang kafir.

Desember 2016, Fatima melarikan diri dari kota Irak terbesar kedua itu bersama keluarganya. Mereka sekarang tinggal di kamp pengungsi Hassan Sham, 40 kilometer sebelah timur Mosul.

Ayahnya dipukuli habis-habisan saat mereka mencoba melarikan diri dari Mosul. Saat itu ISIS baru saja memenggal 30 orang. ISIS mencoba menghentikan semua orang yang ingin meninggalkan kota.

Sekarang, Fatima menjalani hidup tanpa harapan. Ia merasa mimpi-mimpi dan masa depannya telah hancur.

Sisa Luka yang Membekas

Fatima, adalah satu di antara 10.200 orang pengungsi internal yang tinggal di kamp Hassan Sham. Dalam kamp itu, Fatima dan pengungsi lainnya hidup dengan luka psikologis yang abadi dalam kehidupan sehari-hari di bawah peraturan ISIS.

Sekarang, dia mendapat bantuan dari Program Dukungan Psikososial Kesehatan Mental yang dijalankan oleh Organisasi Internsional untuk Migrasi (IOM).

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, di antara 838.950 orang yang mengungsi saat pertempuran Mosul, sekitar 80 persen menderita trauma psikologis, dengan 15-20 persen melaporkan gejala ringan atau sedang dan gejala parah 3-4 persen.

Pengungsi Irak. (Foto: dok. New America Media)

Menurut Abdulhalim Hasan, seorang psikiater Suriah yang bekerja di IOM,  gejala utama yang dihadapi para pengungsi adalah depresi dan reaksi psikosomatik seperti tidak bisa tidur. Para wanita cenderung rambutnya rontok atau kehilangan kemampuan menyusui anak-anak mereka.

Kerabat orang-orang yang bergabung atau bekerja sama dengan ISIS sering menunjukkan rasa mendendam.

Dr Hasan berasal dari Damaskus. Sebelum dia dan keluarganya melarikan diri dari ibu kota Suriah, dia adalah seorang psikiater di sebuah pusat kesehatan mental di Douma, 10 kilometer timur laut Damaskus. Mereka menuju ke utara Suriah, dari sana ia ke Turki. Keluarganya akhirnya menetap di Yordania.

Putrinya menderita trauma akibat serangan mortir di sekolahnya. Lima teman sekelas anaknya terbunuh.

“Mereka yang telah menderita penyiksaan atau tinggal bertahun-tahun di bawah kelompok ISIS, berada dalam masa transisi dan mereka berjuang untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru mereka,” kata Dr Hasan.

Menurutnya, situasi sangat sensitif, terutama untuk wanita dan anak-anak. Anak-anak bertanya kepada orang tua mereka. Mengapa mereka tidak memiliki rumah lagi? Mengapa beberapa saudara mereka meninggal?

“Sebagian orang mengira mereka telah dihukum oleh Tuhan, atau percaya bahwa perang tersebut terjadi karena mereka tidak mematuhi ibu mereka,” kata Dr Hasan.

Wanita Wajib Tertutup Saat Keluar Rumah

Lina adalah seorang ibu berusia 40 tahun yang memiliki 14 anak. Dia meninggalkan rumah yang hancur di Mosul dan makam suaminya yang meninggal karena kanker.

Ia mengisahkan bahwa mereka tidak memiliki makanan di Mosul, bahkan mereka tidak bisa keluar rumah. Di bawah ISIS, banyak yang dilarang. ISIS mewajibkan wanita harus benar-benar tertutup.

Selain Lina, banyak bekas penghuni kota Mosul berbagi kisah pemaksaan dan kebrutalan yang sama di bawah pemerintahan ISIS.

“Itu adalah pengalaman yang sangat sulit, semuanya dilarang, televisi, telepon seluler, yang melanggar peraturan didenda atau dipukuli,” kata Zeina (30), pengungsi dari Mosul Timur.

Ketika masih di Mosul, Zeina hanya tinggal di rumah karena jika ia ingin pergi keluar, ia harus menutupi diri sepenuhnya. Bahkan untuk memperlihatkan wajahnya ia dilarang.

Lina dan Zeina sekarang tinggal di sebuah kamp yang menampung 10.000 orang yang kehilangan tempat tinggal di Chamakor, 20 kilometer di sebelah timur Mosul. Mereka juga menerima bantuan dari Program Dukungan Psikososial Kesehatan Mental dari IOM.

Tekanan Pascatrauma

Selain syok karena hidup di bawah pemerintahan ISIS, warga Mosul masih menderita stres akibat pertempuran dan pengeboman selama pertempuran untuk pembebasan kota itu dari ISIS.

“Saya ingat serangan pesawat terbang yang spesifik,” kata remaja bernama Ahmed. “Itu brutal, saya ingat merasa tercekik di dalam kamar tempat saya berada. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah memegangi kepala saya di antara kedua kaki saya.”

Bersama teman-temannya, Ahmed menghadiri pertemuan kelompok psikologi. Menurut para dokter, bagi remaja, pendekatan kolektif ini adalah kunci penyembuhan paling efisien untuk penyerapan kejutan.

Setelah pembebasan Mosul, negara ini menghadapi masa depan yang tidak menentu. (A/RI-1/RS3)

Sumber: tulisan Laura Cappon,  jurnalis pemenang penghargaan yang meliput berita di seluruh dunia, termasuk di Italia, Tunisia dan Mesir.

 

Mi’raj News Agency (MINA)