Turki Tuduh Israel Jual 10 Drone Rusak

Ankara, MINA – Menteri Pertahanan Turki Nurettin Canikli menuduh Israel menjual 10 pesawat tanpa awak (drone) yang rusak di Ankara dalam kesepakatan tahun 2005 yang mempengaruhi operasi militer negara itu terhadap milisi Kurdi di Irak.

Canikli membuat pernyataan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Turki Yeni Şafak yang dilaporkan Middle East Monitor (MEMO), Selasa (26/6).

Ia mengacu pada sepuluh model Pesawat Terbang Tanpa Awak (UAV) Heron yang dijual oleh Israel Aerospace Industries (IAI) ke Turki sebagai bagian dari kesepakatan senilai AS $ 190 juta yang ditandatangani pada tahun 2005.

Kesepakatan ini sudah menjadi masalah yang kontroversial, karena Turki pada awalnya menuduh Israel gagal menyediakan suku cadang di samping peralatan tersebut.

Pada 2008, Turki membekukan kesepakatan itu sebagai protes atas  pemboman Israel di Jalur Gaza. Drone akhirnya dikirim ke Ankara pada tahun 2010.

“Kami membayar banyak dolar untuk mereka, tetapi kami tidak pernah dapat menggunakannya secara efektif,” kata Canikli.

“Mereka [Israel] melakukannya dengan sengaja, sehingga kami tidak bisa menggunakannya. Insinyur Israel menyabotase sistem intelijen drone. Setelah itu kami menyadari bahwa kami mengebom batu dan sebagian besar target terlewat,” tambahnya.

IAI merilis sebuah pernyataan yang menyangkal tuduhan, menyebut pernyataan mereka sebagai “khayalan dan tidak harus direspon”.

Meskipun Israel dan Turki telah mengadakan hubungan formal sejak 1949, hubungan baru-baru ini telah tegang.

Turki bersikap kritis terhadap tindakan Israel di Gaza selama perang 2008 dan ketegangan mencapai titik terendah baru setelah insiden Mavi Marmara 2010, di mana sepuluh aktivis Turki tewas ketika mengambil bagian dalam konvoi kemanusiaan yang bertujuan untuk mengakhiri blokade ilegal Jalur Gaza.

Turki juga terus-menerus mendukung perjuangan Palestina, sehingga Palestina menyambut hangat terpilihnya kembali Erdogan sebagai Presiden Turki beberaoa hari yang lalu. (T/R01/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)