UNICEF: Tragedi Gaza adalah Perang Melawan Anak-Anak

Juru bicara Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) James Elder menggambarkan apa yang terjadi di Jalur Gaza sebagai perang melawan anak-anak, dan Palestina bukan lagi tempat yang cocok untuk anak-anak saat ini. (Photo: PIC)

Istanbul, MINA – Juru bicara Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) James Elder menggambarkan apa yang terjadi di Jalur Gaza sebagai perang melawan anak-anak, dan Palestina bukan lagi tempat yang cocok untuk anak-anak saat ini.

Elder, yang mengunjungi Jalur Gaza dua kali sejak perang dimulai pada 7 Oktober lalu, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Anadolu Agency, (23/3), Anak-anak adalah yang paling terkena dampak (di Gaza), dan UNICEF menggambarkan apa yang terjadi di sana sebagai perang terhadap anak-anak itu sendiri.

“Biasanya dalam semua krisis, perang merugikan kelompok yang paling rentan, yaitu anak-anak, dan anak-anak seringkali menyumbang sekitar 20 persen dari jumlah korban jiwa, namun di Gaza jumlah ini mendekati 40 persen, karena lebih dari 10.000 anak telah terbunuh (sejak awal perang) dan jumlahnya terus bertambah,” terang James Elder.

Baca Juga:  Indonesia Siap Tempur di ASEAN U-16 Boys Championship 2024

Dia menunjukkan, anak-anak di Gaza menghadapi banyak tekanan psikologis, dan menekankan bahwa satu-satunya cara untuk mengobati mereka adalah dengan mencapai gencatan senjata.

“Anak-anak di Gaza akan terus tinggal di zona perang sampai gencatan senjata tercapai, karena Jalur Gaza tidak lagi menjadi tempat yang cocok bagi anak-anak untuk tinggal meskipun terdapat lebih dari satu juta anak di dalamnya,” lanjutnya.

Sejak tanggal 7 Oktober, Israel telah melancarkan perang dahsyat di Jalur Gaza, menyebabkan puluhan ribu korban, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan perempuan, bencana kemanusiaan dan kehancuran besar-besaran infrastruktur dan properti, yang menyebabkan Israel dibawa ke hadapan pengadilan Internasional atas tuduhan melakukan genosida.

Baca Juga:  Juara Dunia UFC, Islam Makhachev Tunaikan Ibadah Haji

Dalam hal ini, Elder menunjukkan bahwa ada banyak keputusasaan di Jalur Gaza.

“Orang-orang sangat lelah, banyak orang kelaparan, dan masih ada ketakutan besar bahwa ide gila untuk meluncurkan sebuah serangan militer (serangan darat) terhadap kota Rafah akan menjadi kenyataan,” tambahnya.

Israel telah berulang kali mengancam akan memulai operasi militer darat di kota Rafah, yang berdekatan dengan perbatasan Mesir, untuk mencapai tujuannya menghilangkan Hamas, meskipun ada peringatan regional dan internasional selama berminggu-minggu tentang dampak dari kemungkinan invasi ke Rafah mengingat kehadiran sekitar 1,4 juta pengungsi di kota tersebut, yang diduga didorong ke sana oleh tentara Israel. Kota tersebut aman, namun kemudian dilakukan penggerebekan terhadap kota tersebut yang mengakibatkan kematian dan cedera.

Baca Juga:  Israel Tangkap 20 Warga Palestina di Tepi Barat 

Selain operasi militer yang merenggut nyawa ratusan ribu warga Palestina di Jalur Gaza dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur utama di Jalur Palestina, Israel membatasi akses kemanusiaan. Hal ini menyebabkan kelangkaan pasokan makanan, obat-obatan dan bahan bakar serta menciptakan kelaparan yang merenggut nyawa anak-anak dan orang tua di Jalur Gaza, yang telah dikepung oleh Israel selama 17 tahun. (T/R12/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Habib Hizbullah

Editor: Widi Kusnadi