Universitas Columbia AS Jadi Wajah Baru Intifada Intelektual

Gambar: polisi NYPD AS menangkap mahasiswa Universita Columbia yang melakukan aksi damai pro-Palestina. (Gambar: Hady Dbouq/Al-Mayadeen English)

Oleh: Rachel Hamdoun

Mahasiswa selamanya menjadi wajah revolusi muda. Namun, kini mereka menjadi lebih lantang, tak kenal takut, dan lebih berani.

Universitas-universitas di seluruh Amerika Serikat telah menyaksikan meningkatnya gerakan di kampus-kampus oleh para mahasiswa yang memprotes perang yang dilancarkan oleh Israel di Gaza, Palestina, dan itu didukung oleh AS.

Gerakan ini bukanlah hal yang baru. Gerakan ini terlahir kembali dengan tujuan yang telah dicatat dalam buku-buku sejarah dan kemudian digali oleh mereka yang menjalaninya.

Mahasiswa Amerika Serikat, dari semua etnis dan latar belakang, menghidupkan kembali aktivisme hak asasi manusia, yang dimulai sejak gerakan hak-hak sipil pada tahun 1960-an, yang memengaruhi gerakan antiperang yang dipicu selama Perang Amerika melawan Vietnam.

Perkemahan Solidaritas Gaza di Universitas Columbia, yang memicu efek domino protes pro-Palestina di universitas-universitas di seluruh Amerika, lebih dari sekedar gelombang kegaduhan terhadap dukungan militer dan keuangan pemerintah AS terhadap genosida Israel di Gaza. Hal ini mewakili seruan untuk bertindak yang melawan suara kekuasaan, yang pada gilirannya memberikan suara perlawanan terhadap ketidakadilan.

Namun, efek dominonya membuat pemerintah AS menjadi panik. Mengapa?

Kompleks tapi sederhananya, aktivisme mahasiswa kembali muncul, melalui pembangkangan sipil dan protes damai, untuk menantang sistem imperialis yang menggunakan institusi akademis sebagai alat kontrol sosial untuk menegakkan ideologinya dan menyembunyikan kegagalannya dalam sejarah dan masa kini.

Baca Juga:  Survei: 74 persen Guru Honorer Gajinya Kecil, Ada yang Dibawah Rp500

Dan “terbangun” adalah semacam momok bagi pemerintah, karena istilah itu sendiri menantang pemerintah dan terlihat seperti sebuah kematian.

‘Dengan segala cara yang diperlukan’ dan secara damai

Demonstrasi mahasiswa, betapapun damainya demonstrasi tersebut, selalu menjadi tantangan bagi pemerintah sejak protes tahun 1968 di Columbia menentang perang di Vietnam. Universitas-universitas lain seperti Universitas Michigan dan NYU juga mengikuti langkah tersebut, dan dengan demikian gerakan antiperang mendapatkan daya tarik dan perhatian dari generasi muda Amerika.

Pada pekan lalu, kampus Morningside di Columbia telah menjadi panggung Perkemahan Solidaritas Gaza di mana tenda-tenda telah didirikan oleh para mahasiswa, menampung poster-poster yang menyerukan diakhirinya blokade dan genosida di Gaza yang didorong oleh sekutu Barat.

Perkemahan di lokasi tersebut merupakan tempat berbagai bentuk protes seperti pengajaran (yang dimulai pada protes Vietnam tahun 1960-an), tarian, dan pembacaan puisi, sementara mahasiswa lain terlihat menyelesaikan tugas dan melukis.

Lalu terjadilah tindakan keras yang dilakukan oleh pihak berewajib di New York, NYPD. Bayangkan ini: Amerika mempunyai masalah, alih-alih menggunakan cara untuk menyelesaikan masalah, siapa yang akan mereka hubungi? Polisi.

Baca Juga:  AWG Lampung Gelar Nobar Film Gaza Penakluk Israel

Mahasiswa Columbia, selama protes damai mereka, telah menyerukan divestasi penuh universitas tersebut dari hubungan dengan Israel dan entitas bisnis pendudukan.

Namun, dalam kejadian yang mengejutkan, Kepala NYPD John Chell mengungkapkan bahwa Rektor Universitas Nemat “Minouche” Shafik (keturunan Mesir) yang menelepon polisi setelah menyebut demonstrasi tersebut sebagai “bahaya yang jelas dan nyata.”

“Sebagai gambaran, mahasiswa yang ditangkap bersikap damai, tidak melakukan perlawanan apa pun, dan menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan dengan cara damai,” ujarnya.

Mari kita kembali ke 235 tahun yang lalu, saat pembentukan Konstitusi AS, khususnya Amandemen Pertama, yang menyatakan bahwa “Kongres tidak boleh membuat undang-undang… yang membatasi kebebasan berpendapat, atau pers; atau hak masyarakat untuk mendapatkan kebebasan berpendapat secara damai, berkumpul, dan mengajukan petisi kepada pemerintah untuk penyelesaian keluhan.”

Jadi, alih-alih memenuhi tuntutan mahasiswanya, pihak administrasi universitas justru menuruti tuntutan para donor dan afiliasi politiknya. Untuk mengambil tindakan dari sisi hukum, universitas dapat dituntut karena melanggar Amandemen Pertama, yang memberikan mahasiswa hak alami untuk berekspresi dan melakukan advokasi terhadap kebijakan pemerintah AS secara bebas.

Baca Juga:  Lebih dari 800 Ribu Warga Rafah Mengungsi dalam Kondisi Sulit

Shafik, Rektor Universitas Columbia, menghadapi seruan dari mahasiswa, anggota fakultas, dan bahkan anggota parlemen untuk mengundurkan diri atau menghadapi kecaman atas keputusannya untuk menelepon NYPD dan menangkap lebih dari 150 mahasiswa karena menggunakan hak kebebasan berpendapat mereka.

Inilah bagian lucu dari keseluruhan peristiwa ini: Pihak berwenang, baik polisi atau akademisi, telah mempersenjatai anti-semitisme, dengan mengeklaim perilaku “mengintimidasi” dari para mahasiswa. Lagi pula, menyatakan sikap anti-semitisme adalah permainan yang dilakukan oleh AS secara profesional.

Apakah Anda ingin bersuara menentang pemerkosaan terhadap perempuan di Gaza yang dilakukan pasukan Israel? Anda anti-semit. Apakah Anda menentang pemblokiran bantuan oleh Israel ke Gaza? Anda anti-semit. Apakah Anda mengatakan bahwa Anda seorang pembela hak asasi manusia yang anti-Zionis? Saya rasa ini juga membuat Anda anti-semit, menurut standar AS.

Kampus universitas atau perguruan tinggi mewakili ruang untuk kebebasan belajar, mengadvokasinya, dan oleh karena itu mereka menggunakan ruang tersebut untuk mendidik masyarakat.

Pelajar di seluruh Amerika sedang menulis ulang sejarah, sama seperti yang terjadi beberapa dekade lalu. Para pelajar ini menulis ulang sejarah untuk melepaskan diri dari retorika kolonial melalui pena dan suara mereka. Alih-alih di medan pertempuran, mereka berjuang untuk pembebasan Gaza di kampus-kampus mereka. []

Sumber: Al-Mayadeen

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rudi Hendrik

Editor: Widi Kusnadi